Monday, December 30, 2013

Jangan Salahkan Lima Sentimeter

Kalian para penggiat alam pasti sudah tidak asing dengan salah satu karya Donny Dirgantoro, ya "5cm". Tahun lalu saya membaca karyanya dan membuat saya penasaran tentang kegiatan pendakian. Apa iya kita bisa mengenali diri kita sendiri disana? Apa iya kita bisa belajar makna kehidupan disana? Apa iya kita bisa lebih baik disana? Hati saya tergerak untuk membuktikannya. Dan tak lama setelah saya membaca karyanya, novel itu difilmkan. Filmnya cukup bagus, tidak ada unsur kekerasan, pembodohan, dan vulgar dalam film itu. Walaupun banyak cerita penting di novel yg tidak diangkat ke filmnya. Tapi film ini lebih baik dari film indonesia lain yg sedang gencar memproduksi film horror-vulgar waktu itu.

Ternyata saya tidak sendiri, ada sahabat sekaligus rekan kerja saya yang juga tergerak hatinya setelah menikmati 5cm. Saya membaca semua informasi tentang Semeru dari media elektronik, saya membaca tentang prosedur pendakian. Ya, saya tahu rencana ini tidak sembarangan bisa dijalankan. Akhirnya saya membuat rencana ini untuk tahun depan, Juni 2013.

Tidak sengaja saya menemukan acara pendakian masal ke Gunung Guntur. Guntur sekarang menjadi nomer satu gunung paling aktif di Indonesia, Merapi ada diurutan nomer 3 berdasarkan aktivitasnya. Tapi waktu saya kesana di bulan Februari, Guntur masih "tertidur" dari tidur panjangnya selama puluhan tahun. Baca tentang catper saya di Guntur ya -> http://gustyaindracahyadi.blogspot.com/2013/12/selalu-ada-yang-pertama-untuk-segalanya.html

Saya belajar banyak dari perjalanan saya di Guntur, gunung yang katanya mirip dengan Semeru dari segi trek pasirnya. Disana saya bertemu anak kecil yg ikut pendakian. Dia shalat ashar di pinggir trek waktu hujan lebat bersama ibu dan peserta penmas yg menjadi imamnya. Saya yg memang waktu itu sering melalaikan kewajiban saya sebagai muslim merasa tertampar hatinya. Seorang anak kecil, disaat hujan lebat, dipinggir jalur yg curam, beralaskan bebatuan, dia khusuk mendirikan shalatnya. Mulai dari situ saya berjanji tidak akan lalai mendirikan shalat saya. Dan sampai sekarang Alhamdulillah saya bisa menjaga shalat saya. Benar, sekarang saya percaya kita bisa mendapat pembelajaran banyak dari alam. Sejak saat itu, saya terus meneruskan perjalanan saya bersama sahabat saya. Saya melanjutkan perjalanan saya ke Gunung Gede, Sawarna, Gunung Munara, Gunung Salak, dan banyak dapat pelajaran dari setiap perjalanan-perjalanan saya. Saya bertemu teman-teman dari Trashbag Community, komunitas nonformal yg condong membagikan pesan moril untuk menjaga daerah konservasi, khususnya gunung.

Dan akhirnya bersama sahabat saya, saya berangkat ke Semeru. Destinasi yg sudah lama saya impikan. Juni 2013. Saya berangkat dengan beberapa pengalaman saya yg mungkin belum mencukupi ini. Dengan peralatan sederhana tapi buat kami semuanya sudah cukup lengkap dan safety. Saya tidak membuang sampah sedikitpun walau cuma seujung kuku, saya mengumpulkan botol dan kaleng bekas di kalimati, saya rangkai dan saya lilitkan ditubuh saya. Tidak peduli banyak orang yg melihat saya dengan tatapan-tatapan berbeda arti. Dengan coverbag saya yg bertuliskan "GUNUNG BUKAN TEMPAT SAMPAH", saya hanya mencoba memberikan pesan moril kepada pendaki lain. Memang saya tidak membawa semua sampah yg tertumpuk di kalimati waktu itu, karna saya memang tidak mampu untuk membawa semua sampahnya bersama sahabat saya. Saya hanya berdoa semoga pesan saya tersampaikan pada pendaki lain. Ya, Alam ini akan terjaga kelestariannya oleh kita semua. Jangan andalkan "mereka", andalkan "kita" disini.

Tidak saya pungkiri saya termasuk pendaki yg diilhami oleh 5cm. "Selalu ada yg pertama untuk segalanya" kan? Setiap pendaki pasti punya alasan mengapa ingin mencoba mendaki. Entah tergerak hatinya karna ajakan teman, ajakan orangtua, pengaruh media, atau apapun. 5cm-lah yg mengantarkan saya dalam memulai perjalanan-perjalanan saya sampai saat ini. Diantara mereka (pendaki korban 5cm) yg "belum" mengerti, ada kami disini yg tetap menghormati ciptaan-Nya. Karna setiap pendaki dipengalaman pertamanya pasti juga belum tahu banyak. Saling mengingatkan lebih baik daripada saling menyalahkan. Dan melakukan satu tindakan lebih berharga daripada memberikan seribu ucapan. Jangan salahkan 5cm lagi.

Guntur: Selalu Ada Yang Pertama Untuk Segalanya

Kemang, 31 Januari 2013
              Enday duduk menyamping di atas motor satria biru-putihnya, kedua kakinya yang panjang menyanggah tubuhnya yg kurus, tinggi badannya sekitar 175 cm ke atas, rambut ikalnya yang sedikit gondrong sesekali melambai tertiup angin, pipinya yang tirus bergerak perlahan  menyantap somaynya di pinggir jalan bilangan Kemang. Cowok berumur 20 tahun itu melirik ke jam tangannya sambil mengunyah somaynya. Jam menunjukkan pukul 16.30, dia menghabiskan somaynya dan menyodorkan lima ribuan ke pria paruh baya dengan topi dan handuk kecil yang menggantung di lehernya, “makasih ya Pak!”. Enday merogo kantong kanan celana jeansnya, mengeluarkan samsung galaxy-nya dan mengetik sms…

Bang amoy, gue di depan gang yaa, deket tukang somay. Kira2 sampe sini jam brp?

SEND.

 Tak lama kemudian suara angry bird yang habis dilempar dari ketapel berbunyi dari hapenya, New Message Bang_Amoy

TuNgguU BrOo, skiTarr 15 meNit lg gw saMpeee…

Tulisannya gede-kecil, alay…

17.40
              “Kampret, bilang 15 menit sampe, udah sejam lebih gue nunggu belom nongol-nongol juga tu orang!”, batin Enday. Enday yang masih duduk di atas motor satrianya menatap kosong jalanan Kemang yang sore itu lumayan lancar. Tak lama kemudian cowok sekitar umur 30 yang memakai setelan khas orang kantoran dengan motor Thunder hitam menghampirinya, menjulurkan tangan kanannya, kulit tangannya terlihat gelap, mereka berdua bersalaman ala komentator sepak bola. “Ayo ikut gue bro”, ajak cowok itu ke dalam gang, yang ternyata adalah Amoy. “Dateng juga ni manusia kampret”, batin Enday.

Basecamp Kemang Adventure, 17.45
              Sebenarnya ini rumah biasa dengan 2 lantai, hanya saja di depannya terpampang spanduk Kemang Adventure dengan latar panorama Bromo-Pananjakan-Semeru. Mereka berdua masuk, duduk di sofa. Enday menerawang isi rumahnya, dindingnya penuh dengan bingkai-bingkai foto bergambar orang yang baru ditemuinya dengan berbagai latar. Bromo, Krakatau, Rinjani, banyak.

“Eh sorry tadi siapa nama lo?”

“Enday bang”

            Mereka berdua memang baru kenal, sebelumnya mereka saling kenal di facebook ketika Enday menemukan iklan yang ber-tagline “Guntur Smart Race” atau bisa disingkat GSR atau GeSeR, iklan tersebut di posting oleh Mad Speed, nama facebooknya si Amoy. Alay…
Enday memang sedang berkeinginan mendaki gunung, padahal dia sama sekali belum pernah mendaki gunung. Tidak tau karna apa, otaknya ter-sugesti secara tidak langsung dari novel sekaligus film 5 cm yang baru ia nikmati, cerita dari temannya yg suka mendaki, foto pemandangan alam yang ia lihat di google, sering mendengar soundtrack Ninja Hatori yang sering didendangkan adiknya, banyak yg mensugestinya. Enday benar-benar ingin mendaki gunung.

“Nih gue tunjukkin foto-foto gue kemaren pas cek TKP”, ucap Amoy dengan wajah sendunya sambil menyalakan kamera digitalnya. Air terjun, tanjakan, hutan, savana, tanjakan lagi, bukit, tanjakan lagi, Amoy lagi tidur, savana lagi, temennya Amoy, bukit, Amoy lagi pose. Alay…

“Ini gunung belom tereksplore, bagus banget pemandangannya, cuma orang-orang pada gak tau aja.”

“Itu bukit yang itu puncaknya bang?”

“Bukan, itu puncak 2, puncak 1 puncak utamanya ada di belakangnya.”

“Oh gitu.. eh bang, masih ada kuota kan buat temen gue? Satu orang doang kok.”

“Masih, tapi temen lo masuk kuota tambahan, kuota tambahan biayanya nambah dikit, soalnya kan bisnya udah gak muat, jadi nyewa mobil kecil lagi.”

“Jadi berapa bang? Dua ratus ribu cukup?”, Enday langsung nembak.

“Mmm.. cukup”, Amoy sok mikir tapi cepet setuju sama tawaran Enday. Enday salah nembak harga. Enday nyesel…

“Yauda ini setoran gue, seratus tujuh lima kan? Yang ini dua ratus buat temen gue”, Enday menyodorkan uangnya secara bergilir.

“Sip lah”, ucap Amoy sambil mencatat pendaftaran peserta di buku agendanya. Kali ini tulisannya enggak gede-kecil kayak di sms.

“Nama temen lo siapa bro?”

“Vita bang”, jawab Enday sambil melihat Amoy menulis. Tulisannya ancur…

“Oh iya bro, hari minggu tanggal tiga jam dua siang ada technical meeting di monas ya, deket pintu gerbang Gambir.”

“Sip bang gue libur, gue bisa dateng. Oh iya bang, ini tadi janji gue..”, Enday membuka resleting tasnya dan mengeluarkan box bergambar pizza, lumayan besar. Enday memberikannya ke Amoy. Enday bekerja di sebuah restaurant pizza sebagai chef, makanya dia bisa membawakan pizza untuk Amoy. Sebelumnya Enday memang sudah janji akan membawa bingkisan ke basecamp Kemang Adventure sekaligus rumah Amoy, itu juga karna Amoy bercanda “jangan lupa bawa oleh-oleh bro”. Candaan yang sekaligus mempunyai niat dapet bingkisan gratisan. Amoy emang licik…

“Waduuuuh, makasih yeee! Berkah deh ente bro!”, ucap pria bermata sendu berambut poni lurus itu.

“Haha sama-sama bang! Yauda ya bang, gue pulang dulu udah maghrib nih. Ketemu hari minggu ya!”

“Sip, ati-ati bro.”

              Enday menyalakan starter tangan satrianya dan langsung menarik gas bergegas pulang. Enday melewatkan kewajibannya di waktu maghrib.
***

Jumat, 1 Februari 2013. 15.30
                Sore itu di sebuah restoran pizza, Enday berdiri di parkiran, bersiap pulang. Dia shift pagi hari ini.

“Endaaaaaay!”, seorang cewek berjilbab dengan seragam hitam khas restaurant tersebut berteriak memanggilnya. Badannya kurus, tingginya sekitar 165-170 cm, parasnya tidak terlalu cantik tapi terlihat manis. Kalau dilihat dari jauh mungkin mirip Zaskia Adya Mecca. Zaskia KW 10 ke atas.

“Gimana? Vita bisa ikut kan?”

“Bisa, tapi biaya lo jadi naek, lo masuk kuota tambahan soalnya, jadi dua ratus ribu.”

“Oh yauda gak apa-apa, nih Vita gantiin sekarang”, Vita menyerahkan dua lembar seratus ribuan ke Enday.

“Sip deh.. entar hari Minggu ada technical meeting di Monas, jam dua, lo libur kan?”

“Iya Vita libur.”

“Nah berarti paginya kita bisa lari dulu, gimana?”

“Oh yauda kita lari ngelilingin Taman Mini yaa, kita ngelilingin Indonesia biar kuat pas entar di Guntur!”, ucap Vita sambil mengangkat kedua tangannya bak binaragawan, gak cocok sama badannya yang panjang tipis kayak sale pisang.

“Yauda ya gue pulang dulu, besok gue libur lagi. Hari Minggu pagi jam enam gue jemput yaa.”

“Sip ati-ati nday!”

              Enday yang hanya mengenakan seragam, tanpa helm, langsung berlalu dengan satria-nya dari tempat tersebut. Rumahnya memang tidak jauh dari tempat dia bekerja.
***

Monas, 3 Februari 2013. 13.50
              Matahari menyengat kulit, membuat mata terpicing untuk menatap ke depan. Siang itu di Monas memang sangat cerah, teramat cerah. Sang Surya dengan gagahnya memamerkan kekuatan cahaya dan panasnya.
              Dua orang manusia duduk diatas motor satria biru-putih yg diam membisu di trotoar jalan Monas. Enday yg duduk di depan menyanggah motor dengan kedua kakinya, memakai helm biru-hitam, kacamata biru sporty, jaket hitam, jeans abu-abu gelap, dan sepatu Levi’s abu-abu. Enday terlihat keren siang itu. Sedangkan di belakangnya, Vita, memakai jilbab putih dengan kaos merah panjang dan jeans pensil berwarna biru, sepatunya merah bermotif wajah kucing di ujungnya. Vita terlihat manis dan mencolok dengan warna merah kesukaannya.

“Pas nih vit, kita belom telat!”

“Terus meetingnya dimana? Di dalem?”

“Katanya sih di dalem, kita parkir aja dulu”

                Mereka masuk ke parkiran Monas, memarkir satria-nya si Enday. Mereka masuk melewati gerbang dan berjalan sambil menerawang seisi taman Monas.
                Mereka berjalan menyisir Monas. Mereka berjalan beriringan, tubuh mereka berdua seperti sumpit mie ayam, yang satu kurus kering dan yang satunya lagi kurus kerontang. Melewati patung Kartini, lapangan futsall, taman, mengelilingi monas, masuk ke lorong, keluar lagi, rombongan dengan spanduk Guntur Smart Race belum ketemu juga.  Enday melirik jam tangan Nike hitamnya, jarumnya menunjuk pukul 14.40.

“Ah gila padahal kebuka gini tempatnya, tapi dimana ya rombongan kita? Monas di dunia cuma ada satu kan disini doang?”, keluh Enday ke Vita.

“Yee si oncom! Iyalah disini doang! Lo inget kata Bang Amoy gak acaranya di sebelah mananya?”

“Katanya di dalem Monas, di sebelah kiri pintu gerbang Gambir, tapi gue gak tau gerbangnya itu yang manaaa!?”, Enday frustasi karna kepanasan.

“Noh ono stasiun apaan? Ada gerbang tuh di depan stasiunnya, disitu kalih”, Vita menunjuk gerbang yg lumayan jauh dari tempatnya berdiri dengan dagunya.

              Mereka berjalan mendekati gerbang itu sambil menengok kanan-kiri, Enday tiba-tiba nyeletuk.. “Sahabatku, kini usai sudah pencarian kita”, Enday menatap kosong ke arah rombongan yg duduk lesehan di bawah pohon-pohon di pinggir taman, Enday sok menjadi Kahlil Gibran. Ada spanduk Guntur Smart Race dan Kemang Adventure yg terbentang diantara pohon-pohon tersebut.
                Mereka berdua menghampiri rombongan yg jumlahnya sekitar 30-an orang itu, sebenarnya peserta yang ikut di atas 60 orang, mungkin diantaranya ada yg berhalangan hadir. Amoy berdiri menghampiri mereka berdua.

“Bang sorry ya telat”, mereka berdua bersalaman lagi bak komentator bola di akhir acara.

“Sip sip gak pa pa bro, ini juga baru mau mulai”, ucap Amoy si empunya acara itu. Enday melirik jam tangannya, 14.50. “Dasar Indonesia”, batin Enday.

“Oh iya bang, kenalin ini Vita”, Enday menunjuk badan “sale pisang”-nya si Vita.

“Vita…”, Vita menjulurkan tangan kanannya sambil tersenyum manis ke Amoy. Amoy balas senyum ke Vita. Enday senyum manis ke Amoy, Amoy balas tampang kecut ke Enday. “Gue bukan gay, gue bukan gay”, Amoy mensugesti dirinya.

                Enday menatap rombongan perlahan. Dilihatnya sekelompok ibu-ibu berjilbab, sekelompok cewek  yang terlihat seperti mahasiswi, mas-mas, mbak-mbak, anak kecil yang dekil. Eh bukan, itu pengamen ternyata. Siang itu acara diisi dengan perkenalan peserta, estimasi waktu acara, apa saja acara yang akan diselenggarakan, kelompok, tukar kado, doorprize, sponsor, banyak. Semua peserta sangat bersaudara, saling melempar canda, saling melempar tawa. Ketika meeting hampir berakhir datang seorang cewek berjilbab yg memakai kacamata. Wajahnya bulat dihiasi tahi lalat di pipi kanannya.

“Eh udah mulai ya?”, bisik cewek itu kepada Vita.

“Iyaa, udah mau selesai acaranya”, Vita menjawab dengan lembut. Cewek ini memang ramah.

“Tadi udah nyari muter-muter tapi gak ketemu.”

“Haha, sama kak. Tadi kita juga nyari ampe muter hampir dua kali”. Vita selalu memanggil orang yang baru dikenal dan terlihat lebih dewasa darinya memakai “kakak”.

“Oh iya, kenalin. Tika..”, Cewek itu menyodorkan tangan kanannya.

“Vita..”, Vita menyambut tangan Tika sambil tersenyum manis.

“Hei kenalin, Tika..”, Tika mencolek Enday yang duduk bersila tepat di depan Vita. Enday nengok perlahan dengan wajah sok ganteng bak Taylor Lautner.

“Enday..”, Enday menyalami tangan Tika sambil tersenyum, meskipun senyumnya gak semanis Vita.

                Adzan ashar terdengar samar di telinga, sang pembawa acara, cewek setengah tua setengah muda, berjilbab, yang diketahui bernama Heni menyetop meeting sementara. Setelah adzan berhenti mengumandangkan lafadznya, Heni kembali memberitahukan inti pembicaraan kepada peserta yang baru datang sebelum acara dibubarkan.

“Oke, sebelum acara dibubarkan kita berdoa dulu. Selesai doa kita baris disana buat foto-foto sebelum pulang”, ucap Heni setengah berteriak sambil menunjuk jalan aspal di depan mereka. Mereka berdoa lalu berfoto.

“YAP! SAMPAI JUMPA TANGGAL LAPAN DI UKI YA! JAM SEMBILAN MALEM!”, Teriakkan Heni terdengar samar karna suara gambang dari ondel-ondel yang lewat didekat mereka.

              Kini Sang Surya mengurangi kadar panasnya, cahayanya berubah menjadi jingga. Monumen Nasional yang berdiri tegak di pusat Jakarta selama 52 tahun seakan ikut terbawa dengan keceriaan mereka sore itu. Langit jingga yang berbaur dengan awan putih terpampang indah di belakang Monumen bersejarah itu.
***

Gunung itu ajaib, bisa merubah keegoisan menjadi kepedulian.”

Cawang, 8 Februari 2013. 20.40
 “Haaaah, Jakartaaaa Jakartaaa… kapan ya Jakarta gak bakal macet lagi?”, desah Enday di dalam remangnya sebuah taksi yang berjalan secara bertahap di tengah kemacetan.

“Gak bakal, ini kan pusat kegiatan negara ini, gak bakal bisa deeh!”, jawab Vita yang duduk di belakang sopir. Carriel besar Enday memisahkan duduk mereka berdua.

“Lo tau gak? Pemerintah pernah ngadain peraturan kalo orang yang ngendarain mobil pribadi disuruh beralih ke KRL. Menurut gue itu peraturan yang cacad abiiisss.”

“Loh bukannya bagus? Kan bisa ngurangin macet? Yaa walaupun gak banyak.”

“Sekarang lo bayangin deh kalo satu orang yang bermobil beralih ke kereta, satu orang satu kereta kan bakal jadi lebih macet!”

“BUAHAHAH! ENDAY OON! ONCOM!”, Vita menoyor-noyor kepala Enday, cara ketawanya yang kelewat lepas gak cocok sama perawakan dan badannya yang melankolis. Sopir taksi melirik ngeri lewat spion dalam.

“Eh, lo bilang rekan kerja kita pada egois ya? Ceritain dong”, Enday yang masih keliyengan abis ditoyor-toyor sama Vita kembali bicara lagi.

“Iya, Vita berasa kerja sendiri! Yang laen mentang-mentang anak baru jadi sok pura-pura gak ngerti ini itu!”, kali ini Vita cemberut. Bibirnya dimonyongkan, paras manisnya longsor.

“Yaa lo kan senior, ajarin dong junior-junior lo itu.”

“Udah Endaay! Tapi.. ah au ah bete gue! Semua orang tuh egois! Gue gak percaya ada orang yang tulus punya kepedulian!”

“Yauda jadi orang baik aja, maafin mereka. Lo harus bisa sabar ngadepinnya, entar juga mereka sadar sendiri.”

“Gak mau! Biarpun gue baik ama mereka juga mereka gak bakal baik ke gue! Liat aja entar juga gue bales!”, Vita terlihat benar-benar bertekad. Enday menatap Vita kosong.

“Di gunung nanti, gak bakal ada yang egois Vit.”

“Gue gak percaya!”, Vita agak melotot, kali ini manisnya bener-bener ilang, mukanya lebih mirip Katemi di film Malam Satu Suro. Logatnya kini juga memakai ”gue-elo”. Enday bergidik.

“Gunung itu ajaib, bisa merubah keegoisan menjadi kepedulian”, Enday sok berfilosofi, gak tau ilhamnya turun dari mana padahal Enday gak pernah naik gunung. Mereka berdua benar-benar masih awam, tapi karna Enday suka baca, dia jadi tau cara packing dan apa aja yang harus dibawa.

“Oke! Kita liat nanti!”, wajah Katemi-nya Vita belum pergi, Enday ngeri ngeliat Vita yang biasanya selalu terlihat ramah dan sopan dimatanya kini terlihat angker.

              Selama beberapa minggu terakhir Vita memang terlihat murung, bukan Vita yang selalu ceria. Bahkan kadang Enday melihat Vita menangis di tempat bekerjanya. Enday bekerja di dapur, sedangkan vita di bagian pelayanan. Mungkin partner kerja Vita di restorannya benar-benar membuat Vita berasumsi kalau semua orang di dunia ini tidak ada yang bisa mengerti satu sama lain.

 “Nah pak, kita turun disini aja. Kita mau nyebrang jembatan aja biar gak muter balik lagi. Vita, pake duit lo dulu ya?”, Sang Sopir menghentikan kendaraan dinasnya. Enday turun dari taksi sambil memakai carriel Eiger Avtech biru-nya yang ditutup oleh cover bag berwarna hitam. Dia memakai kaos abu-abu lengan panjang, celana hitam pendek, sepatu hiking abu-abu, dan tentu kacamata rabun berwarna biru sporty kesukaannya, slayer biru Chelsea terlihat menghiasi lehernya. Vita membayar ongkos taksi dan turun dengan daypack berwarna hitam yg terlihat belum terisi full. Jilbabnya berwarna hitam dengan jaket ungu dan celana panjang hitam, sepatu hiking abu-abunya terlihat sangat bersih, ketahuan kalau baru dibeli dan baru dipakai.

“Gilak, berat bener nih carriel gue! Tiga per empat barang lo gue yang bawa nih!”, keluh Enday di tengah tangga naik jembatan penyeberangan.

“Yaah maap, gue kan gak kuaaat. Lo gak liat badan gue minim gini?”

“Haha tapi woles, gue yakin gue kuat ampe puncak Guntur. Soalnya kalo kaki kita udah salaman ama kaki gunung, semangat kita bakalan berkoar kaya di medan perang”. Enday sok ngerti lagi tentang daki-mendaki.

              Mereka menyisir jembatan penyeberangan yang membelah jalan raya luas yang terhias cahaya merah dah putih. Lampu-lampu jalan berbaris rapih mengikuti lengkungan-lengkungan jalan, Jakarta malam itu sangat ramai oleh kendaraan. Vita menarik nafas panjang. “Sebentar lagi vita bakal nemu suasana yang berbeda, suasana yang gak nge-bete-in kaya gini”, batin Vita.

Universitas Kristen Indonesia, 22.45.
 “Dasar ya Indonesia, ngareeeeeet!”, keluh Tika yang duduk di belakang warung rokok di pinggir jalan.

“Ngomong jam sembilan udah lepas landas dari Jakarta, ini delay hampir dua jam.”

“Haha kita naek bis bukan pesawat.”

“Katanya sih bisnya yang belom dateng-dateng.”

“Mao sampe Garut jam berapa yaa?”

“Bisa besok pagi nih.”

              Enday hanya duduk terdiam mendengar pembicaraan mereka, rasa kantuk menyerang seluruh organ di tubuhnya. Vita dan Tika bercakap dengan orang-orang yang baru dikenalnya di tempat tersebut. Satu orang cowo yang terlihat tidak muda lagi memakai topi putih, kemeja kotak-kotak biru, celana rimba panjang dan sandal gunung, wajahnya bulat, kulitnya agak hitam, tubuhnya sedikit lebih pendek dari Vita, dia terdengar yang paling banyak bergurau diantara semuanya, namanya Toni dan dia dipanggil Boim. Tiga orang cewek yang duduk berdekatan dengan mereka terlihat sudah sangat akrab. Rina yang notabene adalah wanita, tidak tau kenapa dipanggil Babe, mungkin karna dialah yang paling “senior” diantara ketiganya. Titi, Ibu muda dengan wajah “santai” dan rambut pirangnya, Babe memberikan sebutan Buceri (Bule Ngecat Sendiri) kepadanya. Dan Erna dengan tubuh “Julia Perez lapis tiga”-nya terlihat yang paling subur diantara ketiganya. Tiga orang Ibu ini mungkin lebih tepat digambarkan sebagai Warkop DKI versi wanita, mereka lucu, kadang polos, kadang juga nyablak.

“Eh daripada bosen mending kita narsis-narsisan dulu laah”, wajah keibuan Babe yang bawaannya terlihat selalu tenang terlihat menulusuri isi day pack-nya. Dia mengeluarkan bungkusan dari bahan kain yang berisi kaus tangan, dia membuka bungkusan dan mengambil sesuatu dari dalam kaus tangan, ternyata itu adalah kamera digitalnya.

“Busedah, itu kamera apa jenglot bungkusnya ribet amat?”, Enday yang sedari tadi diam tiba-tiba nyeletuk. Semua tertawa, ada yang ngakak, ada yang senyum-senyum simpul, Vita yang paling meledak tawanya. Cewek gak waras…

“Jeeeh die bisa ngomong juga! Wahahah!”

“Kirain gak bisa ngomong mas! Hahaha!”

“Sekalinya ngomong bikin rusuh hahaha!”, Babe, Titi, dan Erna menyela Enday.

“Ngantuk gue, ngablu gini acaranya”, Enday berkata polos.

“Eeeeh ini tuh biar hemat batrenya, biar entar bisa puas narsisnya, jadi harus dibungkus rapet begini”, ucap Babe santai sambil mengacungkan bungkusan jenglot-nya.

              Mereka berfoto, hanya Enday yang tidak ikut. Enday duduk menunduk karna kantuk. Enday melirik Nike hitamnya, pukul 23.05.

“Temen-temen, bisnya udah dateng! Yang dipanggil namanya langsung ke bis yaa!”, Heni si MC teriak di depan gerbang kampus UKI. Seorang panitia cewek yang memakai bandana ungu di kepalanya meng-absen peserta satu persatu. Cewek yang logat bicaranya terdengar agak sok imut dan manja itu sebelumnya sudah memperkenalkan dirinya kepada peserta waktu meeting point di Monas. Namanya Yani.

“Eh eh kita duduknya deketan aja.”

“Iya ntar pas naek juga kita barengan aja.”

“Iya entar pas nge-camp juga kita setenda aja”, Warkop DKI versi wanita merajuk ke Enday, Vita, Tika, dan Boim.

“Gue bawa tenda ukuran dua orang doang, kalo elu bro?”, tanya Boim ke Enday.

“Gue bawa punya Vita, cukup buat berempat kok, kalo badannya imut-imut kaya kalian bisa berlima dempet-dempetan.”

“Badan gue imut yaa?”, Erna sok tersipu. Semua diam sambil melempar tatapan kasihan ke Erna.
“Yauda berarti pas deh. Gue bawa flysheet juga, entar tendanya kita gabung aja. Kita udah cocok nih!”, Boim membuat kepastian.

                Semua peserta berdiri, bersiap memakai daypack dan carriel masing-masing, hanya sedikit wanita yang membawa carriel, salah satunya Tika. Badan imutnya menggendong carriel ukuran 75 liter. Vita terlihat kagum, Enday tersenyum melihat Tika. Satu demi satu peserta meninggalkan tempat berkumpul di depan gerbang dan berjalan menuju bis ketika namanya dipanggil. Mereka bertujuh dipanggil dengan jarak yang berjauhan. Enday yang dipanggil duluan menunggu teman-teman barunya. Mereka naik  ke dalam bis, mencari tempat duduk yang kosong, Enday duduk dengan Vita dan seorang cowok yang duduk siap tertidur di dekat jendela. Tika di depan Enday. Babe, Titi, Erna, dan Boim terpisah di depannya. Panitia meng-absen ulang pesertanya, memimpin doa, dan bis berwarna kuning itu pun siap berangkat meninggalkan Jakarta yang malam itu masih terlihat ramai. Jakarta dengan segala hiruk-pikuk dan kesibukannya.
***

SPBU Tarogong, 9 Februari 2013, 03.05.
                Mereka sampai di Garut lumayan cepat. Vita masih tertidur di bangkunya. Peserta yang lain ada yang tidur-tiduran di musolah areal SPBU, ada yang solat tahajud, Enday membasuh wajahnya di toilet. Vita terbangun dan turun menghampiri Tika dan kawan-kawan barunya di teras musolah, Enday yang selesai membasuh wajahnya ikut duduk bergerombol.

“Temen-temen, istirahat dulu ya. Nanti dari sini kita berangkat pake transformer alias truk. Istirahat dulu, tidur-tiduran, solat, sarapan, abis itu kita langsung berangkat. Oh iya, kaosnya bisa dipake sekarang”, Amoy berbicara dengan toak-nya kepada kumpulan peserta. Ketua acara ini terlihat sangat bersahabat dengan peserta-pesertanya. Setelannya khas seorang pendaki. Topi rimba dibiarkan terkalung dibelakang lehernya, kaosnya berwarna biru dengan lengan tiga per empat bertuliskan Guntur Smart Race 2.249 mdpl, kaos yang memang diperuntukkan untuk semua peserta GSR, tempat minum berwarna hitam menggantung di pinggangnya, celana panjang rimba dan sepatu summit high menambah pencitraannya sebagai pendaki yang sudah mafhum pengalaman.

05.35
                Semua peserta selesai solat subuh berjamaah, meminta keselamatan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan kepada dirinya dan teman-temannya. Babe, Titi, Erna, dan Boim sibuk memisahkan barang-barang. Semua logistik mereka berempat dimasukkan ke dalam carriel besar Boim, tenda, terpal, flysheet, alat masak. Carriel Boim meminggi ke atas, melebar ke samping. Boim menepuk-nepuk carrielnya, dia mengambil nafas panjang dan mengeluarkannya, berharap kuat menggendongnya sampai atas. Selesai re-packing, carriel-carriel dan semua daypack bawaan peserta dinaikkan ke atas truk, mereka pun naik ke atas truk berwarna kuning itu. Bak mobil truk itu masih sedikit terisi pasir. Tiga buah truk besar mengantar mereka, mobil angkot merah yang berisi panitia mengekor dibelakangnya.

“Vit, tuh gunungnya tuh, yang botak.”

“Kok Nday tau?”

“Lo liat aja gambar gunung di kaos lo oneng.”

“Oh iyaa, Vita o’on iiihh”, Vita sadar diri.

Truk membelah jalan perkampungan pagi itu, melewati pematang sawah, kebun jagung, rumah-rumah khas pedesaan, Gunung Guntur terlihat yang paling berbeda diantara gunung-gunung disekitarnya. Guntur terlihat tandus dari jauh, dengan puncak yang terlihat agak lebar, terlihat mudah didaki dan tidak akan menyesatkan.
                Boim asik berbicara dengan Tika, Vita terlihat menikmati susana pedesaan, susana yang sangat berbeda dengan Jakarta. Pemandangannya, orang-orangnya, udaranya. Memasuki lokasi penambangan pasir, jalanan mulai tidak karuan, bergoyang ke kiri, ke kenan, tersentak ke depan, terjungkir ke belakang. Guntur memang tempat menambang pasir sebagai penghasilan penduduk setempat. Jalan selepas pedesaan meliputi tanah dan pasir yang gembur, berkelok, menanjak, sempit, di pinggirnya dibatasi jurang bekas galian yang rawan longsor. Mungkin rasanya naik truk seperti itu tanpa memakai sit belt melebihi sensasi halilintar di Dufan. Semua peserta berpegangan. Ada yang teriak, ada yang mencengkram erat teman di dekatnya. Sedikit saja sopir truk salah mengambil sudut, truk bisa terjerembab ke jurang-jurang bekas galian itu.

“Eh tu liat! Ada Monas di Garut! Tapi kok Monasnya patah?”, Enday berteriak kecil menunjuk sebuah bangunan seperti tugu lumayan besar yang telah hilang di bagian tengah sampai atasnya, tapi runtuhannya tidak terlihat di sekitarnya. Tugu itu terlihat gagah di tengah dataran yang cukup luas dan berumput hijau, besarnya mungkin tiga per empatnya Monas.

“Yee ngaco! Siapa yang bisa mindahin Monas kemarih? Jokowi? Kalah ultramen!”, Vita nyeletuk.

                Perjalanan masih berlanjut, hampir satu jam mereka “menikmati” perjalanan tersebut. Seluruh peserta GSR yang naik truk itu terlihat khawatir. Ada yang komat-kamit memanjatkan doa, ada yang duduk sambil berpegangan kaki temannya, ada yang duduk di atas kap mobil truk sambil berpegangan erat, tapi ada yang tertawa menikmati ketegangan perjalanan tersebut. Perjalanan yang mengerikan.

Lokasi Penambangan, 06.50.
                “Parrraaaahhh!!! Rossi ama Stoner juga gak bakal mampu ngalahin kesaktian tu sopir truk! Jalanannya extreme meen!”, seorang peserta laki-laki yang memakai slayer oranye di kepalanya berkomentar setelah mereka semua diturunkan.
                Mereka semua menenangkan diri setelah perjalanan “horror” tadi. Enday, Vita, Tika, Boim, Babe, Erna, dan Titi berkumpul. Mereka berfoto, bercanda, menikmati roti tawar dengan olesan selai coklat kacang buatan Babe. Mereka semakin akrab, mereka tidak terlihat seperti kumpulan orang-orang yang baru dikenalkan, mereka tidak terlihat canggung satu sama lain.

07.40
                Panitia baru tiba di lokasi penambangan, lokasi dimana mereka akan memulai perjalanan dengan kaki masing-masing. Lokasi tersebut didominasi oleh tebing-tebing pasir cukup tinggi yang bersudut 90 derajat, sangat rawan longsor. Beberapa penggali pasir terlihat sedang memasukkan pasir-pasir hasil tambangan ke atas bak truk yang dinaiki oleh peserta-peserta GSR tadi. Di bawahnya terlihat sungai kecil yang dihiasi oleh batuan-batuan, dipagari oleh pohon-pohon yang rindang, airnya sangat jernih.

“Semua peserta harap berkumpul, kami akan memberitahukan beberapa informasi!”, Heni si MC yang yang manis dan ramah agak berteriak. Semua peserta bergerombol dengan jarak agak jauh dari tempat Heni berdiri. Heni memberikan sambutan-sambutan, ucapan terima kasih, membetulkan jadwal perjalanan dan acara karna dari awal perjalanan memang waktunya selalu ”ngaret” dilanjutkan dengan pembagian kelompok yang dipersiapkan untuk yel-yel dan lomba “How Smart Are You”, acara lomba yang menjadi title utama event ini.

                Heni memulai pembagian kelompok. Tika masuk ke dalam kelompok empat, Tika terlihat murung karna terpisah dari orang-orang yang paling dekat dengannya sejak di Monas dan UKI waktu itu. Heni melanjutkan pembagian kelompoknya…

“Kelompok lima! Rina! Toni! Titi! Erna! Vita!...”

“Nahloh, gue kek gue!”, batin Enday.

“Hijarji!...”

“Yaaaah ngapa bukan guee!”, Enday membatin.

“dan Enday!”

“Yeeee Vita sama Endaaay!”, Vita mengangkat kedua tangannya ke atas seperti Cristiano Ronaldo yang habis mencetak gol ke gawang.

“Ini kelompoknya kok bisa cucok begini sih? Pas banget haha.”
“Si Amoy tau aja ya hahaha.”

“Iyalah kan akyu yang requeeest hehe. Tapi Enday sama Vita sekelompok ama kita tuh gue gak tau, emang udah jodohnya kalih”, Erna menjelaskan semuanya.

“Oh empok yang request ke Bang Amoy? Emang bisa ya?”, Enday memanggil Erna dengan memakai sebutan “Empok” karna masih agak lupa sama namanya.

“Iyalah, kita bertiga mah emang udah kenal sama Amoy.”

“Yaaah tapi kak Tika kepisaaaah…”, Vita agak cemberut.

“Oh iya yaa. Barter aja nih ama si Jarjit”, Babe nyeletuk.

“Hijarji beh! Jarjit mah yang di Upin-Ipin!”, Titi merespon omongan Babe sambil membuat gerakan ingin menimpuk Babe. Hijarji yang bertubuh lebih kekar dari Enday, lebih tinggi dari Boim, dan terlihat lebih dewasa dari mereka berdua masih terdiam. Dirinya mungkin masih merasa tidak percaya bisa satu kelompok dengan orang-orang primitif ini.

“Haha terus kita manggilnya siapa nih?”

“Jarji aja Jarji.”

Heni selesai membacakan pembagian kelompok. Ada sembilan kelompok yang ditentukan. “Yak dikasih waktu sepuluh menit yaa buat nyiapin yel-yel kelompoknya! Yang dinilai kreatif sama kompaknya!”

“Ayo apa nih yel-yelnya?”

“Nama team kita aja dulu. Namanya “Woles” aja, kita kan pake aturan satu-lima nanti. Satu menit jalan, lima menit istirahat”, celetuk Babe yang bawaannya selalu terlihat “selow”.

“Wahahah iya iya bener!”

“Hahaha yaudah itu aja.”

“WAHAHAHAH kak Babe ada-ada aja nih!”, Vita lagi-lagi ngakak. Udah Babe, dipanggil kakak pula.

“Yauda gini aja, ‘Tim Woleees! GeSeR teruuss!’ nama acara kita kan GSR.”

“Itu kan slogannya, yel-yelnya?”

“Pake soundtrack snack susu realgood aja, nyot nyot dikenyot nyooot! Nyot nyot dikenyot nyooot!”, Enday mendendangkan lagu khas iklan sebuah produk susu.

“Wahahah boleh tuh!”

“Iya lucu hahaha Enday kepikiran aja!”

Mereka berlatih intonasi, koreografi, penyatuan slogan dengan lagu, dan hasilnya menjadi satu kesatuan yel-yel yang sangat aneh. Kelompok yang benar-benar primitif.

                Kelompok yang beranggotakan anak-anak muda dipanggil pertama untuk mempersembahkan yel-yelnya. Mendendangkan lagu soundtrack-nya Ninja Hatori. Ada yang bernyanyi keras, ada yang pelan, ada juga yang hanya mengikuti gerakan teman-temannya. Ada yang gerakannya selaras, ada juga yang gerakannya telat. Ya wajar, latihan koreografinya hanya dibatasi 10 menit.

“Kelompok selanjutnya kelompooook… lima!”, Heni dan Yani memandu acara.

“Wets tim kita maju nih.”

“Inget yaa nyot nyot!”

“Hahaha iya tenang aja kak!”

“Yang semangat yaa!”

“Yuk!”

                Mereka maju, membuat lingkaran. Babe berteriak “Tim woleees! Geser teruuus!” sambil menunjuk Enday. Enday berteriak “KITA BUTUH ENERNYOOOT! ENERGI NYOT NYOOT!”.

“Makin dikenyot, makin maknyoooot…”, ucap Jarji santai.

“NYOT NYOT DIKENYOT NYOOOT! NYOT NYOT DIKENYOT NYOOOT!”, Enday, Vita, Boim, Babe, Erna, Titi, dan Jarji mendendangkan soundtrack snack susu realgood dengan semangat sambil meng-koreo-kan gerakan tangan yang terlihat seperti meremas. Entah meremas apa. Vita, Titi, Erna terlihat berdendang sambil menahan tawa, Babe dengan tampang “selow”-nya, Boim terlihat sok cool, Jarji yang tanpa ekspresi, dan Enday memasang tampang bego. Mereka ancur. Bergoyang ke kanan dan ke kiri. Mereka benar-benar ancur. Jarji ikut-ikutan jadi ancur.

“WE ARE NEVER STOP EXPLORIIIING!!!”, semuanya berteriak di akhir lagu aneh tersebut. Mereka semangat dan kompak, meskipun yel-yelnya terlihat ancur. Sangat ancur. Peserta lain ada yang tertawa, ada yang bertepuk tangan, ada yang senyum sambil geleng-geleng melihat tingkah mereka, ada yang nyeletuk “lo semua pada ngenyot apaan sih!?”. Mereka jadi kayak banci yang lagi karokean pake dangdut gerobak, diliatin dengan berbagai macam ekspresi.

                Kelompok lain maju satu persatu. Menunjukan kreatifitas dan kekompakannya masing-masing. Ada yang menamai kelompoknya Keluarga Cemara, karna satu kelompok di dominasi oleh satu keluarga. Ada yang namanya JP. JP yang ini bukan Jejak Petualang tapi Jejak Pengajian, karna satu kelompok anggotanya mbak-mbak dan ibu-ibu berjilbab semua, hanya ada satu orang laki-laki yang terlihat konyol melengkapi kelompok tersebut. Tim woles sendiri lebih dikenal dengan nama Tim Nyot-nyot, karna jargon andalan mereka tadi.

“Eh itu anak kecil mao naek juga?”, bisik Vita ke Enday.

“Enggak, dia mao maen tamiya”, jawab Enday ketus.

“Kalo udah disini semua pesertanya pasti bakal naek ke atas lah! O’on deh”, Enday melanjutkan.

“Kuat gak ya dia? Pokoknya Vita gak mao kalah!”, mata Vita berapi-api melihat ke arah anak kecil yang berumur sekitar 9-10 tahunan. Anak laki-laki itu terlihat lucu dengan badannya yg agak gemuk dengan wajah polos khas anak-anak, memakai topi rimba, kaos GSR, celana panjang, dan sepatu sandal yang sama seperti bapak dan ibunya.

                Semua kelompok sudah tampil menunjukkan kreatifitas masing-masing. Disini tidak ada rasa bersaing, semua merasa sesi ini memang hanya untuk penyemangat dan kegembiraan. Enday melirik jam tangannya, pukul 08.20. Bang amoy memimpin doa, menunjuk jalan menurun bebatuan ke arah sungai, “Pendakian kita mulai dari sana. Jaga diri masing-masing. Berangkat!”.

“Kak Tika kita bareng-bareng ya.”

“Iya Tika, kelompoknya cuma buat games doang kok. Perjalanan sama tenda mah bebas.”

“Iya yuk jalan”, Tika tersenyum kepada teman-temannya.

                Semua peserta mengikuti Amoy. Trek awal menyusuri sungai, menyeberanginya melewati bebatuan yang bisa dipijak. Ada yang kakinya terpeleset dan tercelup ke air, ada yang jatuh terduduk, ada yang langsung menceburkan kakinya dan berjalan menikmati dingginnya air pegunungan. Enday dan Boim terlihat membantu “Tim Nyot-nyot” menyeberangi sungai, memberi pegangan kepada Vita, Tika, Erna, dan Titi.

“Disini sumber air terakhir, sampe atas nanti gak ada air. Isi perbekalan air minimal tiga liter buat naik sama turun”, Amoy berdiri di jalan setapak pinggir sungai dan menunjukkan air terjun kecil disampingnya. Semua peserta mengambil air secara bergilir. Ada yang mengisi di botol ukuran 1 liter sampai derigen ukuran 5 liter. Enday terlihat mengisi 1 botol ukuran 1 liter, kemudian botol ukuran 2 liter, terakhir dia mengisi botol tupperware oranye setengah liter-nya.

                Tika dengan carriel besarnya menapaki jalan setapak menanjak selepas sungai tadi di depan Vita, nafasnya memburu, sesekali ia menghentikan langkahnya dan merunduk mengambil nafas. Perjalanan baru dimulai beberapa langkah. Semua pendaki di belakangnya terhenti menunggu Tika melanjutkan pendakiannya.

“Ayo Tika semangaat!”, Enday menyemangati Tika dari belakang.

“Ayo kak Tika semangat!”, Vita juga menyemangati Tika.

“Duluan deh vit, aku pelan-pelan aja”, nafas Tika memburu.

Vita melewati Tika, Enday juga melewati Tika sambil menepuk pundaknya “Semangat Tika!”. Enday harus mengejar Vita, Vita belum pengalaman sama daki-mendaki, Enday takut sahabatnya kenapa-kenapa selama pendakian. Enday sudah di ultimatum sama temen-temennya Vita kalau Vita lecet dia bakal dihajar. Boim, Babe, Erna, dan Titi terlihat masih mengisi persediaan air di sungai.

                Di awal pendakian, Gunung Guntur menyajikan jalan setapak yang menanjak tanpa ada jalan datar sedikitpun kepada pendaki-pendakinya. Batuan besar dan akar-akar pohon yang menjadi tangga alami harus ditapaki oleh semua pendaki yang pada hari itu semuanya adalah rombongan besar dari Guntur Smart Race. Nafas Enday memburu, carriel-nya makin terasa berat. Vita dengan daypack eiger hitamnya terlihat makin jauh di atas, Enday melanjutkan langkahnya satu persatu, mencoba mendekati langkahnya dengan Vita. Vita menatap Enday di bawah kemudian melanjutkan mendaki diantara pendaki-pendaki lain. “Enday pasti kuat”, batin Vita.

“Vita, break dulu!”, Enday teriak, nafasnya memburu. Vita berhenti menunggu Enday di bawah yang berusaha mendaki mendekati Vita.

“Minum dulu, capek. Makin lama makin berat aja nih carriel gue”, enday terduduk besandar di carriel besarnya kemudian menenggak air dari botol oranye-nya.

“Carrielnya berat yah?”

“Iyalah! Barang-barang lo tiga per empatnya disini! Tukeran yuk ama tas lo!”

“Iiiih gak mau! Yang ada Vita kebawa ama Carrielnya hihihihi”, Vita menolak sambil cekikikan. Tau maksud Enday pasti bercanda.

“Eh Vita, Enday. Nyot-nyot masih dibawah tuh, Tika sama Boim kasian Carrielnya berat”, Titi yang berjalan sendiri dengan daypack ungunya menghampiri mereka berdua. Beberapa pendaki dengan carriel besar terlihat melewati mereka.

“Kita lanjut gak Nday?”

“Lanjuuuut!”

“Ayo kita kemon Ti!”, ajak Enday ke Titi.

                Mereka melanjutkan perjalanan, perjalanan yang menanjak tiada henti. Vita di depan, kemudian Titi, dan Enday di belakangnya. Vita terlihat mengikuti pendaki dengan cover bag carriel yang berwarna kuning. Enday berulang kali memberikan kode ke Vita dan Titi yang berada di depannya agar berhenti sebentar untuk mengatur nafas. Lagi-lagi Enday tertinggal dari Vita, entah apa yang membuat Vita sangat bersemangat saat itu. Enday melihat sisi Vita yang berbeda. Biasanya Vita agak manja, bahkan dia sering mimisan yang bakal kambuh kalau dia sedikit kecapean waktu bekerja, sekarang Vita bak Doraemon yang baterainya tak pernah habis. Mungkin semangat dan tekadnya mengalahkan pembuluh darah di dalam hidungnya dan mensugesti pembuluh darah itu agar tidak mengeluarkan darah. Vita pemula yang hebat.
                Nafas Enday kembali memburu, kali ini ditambah dadanya yang berdetak sangat cepat, pundaknya terasa sakit, lututnya terasa sangat lelah. Enday menenggak air di botol oranye-nya, tinggal sedikit. Jalan setapak dengan tangga-tangga alaminya membuat beberapa pendaki membuat komentar “Gilak nanjak terruuussss meen!”, “Huw! Gak ada bonus dari start!”, “Amoy sialan! Nemu aja gunung kayak gini!”.
                Vita dan Titi masih mendaki di atas Enday. Enday lagi-lagi dibuat kagum oleh seorang wanita. Kali ini Titi, Ibu muda ini mendaki menggunakan sepatu Converse berwarna merah, bukan sepatu hiking. Enday masih takjub melihat mereka berdua yang belum terlihat kelelahan seperti Enday. Titi memang sudah puluhan kali naik gunung bersama Babe dan Erna, dan Vita baru kali ini, tapi tetap saja mereka itu wanita. “Gue gak boleh malu-maluin kaum gue, kaum Adam! Gue gak boleh nyerah! Laki-laki itu seorang pemimpin!”, Enday menyemangati dirinya sendiri. Vita melirik ke bawah, Vita melihat Enday yang langkahnya sudah tidak mantap lagi.

“Endaaay! Disini yaa!”, Vita melambai dan menunjuk tanah rerumputan yang masih terlihat menanjak di dekatnya. Disitu terlihat Amoy dan beberapa pendaki sedang merebahkan tubuhnya. Lagi-lagi Enday melihat seorang lagi wanita muda.

“Minum lo udah abis Vit?”

“Nih tinggal dikit.”

“Gue juga tinggal dikit, kita isi ulang pake aer gue aja.”

          Enday membuka carriel-nya, mengeluarkan botol miniral ukuran 1 liternya, mengisi penuh botol oranye miliknya dan botol tupperware putih milik Vita.

“Gimana Nday? Masih kuat?”, Amoy tersenyum ke Enday. Amoy ingin mendapatkan pendapat dari seorang pemula.

“Gas teruuusss baaang!”, Enday menjawab dengan jargon khas Amoy, kata-kata yang sering diucapkan Amoy di facebook.

“Ya Allaah, mereka masih jauh banget di bawaaah”, Vita memandang ke bawah. Jalan setapak yang sedari tadi dia lewati terlihat puluhan pendaki dengan Carriel ber-cover warna-warni menghiasi jalan setapak. Dibawahnya terlihat lokasi penambangan yang terlihat agak tandus dengan tebing-tebing bekas galian, jauh ke bawah lagi terpampang pemandangan kota Garut diantara gunung-gunung yang mengapitnya.

“Uuuuuh indah banget Nday…”, Vita tersenyum, matanya mengeluarkan rona kekaguman akan apa yang sekarang sedang ia lihat. Lukisan alam yang dibuat oleh Sang Pencipta.

“Garut itu kota yang dikelilingin gunung, kayak dipagerin ama gunung.”

“Kak Tika gimana ya? Kasian bgt tadi Vita ngeliatnya, carriel-nya keberatan tuh. Vita aja yang tasnya enteng begini ampun-ampunan.”

“Bawa carriel segede gaban gini nyesek tau, mau cobain?”

“Iiiiiih gak mauuuu!”, Vita cekikikan lagi.

“Yuk jalan lagi”, suara Titi terdengar serak-serak basah, seperti suaranya Dewi Persik.

“Ayo temen-temen lanjut”, ajak Amoy.

“Vita, lo di belakang gue yaa, potoin gue lagi nge-daki.”

“Oke Nday!”, Vita mengacungkan jempolnya.

“Abis hutan ini, di depan udah mulai savana. Savana terus sampe atas, treknya udah mulai batuan kerikil campur pasir, pohonnya jarang banget. Yang gak pake sun block pulangnya siap-siap item”, Amoy tersenyum kepada Enday, Vita, Titi, dan sepasang pendaki yang seumuran mereka.

                Mereka terus berjalan, menanjak, terkadang harus merangkak. Jauh di sebelah kanan mereka terdengar suara air terjun, merdu sekali. Puncak 3 Guntur mulai terlihat jelas, sepertinya setelah itu perjalanan terlihat lebih mudah, tidak ada tanjakan lagi.

“Sebentar lagi kita akan memasuki trek Semeru”, ucap Amoy dengan senyumnya yang selalu disajikan ke semua orang.

“Itu puncaknya moy?”, Titi menunjuk ke atas yang terlihat seperti puncak gunung.

“Bukan Ti, itu pucak tiganya, dibelakang masih ada puncak dua sama puncak satu. Masih jauh banget.”

                Mereka mulai memasuki padang savana yang luas, padang savana yang datarannya memiliki sudut 50-70º. Kali ini matahari langsung menerpa kulit mereka, tidak ada lagi pohon-pohon yang melindungi. Sepanjang perjalanan hanya ilalang setinggi pinggang sampai dada yang menemani perjalanan mereka. Jalan setapak kali ini tidak ada tangga alami seperti di bawah tadi. Jalan setapak kali ini batuan berpasir, licin, seperti menaiki perosotan di Taman Kanak-kanak.
“Licin banget jalannya, udah ngelangkah naek malah turun lagi”, terdengar suara yang berasal dari pendaki wanita yang Enday lihat tadi.
                Enday terlihat kesulitan karna carriel yang dibawanya terasa semakin berat. “Nanjak terus daritadi, ampun deh”, batin Enday. Lagi-lagi Vita mulai menjauh sedikit demi sedikit dari Enday. Langkahnya perlahan tapi mantap. Mereka melewati sebuah dataran yang terlihat seperti sungai tanpa air. Mereka turun ke bawah, tanahnya agak kehitaman, tidak ada tumbuhan yang tumbuh disana, seperti Kalimati di Semeru. Enday mengalihkan pandangannya ke kanan, dilihatnya padang savana yang terlihat habis terbakar. Enday melihat sebuah batu besar di atasnya, dia menghentikan langkahnya sebentar dan menenggak air dari botol oranye-nya. Amoy terlihat sudah terlihat merebahkan tubuhnya di dekat batu besar itu. Enday melanjutkan langkahnya.

“Kita break agak lama ya disini, peregangan dulu, pegel banget kaki gue.”

“Sama nih Vita juga.”

“Nyot-nyot masih jauh ya? Gak keliatan”, Titi mengedarkan pandangannya ke bawah. Terlihat pendaki mengisi jalan setapak di padang savana, bahkan ada yang masih di areal hutan.

“Kasihan banget mereka masih dibawah situ, ya ampuuun…”

              Mereka duduk bersandar di batu besar. Enday mengeluarkan cemilan biskuit coklat dari tas pinggangnya, menawarkan kepada yang lain. Vita mengeluarkan coklat chacha-nya, mereka saling berbagi.

“Vita tuh aer di botol lo mau abis, sini gue isi dulu”, Enday menunjuk botol yang menggantung di lengan Vita dengan dagunya.

“Tapi jangan penuh-penuh ya Nday, berat soalnya.”

                Di atas mereka terlihat dua orang pendaki yang mendaki lumayan jauh dari tempat mereka yang sedang beristirahat, caarrielnya ber-cover kuning, yang satu ber-cover hitam.

“Itu peserta kita juga Moy?”, tanya Titi.

“Iya tuh, saingan yang berat”, Amoy senyum lagi.

Enday melirik Nike-nya, pukul 10.20.

“Bang kita jalan duluan ya, mumpung lagi semangat nih”, Enday berdiri sambil mengencangkan tali carriel-nya.

“Yauda ikutin treknya aja ya, ikutin orang yang di atas kalian tuh”, Amoy menunjuk dua orang pendaki di atas yang terlihat tidak pernah berhenti melangkah.

“Ayo kita kemon”, Vita telah siap.

“Yuk, kita duluan yaa…”, Enday permisi kepada sepasang pendaki yang sedari tadi mendaki bersamanya.

“Iyaa duluan aja…”, wanita muda itu tersenyum manis, ia masih asik merebahkan badannya yang tidak beda jauh dari Vita di daypack-nya.

                Kali ini mereka bertiga melanjutkan perjalanan, seperti biasa Enday selalu tertinggal di belakang. Mereka sering berhenti untuk istirahat, duduk diantara ilalang, Mereka harus pintar mengatur cara duduk agar tidak merosot ke bawah. Mereka istirahat hanya sekedar untuk mengatur nafas, menenggak air dan memakan cemilan untuk mengisi energi lalu melanjutkan pendakian kembali.
                Enday melihat lagi jam tangannya, pukul 11.15. Puncak yang mereka lihat dari tadi seakan hanyalah fatamorgana. Terlihat jelas tapi  seakan perjalanan mereka tiada arti untuk mencapainya. Sang Surya makin naik tepat berada di atas mereka, panasnya terasa membakar kulit. Membuat kerongkongan mereka cepat mengering.

“Tuh di atas ada pohon lumayan gede, kita break yang cukup disitu”, Enday menunjuk pohon pinus yang lumayan rindang, agak jauh dari tempat mereka berdiri.

“Capek ya Nday?”

“Makin lama makin kerasa berat Vit carrielnya. Lo bawa dong nih cobain, kaya Tika.”

“Yaaah hahaha entar aja deeeh kalo udah satu meter pengen sampe atas situ”, Vita cengengesan. Cewek ini emang paling gampang ngeluarin tawanya.

“Jeh satu meter! Apaan!”

“Hehehe yauda deeeh lima meter!”

“Jeh! Kaga ada! Seratus meter!”

“Iya oke kita ambil tengahnya aja… sepuluh meter! Vita lari entar ampe atas!”, semangat Vita berkobar.

11.35
                Mereka bertiga sampai di pohon pinus besar, disana mereka bertemu dengan dua orang pendaki yang mendaki paling depan dari semua peserta GSR. Yang satu seorang laki-laki tinggi, tingginya sejajar dengan Enday, hanya saja tentu badannya lebih berisi dari Enday. Entah darimana Vita tau namanya, Imam. Yang satu lagi laki-laki yang mirip dengan Peppy di acara Bukan Empat Mata. Cara berpakaiannya, wajahnya, tubuhnya, kulitnya, cuma jenggotnya yang kurang. Vita, Enday, dan Titi tidak sering melihatnya selama perjalanan dari UKI. Imam dan “Si Peppy” berbagi lapak tempat duduk kepada mereka bertiga. Enday langsung merebahkan tubuhnya, bersandar di carrielnya.

“Abang udah nyampe sini daritadi ya bang?”, Enday bertanya kepada “Si Peppy”.

“Gue mah udah tidur bro daritadi, kebangun gara-gara dingin aja. Ada kali setengah jam lebih. Tapi lumayan, bangun berasa segeeerr!”

“Istirahat yang lama aja disini, nunggu yang laen tuh pada masih jauh dibawah”, kata Imam sambil membuka bungkusan nasinya.

“Tuh yang di depan paling sampe sini 20 menit lagi”, Peppy menunjuk dua pendaki di bawah yang paling dekat dengan mereka. Vita melihat ke bawah, itu pasangan yang tadi mendaki bersama mereka. Dibawahnya dengan jarak yang hampir sama ada pendaki lain, dan terus ke bawah banyak pendaki yang terlihat kecil. Ada yang baru ingin menyusuri “Kalimati”-nya Guntur, ada yang sedang beristirahat di batu besar. Tanjakan, trek batuan pasir, carriel, dan panaslah yang membuat perjalanan mereka sering terhenti.

“Bro kita join nih bro, makan siang”, Imam menyodorkan nasi bungkusnya ke Enday.

“Sip Bang, gue udah makan tadi di bawah, masih kenyang daritadi ngemil.”

“Nih, makan dulu nih”, Imam menawarkannya ke Vita dan Titi.

“Iyaa makasiiih”, Vita tersenyum manis. Vita terlihat biasa di mata cowok, tapi kalau Vita udah ngeluarin senyum manisnya, mungkin David Beckham sekalipun bakal menceraikan Victoria.

                Kedua pendaki itu pun sampai di tempat mereka, mereka berbagi tempat duduk dan berbagi cemilan. Enday melihat mereka seperti pasangan kekasih, tapi mungkin juga sepasang sahabat sama seperti dirinya dan Vita. Enday ternyata mengetahui bahwa yang wanita juga baru pertama mendaki seperti Vita. Tak lama Amoy dan beberapa pendaki datang. Kabut menyelimuti mereka, karbon dioksida yang keluar dari mulut mereka sekarang terlihat menguap. Awan mendung tiba-tiba menyeruak di atas mereka. Rintikan kecil hujan turun, terasa dingin di kulit.

“Kalian mendapat ucapan selamat datang dari Guntur!”, Amoy yang sedang bersandar di carriel-nya berbicara agak keras. “Siapin raincoat kalian!”, seru Amoy lagi.

                Mereka semua memakai raincoat dari carriel dan daypack masing-masing, kecuali Amoy yang baru sampai, dia sedikit menikmati rintikan kecil hujan yang turun.

“Berangkat ah”, Imam dengan jaket waterproofnya terlihat siap mendaki lagi.

“Ayok jalan, bareng gak?”, Peppy yang memakai raincoat kuning mengajak Enday, Vita, dan Titi.

“Ayo vit”, Enday membetulkan raincoat ponco yang sudah menutupi tubuhnya.

“Iya ayo. Kak Titi, Ayo kita kemon!”, Vita dan Titi telah siap mendaki kembali setelah selesai memakai raincoat.

“Semuanya, duluan yaa”, Enday pamit ke semua pendaki yang masih terlihat kelelahan di bawah pohon pinus besar itu.

“Iya silahkan…”

“Duluan aja mas, mbak, kita baru sampe”

“Bang Amoy, jalan gak?”, Ajak Enday.

“Istirahat dulu, saya juga manusia biasa…”, ucap Amoy yang terlihat masih sedikit terengah-engah dibalik senyumnya.

                Enday, Vita, Titi, Imam, dan “Peppy” melanjutkan pendakian, ada satu pendaki wanita yang baru sampai ikut mendaki bersama mereka. Sepertinya dia ingin puas beristirahat di atas sana, tidak ingin berlama-lama di bawah pohon itu.
                Rintikan hujan sekarang menjadi deras, jarak pandang berkurang. Enday melepas kacamatanya, dia sulit melihat karna kacanya tertutup percikan air hujan. Imam terlihat paling depan, disusul Titi dan Vita, Enday agak sedikit jauh di belakang mereka. “Peppy” membantu wanita yang ikut bersama mereka, menggunakan trek di samping Enday. Gemuruh guntur membahana di telinga mereka. Enday menghentikan langkahnya, jantungnya berdebar lebih cepat. “Cocok banget dinamain Gunung Guntur...”, batin Enday.

12.45
                Beberapa puluh meter lagi mereka sampai di puncak tiga Guntur, puncak dari akhir perjalanan yang menanjak tiada henti dari awal pendakian, perjalanan yang benar-benar menguji kekuatan fisik dan mental mereka. Hujan sudah berhenti saat itu, awan mendung di atas Gunung Guntur perlahan lenyap, cahaya matahari mulai menyinari lagi.

“Vita! Berenti bentar! Katanya mao nyobain bawa carriel!”, Enday berbicara agak keras ke arah Vita yang berada tak jauh di depannya. Titi terlihat beberapa langkah lagi sampai di atas. Vita menunggu Enday.

“Nih bawa!”, Enday menurunkan carrielnya.

“Hep!”, Vita terlihat agak sulit memakai carriel Enday. Matanya terpejam, mulutnya tersenyum penuh arti. “Beraaaaat!”, teriak Vita.

                Enday tersenyum melihat Vita yang berlari di depannya, treknya masih menanjak. Enday beruntung mengajak Vita dalam acara pendakian ini. Enday belajar banyak dari Vita. Tentang semangat, tentang kerja keras, tentang usaha yang tanpa kenal lelah untuk mengejar sesuatu yang diinginkan.

“Kamu Kartini muda yang luar biasa Vitaaa!”, teriak Enday.

“Kamu juga laki-laki yang luar biasa Endaaay!”, Vita membalas sambil melanjutkan larinya.

“Ayo Vitaa! Sampeee!”, Titi menyambut Vita.

“Yeeee Vita kuat kan Ndaaay!”, Vita mengangkat tangannya ke atas, berteriak, tertawa. Badan “sale pisang”-nya tidak sebanding dengan carriel Enday yang terlihat lebih berisi darinya. Enday yang baru sampai tersenyum kepada Vita. Enday bangga punya sahabat kayak Vita.

                Imam terlihat duduk di dataran panjang yang cukup datar diantara dua lembah. Enday, Vita, dan Titi melipat raincoat-nya. Vita dan Titi wanita yang paling duluan sampai di atas sana dari pendaki wanita lainnya. Mereka menikmati pemandangan di bawahnya, kota Garut terlihat indah dari atas sana. Pematang sawah dan kebun-kebun luas milik penduduk yang mereka lihat ketika menaiki truk tadi terlihat sangat kecil dari atas sana. Tak jauh dari pandangan mereka terlihat “Peppy” dengan teman wanita barunya sedang berusaha menapaki tanjakan yang sulit didaki, sulit mencari pijakan yang tepat.
                Mereka bertiga berfoto, menikmati lukisan alam yang indah di sebelah kanan dan kiri mereka. Di sebelah kiri ada lembah yang cukup dalam, terlihat kabut menyelimuti lembah itu. Lembah di sebelah kanan terlihat sangat luas, ada beberapa pohon di tengah lembah itu. Cahaya matahari yang masuk ke lembah seakan membuat mata mereka enggan berkedip melihat keindahannya. Mereka melanjutkan perjalanan, Imam terlihat sudah jauh di depan. Di depan mereka terlihat sebuah puncak yang sepanjang punggungnya mengeluarkan asap. Mungkin itu puncak keduanya, pikir mereka.

13.45
                Mereka duduk di dataran yang cukup luas di bawah puncak kedua, berbatu dan dibatasi semak-semak dipinggirnya.

“Kayaknya kita diriin tenda disini deh, tempatnya luas”, ucap Imam kepada “Peppy” yang sudah sampai hampir berbarengan dengan mereka bersama pendaki wanita tadi. Titi terlihat sibuk melepas sepatu dan membersihkan kakinya yang basah.

“Yauda ayo, kita ngopi, kita tidur”, ucap “Peppy”.

“Vita lo udah belajar diriin tenda kan di rumah? Jangan malu-maluin gue!” seru Enday.

“Tenang ajaaa, Vita udah nyoba di rumah! Waktu itu maen camping-campingan ama adek Vita!”

“Terus? Bisa bediri tendanya?”

“Bisa dooong!”

“Nah sip! Pasang nih tendanya!”, Enday mengeluarkan tas panjang merah berisi tenda dari carriel-nya.

“Tapi pas disuruh masuk pada gak mao, takut roboh katanya hihihihi!”, Vita cekikikan.

“Yeh si oneng”, Enday memasang tatapan malas ke Vita. “Yauda ayo kita pasang!”

                Mereka menggelar tenda di dataran itu, di samping tenda Imam dan “Peppy” yang sudah mantap berdiri. Mereka memasang kerangka-kerangka tenda, memasukkannya ke jahitan secara menyilang lalu menekuk tenda itu. Vita terlihat minta tolong kepada Imam, Imam langsung membantu. Dia terlihat sangat mahir membentuk tenda, memasang pasaknya, dan memasang flysheet-nya.

16.25
“Nday kita maen ke atas yuk, ke puncak dua. Kayaknya deket tuh”, ajak Titi yang sudah memakai jaket kuningnya.

“Ayo, lari yak biar cepet?”

“Ayo siapa takut.”

“Vita, minjem sendalnya ya?”, Enday melongok ke dalam tenda, berbicara kepada Vita yang sedang merebahkan tubuhnya.

“Enday mau kemana?”

“Ke atas, ikut gak?”

“Ke atas?”, Vita menggeleng.

“Yauda lo disini tungguin Babe ama yang laen yaa!”

                Enday dan Titi berlari kecil ke arah puncak, tubuhnya terasa ringan karna tidak memakai carriel. Tanah dan batuan yang mereka lihat dari puncak tiga yang berasap terasa hangat di kaki mereka. Trek semakin menanjak, Titi berhenti berlari, Enday menunggu Titi.

“Hhh… lumayan juga Nday”, Titi agak terengah.

“Stamina kita belom pulih kayaknya. Lanjut gak Ti?”

“Lanjut Nday, nanggung kita udah segini.”

                Mereka melanjutkan jalan-jalan sore mereka ke puncak dua. Titi menoleh ke belakang, sudah banyak tenda yang berdiri, mungkin peserta GSR sudah sampai semua. Setelah sampai, mereka menyalami pendaki lain yang mendirikan satu buah tenda disana. Puncaknya cukup datar, tapi tidak seluas tempat mereka mendirikan tenda. Mereka melihat ke bawah, ke arah tenda rombongan mereka yang terlihat sangat kecil. Mereka berbalik arah, diseberang sana ada puncak yang bentuknya agak simetris, sudutnya tidak jauh berbeda ketika mereka naik dari awal pendakian. Dipisahkan oleh lembah yang terselimut kabut, lembah itu terlihat subur dan lembab, tidak ada ilalang.

“Itu puncak satunya ya Nday?”

“Kayaknya sih. Ini kan tempat berdiri kita sekarang puncak duanya.

“Males banget deeh, kesininya aja udah capek banget!”, suara Dewi Persiknya Titi terdengar khas di telinga Enday.

“Yauda yuk ke camp, kabut udah mulai turun nih.”

“Aaaayok, kita meluncur ya?”

“Aaaaayok!”, Enday mengerti maksud Titi.

                Mereka berlari kecil menuruni bukit puncak dua itu, kabut menyelimut semakin tebal, jarak pandang hanya sekitar satu meter, tempat camp mereka tidak terlihat lagi. Mereka berpegangan tangan agar tidak terpisah dan mudah menuruni bukit itu. Tanah yang mereka injak sangat gembur, berlumut, dan dibawahnya kadang ada batu cadas yang melukai tumit mereka. Kaki mereka kotor dengan tanah. Kulit di tumit kiri Enday mengelupas cukup lebar karna terpeleset di bebatuan, Titi juga terlihat lecet tumitnya. Mereka melewati pepohonan yang cukup rapat dan masuk kedalamnya, tanah untuk berpijak pun tertutup rapat ilalang-ilalang yang cukup tinggi. Mereka menghentikan langkahnya.

“Kayaknya tadi kita gak lewat sini deh ti.”

“Iya Nday, tadi pas naek kan gak ada pohon-pohonnya kaya gini.”

“Gara-gara kabut nih kita jadi gak bisa ngeliat trek turun ama tempat camp.”

“Yaah Endaay, ngeri gue”, Titi menggenggam tangan Enday erat.

“Niat jalan-jalan sore malah begini hahaha”, Enday coba mencairkan suasana.

“AMOOOOOY! LO DIMANA MOOOY!?”, Titi tiba-tiba berteriak keras memanggil Amoy.

“DISINIIII! KE KIRI KE KIRI!”, suara Amoy terdengar dari kejauhan, dibalik hutan pohon pinus, menyuruh mereka bergerak ke kiri.

“Tadi kan pas kita naek kita ada disebelah kanan pohon-pohon itu, sekarang kita di sebelah kirinya. Berarti kita terlalu melenceng ke kanan pas turun. Kita naek lagi aja, jangan nembus pohon-pohonnya, bahaya”, Enday berkata dengan tenang dibalik tebalnya kabut, mencoba menenangkan Titi.

              Mereka naik lagi ke atas, sampai batas vegetasi hutan pinus dan melipir ke kanan. Mereka merasakan rasa hangat di kaki mereka. Enday melirik jam tangannya, 17.15.

“Nah nih tanah ama batunya anget, trek pas kita naek tadi. Kita ikutin jalanan yang berbatu anget ini aja, pelan-pelan jangan lari”, Enday membiarkan Titi di depan, memberikan pegangan tangan ke Titi agar tidak terpeleset. Mereka terus menuruni bukit itu, dibalik kabut yang tebal mereka melihat warna biru, oranye, merah, macam-macam, samar terhalang kabut. Mereka berdua terus mendekat, tenda-tenda berwarna-warni terlihat jelas di depan mata mereka. Titi berlari ke arah tenda mereka.

“Beeeeh! Tadi gue kesasar beeeh!”, seru Titi yang berlari ke arah Babe di depan tenda. Di depan tenda terlihat Babe yang sedang memasak air panas dan Tika yang sedang menikmati udara gunung.

“Nah elu lagian ngapain ke atas? Kaga ada capeknya.”

“Jalan-jalan beh, mao ngeliat puncak Guntur.”

“Lah itu puncaknya kan keliatan dari sini?”, Babe menunjuk puncak dua yang sudah tidak tertutup kabut tebal lagi, tapi masih samar terlihat.

“Bukan beh, itu puncak duanya. Puncak satu ada dibelakangnya.”

“Lah jauh aja, kirain itu puncaknya!”

“Udah kumpul semua beh?”, Enday menghampiri mereka.

“Tinggal si Boim, tadi gua telponin malah marah-marah. Nih minum teh anget dulu”, Babe menyodorkan dua gelas yang mengepulkan uap panas kepada Enday dan Titi.

“Tika, gimana? Baik-baik aja?”, Tanya Enday ke Tika yang duduk di batu dekat tenda.

“Alhamdulillaaah, untung tadi ada orang baik banget ngajakin tukeran daypack-nya sama carriel gue. Tapi orangnya belom sampe”, ucap Tika yang memakai jaket merah berlogo kampus tempat dia kuliah di bagian dada kanannya.

“Ti, bersihin dulu kaki lo, terus kasih rivanol tuh ada di tas kecil gue.”

“Iya nih, perih.”

Mereka membersihkan kaki mereka dengan tisu basah, mengoleskan rivanol di luka mereka masing-masing.

“Beh, masak indomie yuk ah”, ajak Enday.

“kaga ada yang bisa dimasak, logistik sama nesting dibawa Boim semua. Ini gue masak aer pake parafin lu.”

“Gue juga kan carriel gue belom sampe”, Tika menyanggah omongan mereka.

“Gue ada indomie punya Vita empat bungkus.”

“Yauda kita minum teh ama jahe anget dulu.”

                Mereka menikmati hangatnya teh manis dan air jahe. Keakraban mereka menambah hangatnya suasana yang mereka rasakan. Vita dan Erna sedang bercanda di dalam tenda, pembicaraan mereka terdengar sangat seru. Vita selalu tertawa mendengar Erna bicara. Mereka semua seperti bukan kumpulan orang-orang yang baru dipertemukan di acara GSR ini, mereka seperti satu kesatuan dalam sebuah persahabatan yang terjalin sudah sejak lama. Enday melirik Nike-nya, pukul 17.55. Enday melewatkan solat Zuhur dan Ashar-nya.

“Boiiiiim! Lu gua telponin malah marah-marah!”

“Lagian lo ngapain sih Be nelponin gue, gue kan lagi ribet!”

“Aku kan khawatir sama kamu Boiiiim!”, Babe ngomelin Boim yang baru datang, Boim terlihat sangat lelah. Babe menyodorkan jahe hangatnya ke Boim.

22.15
            Langit malam di area mereka mendirikan basecamp terlihat cerah, tidak terhalang awan. Bintang-bintang bertebaran di langit. Enday membersihkan kacamata dengan kaos birunya lalu memakainya lagi. Enday menengadahkan kepalanya, menikmati hamparan langit luas di atasnya dengan gugusan bintang-bintang yang terasa dekat oleh penglihatannya. Bintang yang paling besar terlihat jelas kerlipannya. Enday tidak pernah melihat pemandangan seperti ini di Jakarta.

“Eh kalo mao tidur mah di rumah aja! Kalian pada gak ngeliat bintang!?”, seru Boim ke tenda yang didalamnya tertidur Vita, Babe, Titi, Erna, dan Tika.

“Udah pada tidur lo tereakin Bang!”

“Ini kan di gunung Nday, jarang-jarang bisa ngeliat pemandangan kayak gini.”

“Iya sih, bagus banget bang”, Enday masih terpana menyaksikan lukisan alam Sang Pencipta di atasnya.

“Gue tidur duluan ya Bang, ngantuk gue. Lo gak ngantuk apa?”, Enday berdiri dari tempat duduknya dan menepuk-nepuk pantatnya.

“Masuk aja duluan bro, gue entar aja.”

            Enday masuk ke dalam tenda milik Boim, tenda yang hanya muat untuk dua orang. Dia mengeluarkan sleeping bag dari dalam carriel-nya, membungkus tubuhnya ke dalam sleeping bag. Enday memejamkan matanya, dia bernyanyi dalam hatinya.

One night I stand, I remind of You our hope and dreams
Tears in my eyes when you gone so fast, when I realized
You know I can’t be perfect
I fall from You
You make me like I can’t stand with You
You make me like I can’t live with You
I can’t hold your hand
So please don’t let me down
I know I can’t be stronger when I know everythings over
Every time I feel, every day I think
I never see You once again
I try to be a stronger cause I can’t try to forget you
Oh no I missing You, I need is You
So please don’t make me feel like
I keep You in my heart

            Enday mendendangkan Hate To Miss Someone-nya Still Virgin. Enday enggan berpisah dengan sahabat-sahabat barunya. Enday merasa betah disini, orang-orangnya baik semua. Tak ada yang egois, semua saling berbagi dan saling menolong. “Gunung emang ajaib”, batin Enday.
***

            “Bangun bangun! Semuanya bangun! Sarapan, solat, terus siapin yang perlu dibawa! Kita summit attack abis solat subuh!”, Amoy berseru sambil berkeliling area camp dengan headlamp dikepalanya.

“Eh lo udah bangun Nday”, Boim terlihat di depan tenda sedang membereskan sampah.

Enday menyalakan lampu jam tangannya, pukul  04.05, “kita summit pagi ini bang?”

“Iya, bantuin gue masak yok. Biar entar cewek-cewek bangun udah siap”, Boim menyalakan kompor gas nesting-nya. Vita, Tika, Erna, dan Titi masih tertidur di dalam tenda. Babe terlihat baru bangun dan keluar dari dalam tenda. Enday memasak spaghetti Bolognese sedangkan Boim menggoreng chicken nugget. Disini malah cowok yang berperan menjadi ibu rumah tangga.

05.10
            Mereka selesai menghabiskan sarapannya dan bersiap untuk summit attack. Enday, Boim, dan Tika mengenakan headlamp dikepalanya.

“Coba keluarin persediaan aer masing-masing!”, seru Boim.

“Yah gue udah abis bang, tinggal setengah botol kecil. Kemaren pas naek stok aer gue buat bedua ama Vita”, jawab Enday.

“Vita?”, Tanya Boim.

“Vita udah abis buat masak aer sama masak indomie kemareeen”, Vita menjawab dengan intonasi yang terdengar manja.

“Babe, Erna, sama Titi mah gak bawa aer, gue yang bawa. Punya gue tinggal seliter. Haduh”, Boim kebingungan.

“Punya Tika masih dua botol kok, dua botol ukuran seliter”, Tika memberikan harapan ke semuanya.

“Oke berarti gini. Punya gue yang satu liter buat naek ke atas, yang dua liter punya Tika buat entar perjalanan kita turun. Harus cukup ya, minum sekedar buat basahin tenggorokan aja. Aer gue dimasukkin ke daypack Titi aja, bawa juga cemilan ama nata de coco. Enday yang bawa daypacknya, entar kita gantian. Oke Nday? Gue jalan paling depan, cewek-cewek ditengah, lo di belakang Nday”, Boim seolah menjadi leader mereka. Mengkoordinir logistik dan formasi pendakian.

            Mereka berjalan menapaki tanah dan batuan yang hangat menuju puncak dua, treknya yang hampir vertikal cukup menguras tenaga. Lampu-lampu dari senter dan headlamp pendaki terlihat menari-nari beriringan. Ada yang sudah sampai di atas, tim “Nyot-nyot” masih di tengah. Nafas Enday entah mengapa mulai terengah-engah, padahal kemarin sore dia kuat ke puncak dua tanpa sedikitpun merasakan lelah. Enday merasakan dingin, dia memang hanya mengenakan kaos yang dilapisi sweater hitam yang tidak terlalu tebal, sarung terlilit di lehernya, dan sarung tangan hitam sedikit menghangatkan ujung-ujung jarinya. Rona jingga kekuningan mulai nampak dari ufuk timur di belakang mereka, gelap mulai menghilang dikalahkan oleh sedikit sinar Sang Surya yang merembes keluar dari ufuk timur. Enday melirik ke kiri, agak jauh disana terhampar hutan pinus yang cukup rapat. Ternyata kemarin dia dan Titi tersesat cukup jauh kesana.

Puncak Dua Guntur, 05.40
            Mereka sampai di puncak dua. Mereka berfoto berlatarkan matahari terbit di belakang mereka. Boim mengeluarkan bendera dari dalam daypack yang dibawa Enday. Sang Saka Merah putih dibentangkan oleh Boim. “Woi! Potoin gueeee!”, teriak Boim ke arah Babe yang memegang kamera digital.
            Sedikit demi sedikit pendaki dari GSR menuruni lembah di depan mereka, menuju puncak tertinggi Guntur. Banyak yang masih berfoto dan enggan menyebrang kesana. Mungkin mereka sudah cukup puas sudah bisa sampai di puncak dua. Atau mungkin mereka sudah terlanjur menyerah melihat puncak Guntur yang treknya menanjak dan menanjak lagi jauh disana.

“Vita ayok!”, seru Enday.

“Hem?”, Vita menatap Enday kemudian menggeleng. Babe, Erna dan Titi sebelumnya memang sudah sepakat cukup sampai puncak dua, Vita sepertinya mengikuti kesepakatan mereka.

“Ayok! Lo beneran gak mao ikut? Sayang banget loh udah jauh-jauh kesini!”, Enday meyakinkan Vita.

“Vita disini ajadeeeh”, Vita merajuk.

            Enday menatap Vita sesaat, kemudian turun ke lembah bersama Boim dan Tika. Enday mengikat kedua ujung Merah Putih di lehernya, bendera itu dijadikan jubah. Enday berlagak kayak Superman.

“Tikaaa, nengok sini dooong!”, Boim yang menyorotkan Canon mode videonya memanggil Tika yang berada di depannya. Enday terlihat paling depan dengan bendera Merah Putih-nya. “Kita lagi dimana niiih?”.

“Hay saya Tika.  Kita lagi berjalan menuju puncak satu Guntur, dua ribu dua ratus empat puluh sembilan meter di atas permukaan laut. Disana puncaknya!”, Tika tersenyum ke kamera dan menunjuk puncak utama Guntur yang masih terlihat agak jauh di atas sana.

“Hay saya Enday! Kita mau ngibarin bendera Merah Putih di atas sana! Di Puncak Guntur!”, Enday menunjuk bendera yang ia jadikan jubah dengan jempol kirinya, lalu menunjuk puncak Guntur yang diatasnya sudah terlihat beberapa pendaki GSR yang berteriak kegirangan di atasnya.

            Boim terus merekam Tika dan Enday. Tika direkam 5 menit, dan Enday direkam 5 detik. Boim memang terlihat mempunyai tatapan yang beda kepada Tika sejak di UKI.

“Beberapa langkah lagi kita sampe, itung mundur langkahnya dong!”, Boim berseru kepada kedua temannya itu.

“Sepuluh!”

“Sembilan!”

“Delapan!”

“Tujuh!”

“Enam!”

“Lima!”

“Empat!”

“Tiga!”

“Dua!”

“SATU!”

“KITA DI PUNCAK GUNTUUUUR!!!”

Puncak Guntur 2.249 mdpl, 07.05.
            Teriakan mereka meledak. Mereka haru dalam bahagia. Mereka berkumpul dengan pendaki GSR lain, membuat lingkaran dan memanjatkan doa syukur kepada-Nya, kepada Zat yang menciptakan alam yang teramat indah di mata mereka. Enday dan Tika bersujud mencium tanah yang hangat di puncak Guntur. Mereka melepas semua lelah yang hinggap di dalam diri mereka. Naik truk dengan jalanan yang ekstrim, lokasi penambangan pasir, mendaki tanpa bonus dari awal pendakian, hujan di tengah pendakian, merangkak, terjatuh, mereka melepaskan semuanya dengan berteriak. Mereka takjub dengan pemandangan dari atas sana yang terhampar indah pemandangan kota garut di bawahnya, dan menjulang dengan gagahnya Gunung Cikurai dan Gunung Papandayan diseberangnya. Terlihat beberapa gunung dan banyak bukit-bukit disekitar puncak Guntur. Garut mempunyai banyak gunung.

“Nday, potoin gue lagi ngibarin bendera ya, ntar kita ganti-gantian ama Tika”, Boim menyerahkan Canon-nya ke Enday. Enday mengabadikan gambar Boim yang mengibarkan Sang Saka Merah Putih dengan latar jajaran pegunungan dan langit yang biru cerah. Kemudian Enday mengambil gambar Tika. Boim belum puas, dia meminta Enday mengabadikan gambar dirinya bersama Tika. Bersama Tika lagi. Dan bersama Tika lagi. Enday jadi “obat nyamuk”.

“Gantian sekarang gue bang! Enak aje luh gue jadi potograper mulu!”, Enday ngomel ke Boim.

“Hahaha siap brooo!”

            Mereka banyak berfoto, bercanda, menikmati nata de coco yang Boim sebut “Minuman Kemenangan”, menghirup aroma belerang, dan tidak bosannya menatap sekeliling puncak Guntur. Amoy terlihat menghampiri Enday.

“Si Vita mana Nday?”

“Gak ikut Bang, tadi gue ajak gak mao.”

“Yah sayang banget, padahal optimis banget tuh anaknya. Semangat terus dari awal ngedaki.”

“Capek kalih dia Bang.”

“Kalo capek bisa gue gendooong, tadi aja tuh anak-anak gue tarik pake webbing ampe atas.”

“Tau tuh anak, ngikutin tim Nyot-nyot kalih haha!”

            Mereka semua berfoto dengan pendaki-pendaki GSR lain yang sudah berkumpul, memang terlihat tidak semua peserta GSR yang berada di puncak Guntur, hanya sekitar 40-an orang. Mereka berfoto dengan spanduk Kemang Adventure, spanduk Guntur Smart Race, spanduk sponsor, bendera berbagai komunitas grup pecinta alam, dan tentunya Sang Saka Merah Putih.

“Dibalik dinginnya udara gunung, ada kehangatan diantara pendaki-pendakinya.”


Area camp, 08.30.
            Semua pendaki GSR terlihat sibuk. Ada yang membongkar tenda, ada yang memasak, bahkan ada yang carriel-nya telah siap digendong. Acara utama dilaksanakan disini. Lomba peta buta dan “How Smart are You” yang berisikan soal-soal yang mengetes sampai sejauh mana penglaman dan pengetahuan seorang pendaki. Kedua games ini dilakukan secara berkelompok dan diberikan waktu 10 menit untuk menyelesaikannya. Selesai mengerjakan games, panitia mengumpulkan sobekan kartu doorprize dari semua peserta lalu mengundinya. Ada yang mendapat cover bag, kaos, dan sleeping bag. Enday, Titi, dan Babe mendapat Topi dari Makalu Outdoor, salah satu sponsor GSR. Tim “Nyot-nyot” sejodoh mendapatkan doorprize yang sama. Selanjutnya sesi tukar kado yang diatur oleh panitia waktu meeting point di Monas kalau isi kadonya adalah barang dengan kisaran harga 5.000-10.000 rupiah dan mencantumkan tulisan mengapa memberikan barang tersebut. Vita mendapat dua pembatas buku yang terbuat dari kulit dan bermotif wayang, Babe mendapat topi kupuk, dan Boim yang bertingkah lucu karna medapatkan beberapa bungkus Indomie. Tika terlihat kaget melihat Enday yang mendapat bungkusan kertas coklat yang sangat Tika kenali bentuknya.

“Ih Nday, itu kayak punya gue deh”, Tika menunjuk kado yang Enday dapat dengan tatapan heran. “Kenapa elo yang bisa dapet ya?”

“Ini punya lo?”

“Iya, coba buka deh.”

Enday merobek bungkusan kertas coklat itu perlahan. Didapatinya kain batik berwarna biru hitam dan bercorak khas batik suku Baduy. Ada secarik kertas di dalamnya, Enday membaca tulisannya.

Salam Lestari . . .
      Slayer Badui ini aku persembahkan kepada yang beruntung dapatin kado ini, coz satu pelajaran yang aku pengen kasih ke kamu, “Belajar merelakan barang yang kita sukai, apabila ada orang lain yang lebih menyukai benda kepunyaan kita” walaupun kamu gak minta ke aku, tp aku yakin, kamu menyukai slayer ini . . . heee :)
      Example: Ada orang laen ngasih Slayer badui ini ke aku, orang itu sama kaya kita, anak pecinta alam, tp Alhamdulillah slayer ini belum pernah aku pake, Maka’a aku pengen ngasih slayer kesayangan aku ini ke kamu . . .

Salam kenal, Semoga kita bisa menjadi teman baik . . .
By :)

_27F63XXX_

         Enday tersenyum simpul membacanya, Enday memang suka warna biru, apalagi setelah membaca pesannya, Enday semakin suka dengan hadiahnya. Ada pin Blackberry di akhir suratnya.

“Tikaaa! Makasih bangeeet! Berharga banget ini pastinya buat gueee!”, Enday berseru dan menyalami Tika.

“Hahaha sama-sama Nday!”

“Pake nyantumin pin BB segala lagi, gue kan gak pake BB Tikaaa! Hahaha!”

“Hahaha ntar pas sampe rumah langsung beli aja!”

“Wahahah duitnya abis buat kemarih!”

“Hahahah!”

Mereka bergembira dengan kadonya masing-masing. Enday terlihat yang paling bahagia.”Terima kasih banyak Tika”, batin Enday.

            Panitia mengumumkan peserta yang akan mendapat hadiah utama berupa carriel Eiger Avtech ukuran 50 liter. Panitia membaca kode undian perlahan. Untuk beberapa detik belum ada tanda-tanda siapa peserta yang beruntung mendapat hadiah itu. Kemudian suara sorakan terdengar dari seorang anak kecil, anak kecil yang Enday dan Vita lihat di lokasi penambangan. Anak itu berlari menghampiri panitia, raut wajahnya terlihat bahagia.

“Yeeeh yang dapet anak kecil! Hahaha adil banget jadinya!”, seru Babe.

“Iya jadi orang-orang gedenya gak ngiri, dia kan satu-satunya anak kecil yang ikut kesini”, Erna tersenyum melihat anak kecil itu.

“Hebat ya dia bisa sampe sini.”

“Iya, jadi makin semangat mendaki deh tu anak.”

“Namanya siapa sih?”

“Kalo gak salah denger Bryan deh. Apa Rian, apa Rain gitu.”

Enday memastikan pandangannya ke anak itu. Di leher anak itu terkalung slayer bercorak bendera Inggris bertuliskan United Kingdom. “Itu kado punya gue!”, Enday kaget sekaligus senang.

10.25
            Sebagian pendaki-pendaki GSR mulai meninggalkan area camp. Tim “Nyot-nyot” terlihat tidak terburu-buru. Boim memimpin stretching dan doa yang tidak dilakukan oleh kelompok lain. Mereka berfoto bersama lagi, merangkul satu sama lain.

“Nday, aernya sebotol sama lo dan sebotol lagi sama gue. Gue jalan paling depan, cewek di tengah, lo dibelakang ya. Jangan mencar kayak waktu pas naek, soalnya kalo ada yang aus entar repot”, Boim mengkoordinir mereka lagi.

            Mereka mulai berjalan menuruni bukit dan menyusuri jalan setapak diantara dua lembah. Mereka sampai di titik awal turunan yang terjal, trek dimana mereka melakukan pendakian yang berat. Boim, Tika, Vita, dan Babe semakin jauh di bawah. Enday paling belakang menjaga Titi dan Erna yang turunnya agak lambat karna Titi yang memakai sepatu Converse, sangat tidak mendukung untuk perjalanan turun yang terjal seperti itu. Erna lambat karna… ya, badan “Julia Perez lapis tiganya”. Mereka tidak membayangkan kalau turunnya akan sesulit itu. Mereka mengambil pijakan dengan hati-hati, terduduk, berseluncur menggunakan bokong, mereka seperti anak-anak TK yang sedang bermain perosotan. Bedanya disini adalah nyawa taruhannya. Sesekali mereka berhenti dan menenggak air dari botol minuman Enday.

“Inget kata Boim, minumnya sekedar buat basahin tenggorokan aja, perjalanan kita masih jauh”, Titi mengingatkan.

“Ngomong jangan mencar-mencar, tapi mereka udah pada jauh di depan”, Erna ngedumel melihat Boim, Tika, Vita, dan Babe yang terlihat sudah lumayan jauh menuruni gunung. “Untung masih ada Enday disini”, Erna cengengesan ke arah Enday.

“Gue? Gue kan baru pertama naek gunung, gue bisa apaan?”, Enday membatin kebingungan.

            Mereka lanjut menuruni gunung. Curam, sangat curam sudutnya. Mereka kesulitan memakai kakinya untuk menuruni trek yang meliputi kerikil berpasir, mereka lebih sering menggunakan bokongnya. “Baru kali ini gue liat di gunung orang jalan pake pantat”, batin Enday.
            Titi perlahan meninggalkan Enday dan Erna yang masih dibelakang, semakin jauh dan menjauh sampai tak terlihat.

“Nday, lo temenin gue ya, jangan ninggalin gue…”, tampang Erna agak memelas.

“Tenang aje Mpok, gak bakal gue tinggaaal! Kita pelan-pelan aja yang penting selamet sampe bawah”, Enday menenangkan Erna.

“Lo jalan di depan gue deh Nday, gue ngikutin lo dari belakang biar gue gak salah napak.”

            Enday merosot dengan kakinya, terhenti untuk memilih pijakan yang tepat, terpeleset, merosot dengan bokong, berdiri lagi, terpeleset lagi. Kadang batuan sebesar bola tenis menggelinding ke arah pendaki di bawahnya. Enday selalu berteriak “Awas batu!” sebelum batu itu menghampiri pendaki di bawahnya. Itu yang ia baca di novel 5 cm.
            Enday dan Erna berpapasan dengan pendaki laki-laki yang masih memakai kaos GSR, tubuhnya gemuk dengan pipi tembamnya yang berewok kasar.

“Gilak bang, turunnya ekstrim begini!”, seru Enday.

“Iya nih, pas naek mah naek aja gak ngebayangin turunnya bakal kaya gimana”, kata Abang itu.

“Ayok bang kita bareng, sampe pohon situ istirahat sebentar aja”, Enday menunjuk pohon cemara yang tidak jauh di bawahnya.

            Mereka melanjutkan ritual menuruni gunung. Terpeleset, merosot, tangan mereka kotor dan lecet karna membantu tubuh masing-masing agar tidak tergelincir saat terpeleset dan merosot. Enday sampai di pohon itu lalu merebahkan carrielnya di pohon agar tidak menggelinding ke bawah. Dia mengeluarkan botol minumannya yang isinya tinggal setengah. Erna dan Abang yang bersamanya menghampiri Enday. Abang itu duduk bersandarkan carrielnya, kakinya menyaggah rerumputan agar dia tidak terperosot ke bawah. Erna menurunkan daypacknya yang terlihat sangat penuh dan berbentuk agak bundar. Daypack Erna menggelinding ke bawah, Enday berusaha menangkapnya tapi tidak berhasil. Daypack Erna terus menggelinding ke bawah.

“Yah yaah yaaah yaaaah Endaaaaay… gimana nih Ndaaaay…”, Erna memelas.

“Tenang Mpok, pasti berenti, kita liatin aja dimana berentinya”, Enday dengan tampang sok tenang bak Mario Teguh yang sedang memberikan motivasi menenangkan Erna yang memelas melihat daypacknya yang masih menggelinding ke bawah, ke arah ilalang-ilalang. Abang berewok itu juga ikut memperhatikan.

“Nah berenti disitu!”, Enday melihat letak daypack Erna berhenti menggelinding, cukup jauh dari tempat mereka berdiri.

“Lo yang turun Nday ntar gue tarik, gue bawa webbing, mudah-mudahan cukup sampe situ”, kata Abang bewok itu yang mengetahui namanya, mungkin dia mendengar dari mulut  Erna yang sering memanggil Enday.

Enday turun dengan cekatan berkat bantuan webbing, dia berpegangan dengan webbing yang ditahan oleh Abang bewok itu dari atas. Webbing itu sedikit tidak mencapai daypack Erna, tapi berkat tangan Enday yang kurus panjang, dia berhasil meraih daypack itu.

“Hap! Dapet Mpok!”, Enday berteriak ke arah Erna di atas. Erna tersenyum lega.

“Naek Nday!”, seru Abang bewok itu.

Enday menggemblok daypack itu di pundaknya dan naik ke atas dengan bantuan webbing.

“Shock banget gue Nday, bisa gelinding gituuu… puluhan kali gue naek gunung baru kali ini daypack gelinding!”, Erna terlihat melotot.

“Lagian daypack lu bisa bunder gitu Mpok! Untung bukan orangnya yang gelinding kan sama-sama bulet!”

“Hemm, rese lo Nday!”

“Hahaha kita minum dulu dah Mpok.”, Enday menyodorkan botolnya kepada Erna, Erna menenggak sedikit, Enday juga menenggak sedikit, air mereka tinggal sedikit.

“Bang, punya aer gak?”, Tanya Enday.

“Abis aer gue”, tampang Abang itu terlihat lelah.

“Nih minum dulu nih”, Enday menyodorkan botol airnya. Abang itu menenggak sedikit, ia juga sepertinya tau kalau itu stok air terakhir Enday dan Erna. Enday menuang air dari botol ukuran 1 liter itu ke dalam botol oranye kecil di tas pinggangnya agar mudah mengambilnya. Mereka bersiap melanjutkan perjalanan turun.

“Awas Mpok gelinding”, Enday meledek Erna. Mereka tertawa.

            Mereka lanjut menuruni Gunung Guntur. Terpeleset, merosot, berpegangan pada rerumputan, terpeleset lagi, merosot lagi. Trek pun terputus, Enday berhenti.

“Treknya keliatan gak Nday!?”, Abang Bewok itu berteriak bertanya ke Enday.

“Treknya putus disini, kayaknya kita mesti melipir ke kiri deh! Nih rumputnya bekas keinjek-injek, pasti yang laen tadi juga lewat sini!”

            Enday melipir punggung gunung ke arah kiri, Enday menemukan trek lagi, trek kerikil berpasir. Erna dan Abang bewok di belakangnya terus mengikuti Enday. Enday mengingat video di youtube yang pernah ia lihat ketika ada pendaki yang menuruni Mahameru, pendaki itu terlihat asik menuruni trek Mahameru-Khelik yg berpasir dengan berseluncur menggunakan tumit kakinya. Enday ingin mencobanya.
            Enday terus turun ke bawah, meluncur menggunakan kakinya. Kedua tangannya direntangkan ke samping. Enday merasa bisa terbang. Carriel besarnya tidak menjadi hambatannya meluncur. Enday merasakan perasaan senang saat meluncur. Enday turun dengan cepat meninggalkan Erna dan Abang bewok yang lumayan jauh di belakangnya. Melewati beberapa pendaki wanita yang merosot menggunakan bokongnya. Enday sampai di batu besar tempat dia beristirahat waktu perjalanan naik dengan Vita dan Titi. Enday berhenti disitu bersama Chandra, yang masih Enday ingat namanya waktu memperkenalkan diri di Monas, nama panggilannya Encan. Rain si anak kecil yang luar biasa. Beberapa wanita berjilbab, dan seorang lelaki yang Enday fikir adalah Ayah si Rain. Mereka istirahat bersama di batu itu. Enday mengacungkan botol oranye-nya dan menggoyang-goyangkannya. “Mpok minum Mpoook! Ayo siniiiii!”, Enday berteriak menyemangati Erna yang masih merosot menggunakan bokongnya di atas sana.
            Erna dan si Abang bewok sampai di batu itu, Enday berbagi minuman lagi kepada Erna dan Abang bewok itu.

“Abisin aja mpok, mudah-mudahan tenggorokan kita cukup kuat sampe aer terjun”, Enday menyuruh Erna menghabiskan stok air terakhir mereka.

“Sendal gue putus Nday, tuuuh…”, Erna memelas lagi sambil mengacungkan sandal eiger yang talinya terputus.

“Yaaah sendal gue di daypack-nya Vita Mpok!”, seru Enday.

“Ada yang punya sendal gak?”, Erna bertanya kepada semua orang yang berada di batu itu.

Seorang wanita berjilbab mengeluarkan sandal jepit dari dalam daypacknya. “Nih pake aja Mbak”.

“Makasih ya Mbak, ntar di bawah saya balikkin”, Erna tersenyum. Perasaannya lega.

“Nih minum mas”, Ayah Rain menyodorkan botol air berwarna keunguan bergambar buah pome.

“Makasih ya mas”, Enday tersenyum lalu menenggak sedikit jus itu dan mengopernya ke Erna. Mereka beruntung karna mendapat sedikit energi tambahan.

“Ini anaknya mas?”, Tanya Enday.

“Iyaa.”

“Hebat banget mas anaknya, gak ngeluh sama sekali. Gak ngerengek minta digendong. Hebat!”, Enday kagum.

            Awan mendung mulai menyeruak di atas punggung Gunung Guntur, terlihat hanya menyeruak di atas gunung yang “botak” itu. Rombongan yang tadi beristirahat bersama mereka sudah melanjutkan perjalanan duluan bersama si Abang Bewok.

“Lanjut Mpok?”

“Lanjut Nday!”

“Lu gak pake raincoat Mpok?”

“Enggak ah, nanggung udah kotor begini.”

“Yauda yuk kita kemon!”, Enday sudah siap melanjutkan perjalanan setelah memakai raincoat ponco birunya.

13.40
            Hujan turun dengan deras, Enday melepas kacamata dan mengantonginya. Enday menampung air hujan dengan raincoat yang ia tengadahkan dengan tangan dan meminumnya. Mereka sudah memasuki areal hutan. Datarannya sudah mulai agak rata dan tidak menyusahkan seperti di atas tadi. Enday dan Erna terus berjalan diselingi candaan-candaan agar lelah tidak mereka rasakan. Mereka berdua sama-sama humoris. Mereka menemui  jalan setapak bercabang. Enday menghentikan langkahnya, mengingat jalan mana yang benar. Enday terus meneruskan langkahnya, Enday melihat Chandra yang kaos merahnya basah kuyup sedang mengimami Rain dan wanita-wanita berjilbab yang mengenakan raincoat, mereka melaksanakan solat Zuhur di tengah gunung, disaat turun hujan. Hati Enday tercekat, hatinya terasa ditampar. “Gilak, di tengah gunung gini, ujan-ujanan, mereka solat. Gue yang di rumah nyantai, nonton tivi, online, sering males solat!”, Enday menengadahkan kepalanya ke atas, “Yaa Allaah, maafin Hamba yaaa…”
            Enday dan Erna melanjutkan perjalanan, mereka berpapasan dengan Imam bersama pendaki-pendaki GSR lain yang sedang berteduh di bawah flysheet yang diikat di batang-batang pohon. Imam menyodorkan segelas kopi susu yang masih mengepul karna panas.

“Nih minum dulu bro!”

“Makasih Bang Imam!”, Enday menerima kopi dari Imam dan meminumnya, hangat. Hangatnya kopi yang ia minum bercampur dengan hangatnya suasana disana. Dibalik dinginnya udara gunung, ada kehangatan diantara pendaki-pendakinya.

“Bro, gue boleh minta tolong bawain daypack gue gak? Gue takut dalemnya basah soalnya bukan punya gue”, Chandra yang tidak mengenakan raincoat meminta tolong kepada Enday.

“Sip sini bang, gue gemblok di depan”, Enday meraih daypack dari tangan Chandra lalu menggembloknya di depan dan ditutupi dengan raincoat birunya.

“Gue gak mao kesini lagi…”, Chandra menggeleng dengan tatapan yang kosong.

            Enday berjalan di depan, pundaknya mulai terasa sakit karna beban carriel dan daypack yang ia gendong di depan dan belakang tubuhnya. Sesekali terlintas Vita dipikirannya, “Vita baik-baik aja kan yaa? Ya Allah, jagain Vita yaa…”, Enday mendoakan sahabatnya yang mulai dari awal menuruni gunung sudah jauh meninggalkan mereka.

“Kuat Nday?”, Erna bertanya dibelakang.

“Alhamdulillah Mpok masih kuaaat!”

“Udah berapa kali naek gunung Nday?”

“Mmm… jangan kaget yaa.”

“Berapa kali emang Nday?”

“Ini yang pertama Mpok.”

“Hah!? Beneran!?”, Erna sedikit kaget.

“Iya, gue sama Vita baru pertama kali muncak.”

“Tapi lo hebat Nday, cocok lo jadi pendaki gunung. Badan lo tinggi lagi, cocok deh.”

“Haha si Empok bisa ajee!”

“Abis berapa buat belanja?”

“Satu setengah Mpok.”

“Wets lumayan. Beli carriel, sleeping bag, sepatu segala macem Nday?”

“Iya yang penting-penting pokoknya dibeli lah haha.”

“Nday, gue udah lama nikah tapi belom punya anak. Doain yaa supaya cepet dikasih momongan.”, Erna jadi curhat.

“Aamiin Mpok gue doain! Gue doain anaknya entar kembar!”

“Yeee jangan kembar juga kali! Eh tapi gak apa apa deh Nday hahaha! Doain yaa!”

            Hujan mulai berhenti. Mereka mulai menuruni tangga alami bebatuan dan akar pohon yang menjadi licin karna air hujan. Nafas Enday memburu, pundaknya benar-benar terasa pegal dan sakit. Daypack didepannya menutupi pandangannya untuk menuruni tangga-tangga besar alami itu. Sesekali Enday meminta Erna dibelakangnya memegang tangannya supaya Enday tidak tergelincir.

“Bro! Ujannya udah berenti, sini daypacknya gue yang bawa!”, Chandra berseru dari arah belakang. Enday menyerahkan daypack itu kepada Chandra, kini pundaknya agak sedikit terasa ringan.

“Nih Bang.”

“Makasih banyak bro, lo gak apa apa kan?”

“Gak apa apa bang.”

“Ampun deh, gue gak mao kesini lagi! Enggak!”, keluh Chandra.

            Mereka melanjutkan menuruni jalan setapak yang berbatu-batu besar itu. Berhati-hati, berpegangan pada akar pohon, rumput, ilalang, apapun yang bisa mereka pegang agar mereka tidak terpeleset. Mereka terus berjalan turun dan turun menapaki jalan setapak yang mereka lalui waktu mendaki ke atas.

“Eeeeh hehehe Endaaaay!!!”, Vita cekikikan melihat Enday yang sedang menuruni jalan setapak. Enday tersenyum melihat Vita yang kelihatan baik-baik saja. Disana terlihat Babe dan Titi bersama pendaki-pendaki GSR lainnya sedang beristirahat. Ada yang rebahan di batu besar dan ada yang memasak.

“Boim mana beh?”, Tanya Erna yang baru menghampiri mereka.

“Gak tau, gue betiga doang ama Vita ama Titi. Boim paling sama Tika.”

              Mereka mengobrol, bercanda lagi. Erna menceritakan kejadian saat daypacknya menggelinding, sendalnya yang putus, sempet nyeker pas turun, dipinjemin sendal. Vita bercerita saat dia terpeleset lalu jari tangannya terluka. Titi menceritakan perjalanan turun merosotnya sampai celananya robek lumayan lebar, untung dia mengenakan celana pendek lagi didalamnya.

“Dipajang tuh celananya, di pigura, jangan dicuci, biar entar bisa diceritain ke anaknya”, salah seorang pendaki nyeletuk.

“Hahaha iya juga yaa. Boleh tuh boleh, entar di rumah dipajang deh”, Titi setuju.

“Mendaki itu bukan sekedar kita berdiri di puncaknya lalu berbangga diri, tapi bagaimana kita melawan keegoisan hati.”

Lokasi penambangan pasir, 15.20.
            Enday, Vita, Erna, Babe, dan Titi telah sampai di lokasi penambangan, lokasi dimana mereka akan memulai perjalanan turun dengan menggunakan truk pasir. Perjalanan yang buat mereka lebih ekstrim dari Halilintar, Hysteria, ataupun Tornado di Dufan. Raut wajah mereka terlihat lega.

“Senang mendaki dengan anda!”, Enday menyalami Erna. Erna tersenyum penuh arti.

“Senang mendaki dengan anda Bu!”, Enday menyalami Babe. Babe tersenyum santai dengan wajah “selow”-nya.

“Nyot-nyot kalian semua luar biasaaa!”, Babe berseru di lokasi penambangan.

16.35
            Enday, Vita, dan Titi berdiri di atas bak truk pasir kuning bersama 30-an orang pendaki GSR. Babe dan Erna duduk dibangku depan samping sopir. Mereka rombongan pertama yang meninggalkan lokasi penambangan. Kali ini perjalanan turun terasa lebih “maut” dari perjalanan naik. Jalur tanahnya yang basah menjadi licin dan rawan longsor. Vita berjongkok memeluk kaki Enday, kepalanya tertunduk ke bawah menahan takut. Enday duduk bersandar di bibir kiri bak truk itu. Truk itu terguncang, bergoyang ke kiri, bergoyang ke kanan, tersentak ke depan, terjungkir ke belakang. Melewati tugu yang yang patah, sawah, perkebunan, perumahan penduduk.

“Gilak tuh gunung, kecil-kecil cabe rawit!”

“Turun gak bisa pake kaki, turunnya ngesoood!”

“Kaga ada bonusnya! Kaga dikasih ampun! Haha.”

“Gue gak mao ah kesini lagi!”

“Gue mao tapi nunggu amnesia dulu, nunggu lupa ama treknya haha!”

“Gue sih mau lagi kalo ada yang ngajak. Pemandangannya keren, treknya mantep! Kenangannya banyak!”

Para pendaki berkomentar di atas truk itu. Menceritakan pengalaman-pengalamannya selama mendaki dan perjalanan turun.

            Puncak Guntur terlihat terselimut awan, puncaknya yang tandus tidak terlihat dari bawah oleh mereka, langit sore menghiasi latar gunung itu. Gunung yang memberikan banyak pelajaran kepada mereka semua. Tentang arti hidup, tekad, semangat, impian, kerja keras, usaha tak kenal lelah, kebersamaan, saling berbagi, saling menghargai. Mereka merasa kecil dihadapan-Nya, mereka Mensyukuri nikmat Yang Maha Kuasa agar mereka tidak menjadi manusia yang angkuh. Enday terdiam menatap Guntur, terbayang saat ia melihat Chandra, Rain, dan wanita-wanita yang mendirikan kewajibannya sebagai seorang muslim dan muslimah di tengah gunung, tanpa ada yang melindungi mereka di tengah dingin dan derasnya hujan. Enday berjanji kepada dirinya sendiri dan Zat Maha Sempurna di atas sana bahwa ia tidak akan meninggalkan kewajibannya sebagai umat muslim, kewajiban solat lima waktu. Mereka semua masih terpana melihat keagungan Guntur.

Jakarta, 1 Maret 2013. 19.30.
            Jalanan di daerah Blok M malam itu sangat padat. Seorang pemuda bertubuh kurus tinggi mengekan jaket hitam dan jeans abu-abu gelap dengan sepatu Airwalk hitam mengendarai lambat satria-nya bersama seorang wanita kurus yang memakai kaus merah lengan panjang, jeans biru gelap, sepatu converse merah, dan kerudung putih yang terlihat dari dalam helm membonceng di belakangnya. Mereka masuk ke Blok M Plaza, pemuda membawa satria biru-putihnya ke lantai under ground. Mereka masuk ke dalam lift dan menekan tombol berangka  6.

“Telat nih kita Vit, Nyot-nyot pasti udah nungguin dari jam tujuh.”

“Enday sih bawa motornya lambreta tralala!”

“Jakarta coooy Jakartaaaa!”

“TRING!”, pintu lift terbuka, Enday dan Vita bergegas menuju restoran seafood yang ada di lantai itu.

“Vitaaaa! Endaaaay!”, seorang wanita bertubuh gemuk berdiri memanggil mereka.

“Kak Ernaaaa! Uhuhuhuhuuu kangeeen!”, Vita berlari menghampiri Erna, Babe, Titi, Tika, dan Boim yang duduk sofa di dalam restoran. Vita memeluk Erna.

“Kak Babeee! Kak Titiiii! Kak Tikaaa! Kak Boiiim!”, Vita memeluk mereka satu persatu, kecuali Boim yang hanya mendapat salaman tangan dari Vita. Enday menyalami mereka dengan senyuman penuh arti.

“Bang Boim! Abang gue! Haha!”

“Wets apa kabar lu bro!?”, mereka bersalaman dan berpelukan.

“Nyot-nyot kumpul lagi niiih!”, Babe nyeletuk.

            Enday dan Vita duduk, mereka bercanda lagi, bercerita setelah pendakiannya dari Guntur. Enday yang selalu bekerja tak kenal lelah untuk bisa membiayai dirinya sendiri agar bisa kuliah, Enday yang gak pernah ninggalin solatnya lagi, Enday yang udah bukan Enday yang dulu lagi. Vita juga bercerita. Vita yang udah gak murung lagi, Vita yang selalu ceria, Vita yang selalu memaafkan kesalahan teman-temannya, Vita yang selalu sabar menghadapi junior-juniornya, Vita yang udah gak punya sifat mendendam lagi. Mereka semua larut dalam kebersamaan malam itu.

“Eh tau gak kenapa kalian gue suruh kumpul disini?”, Tanya Boim.

“Elu mau neraktir kita Im!”, Babe nyeletuk lagi.

“Iyaiya oke, tapi ada lagi.”

“Apaan?”

“Gue… sama Tika… Jadian.”

“HAH!?”

“SERIUS LO!?”

“BENERAN IM!?”

“BANG BOIM MODUS WAHAHAH!”

“Iiiih Bang Boim, Kak Tika, gak nyangka deh Vitaaa! Ihihihihi!”, Vita cekikikan lagi.

Boim mau disambit tisu, disambit garpu, disambit sendok, disambit piring, tapi gak jadi karna dipelototin sama karyawan-karyawan disana. Tika hanya tersipu diam.

“Pantesan lu betah banget kesasar bedua pas turun!”

“Gue gak kesasar beh!”

“Lah buktinya lu sampe lama banget!”

“Berarti di Guntur kemaren itu sekalian poto preweding yak!? Gue potograpernya!? Haha kampret luh Bang!”, Enday melempar tisu ke Boim.

“CINTA KASIH DI GUNUNG GUNTUR!”

“GUNTUR IM IN LOVE!”

“PASANGAN GELEDEG!”

“CETARRR MEMBAHANA ULALAAA!”

“Hahaha! Kalian luar biasa Nyot-nyooooot!”

"Eh tau gak kalo Nyot-nyot dapet skor tertinggi pas lomba yel-yel?"

"Ah masa!?"

"Yel-yel ancur gitu hahaha!"

"Gak waras semuanya hahaha!"

"Berarti kita emang kompak abeeeesss!"

"Hahaha hidup Nyot-nyooooot!"

              Mereka tertawa, keasikan bercanda sampai lupa memesan makanan. Manusia-manusia ajaib dengan berbagai macam kejutannya. Enday dan Vita bersyukur bisa mengenal mereka, mengenal orang-orang yang baik seperti mereka. Sesekali mereka mengulang kisah perjalanan mereka di Gunung Guntur, gunung dengan sejuta keindahannya, gunung dengan sejuta kenangannya, gunung yang banyak memberikan pelajaran berharga ke mereka, gunung Ciptaan Zat Yang Maha Sempurna.