Kemang, 31 Januari 2013
Enday
duduk menyamping di atas motor satria biru-putihnya, kedua kakinya yang
panjang menyanggah tubuhnya yg kurus, tinggi badannya sekitar 175 cm
ke atas, rambut ikalnya yang sedikit gondrong sesekali melambai tertiup
angin, pipinya yang tirus bergerak perlahan menyantap somaynya di
pinggir jalan bilangan Kemang. Cowok berumur 20 tahun itu melirik ke
jam tangannya sambil mengunyah somaynya. Jam menunjukkan pukul 16.30,
dia menghabiskan somaynya dan menyodorkan lima ribuan ke pria paruh
baya dengan topi dan handuk kecil yang menggantung di lehernya,
“makasih ya Pak!”. Enday merogo kantong kanan celana jeansnya,
mengeluarkan samsung galaxy-nya dan mengetik sms…
Bang amoy, gue di depan gang yaa, deket tukang somay. Kira2 sampe sini jam brp?
SEND.
Tak lama kemudian suara angry bird yang habis dilempar dari ketapel berbunyi dari hapenya, New Message Bang_Amoy
TuNgguU BrOo, skiTarr 15 meNit lg gw saMpeee…
Tulisannya gede-kecil, alay…
17.40
“Kampret, bilang 15 menit sampe, udah sejam lebih gue nunggu belom
nongol-nongol juga tu orang!”, batin Enday. Enday yang masih duduk di
atas motor satrianya menatap kosong jalanan Kemang yang sore itu
lumayan lancar. Tak lama kemudian cowok sekitar umur 30 yang memakai
setelan khas orang kantoran dengan motor Thunder hitam menghampirinya,
menjulurkan tangan kanannya, kulit tangannya terlihat gelap, mereka
berdua bersalaman ala komentator sepak bola. “Ayo ikut gue bro”, ajak
cowok itu ke dalam gang, yang ternyata adalah Amoy. “Dateng juga ni
manusia kampret”, batin Enday.
Basecamp Kemang Adventure, 17.45
Sebenarnya ini rumah biasa dengan 2 lantai, hanya saja di depannya
terpampang spanduk Kemang Adventure dengan latar panorama
Bromo-Pananjakan-Semeru. Mereka berdua masuk, duduk di sofa. Enday
menerawang isi rumahnya, dindingnya penuh dengan bingkai-bingkai foto
bergambar orang yang baru ditemuinya dengan berbagai latar. Bromo,
Krakatau, Rinjani, banyak.
“Eh sorry tadi siapa nama lo?”
“Enday bang”
Mereka berdua memang baru kenal, sebelumnya mereka saling kenal di
facebook ketika Enday menemukan iklan yang ber-tagline “Guntur Smart
Race” atau bisa disingkat GSR atau GeSeR, iklan tersebut di posting
oleh Mad Speed, nama facebooknya si Amoy. Alay…
Enday memang
sedang berkeinginan mendaki gunung, padahal dia sama sekali belum
pernah mendaki gunung. Tidak tau karna apa, otaknya ter-sugesti secara
tidak langsung dari novel sekaligus film 5 cm yang baru ia nikmati,
cerita dari temannya yg suka mendaki, foto pemandangan alam yang ia
lihat di google, sering mendengar soundtrack Ninja Hatori yang sering
didendangkan adiknya, banyak yg mensugestinya. Enday benar-benar ingin
mendaki gunung.
“Nih gue tunjukkin foto-foto gue kemaren
pas cek TKP”, ucap Amoy dengan wajah sendunya sambil menyalakan kamera
digitalnya. Air terjun, tanjakan, hutan, savana, tanjakan lagi, bukit,
tanjakan lagi, Amoy lagi tidur, savana lagi, temennya Amoy, bukit, Amoy
lagi pose. Alay…
“Ini gunung belom tereksplore, bagus banget pemandangannya, cuma orang-orang pada gak tau aja.”
“Itu bukit yang itu puncaknya bang?”
“Bukan, itu puncak 2, puncak 1 puncak utamanya ada di belakangnya.”
“Oh gitu.. eh bang, masih ada kuota kan buat temen gue? Satu orang doang kok.”
“Masih,
tapi temen lo masuk kuota tambahan, kuota tambahan biayanya nambah
dikit, soalnya kan bisnya udah gak muat, jadi nyewa mobil kecil lagi.”
“Jadi berapa bang? Dua ratus ribu cukup?”, Enday langsung nembak.
“Mmm.. cukup”, Amoy sok mikir tapi cepet setuju sama tawaran Enday. Enday salah nembak harga. Enday nyesel…
“Yauda ini setoran gue, seratus tujuh lima kan? Yang ini dua ratus buat temen gue”, Enday menyodorkan uangnya secara bergilir.
“Sip lah”, ucap Amoy sambil mencatat pendaftaran peserta di buku agendanya. Kali ini tulisannya enggak gede-kecil kayak di sms.
“Nama temen lo siapa bro?”
“Vita bang”, jawab Enday sambil melihat Amoy menulis. Tulisannya ancur…
“Oh iya bro, hari minggu tanggal tiga jam dua siang ada technical meeting di monas ya, deket pintu gerbang Gambir.”
“Sip
bang gue libur, gue bisa dateng. Oh iya bang, ini tadi janji gue..”,
Enday membuka resleting tasnya dan mengeluarkan box bergambar pizza,
lumayan besar. Enday memberikannya ke Amoy. Enday bekerja di sebuah
restaurant pizza sebagai chef, makanya dia bisa membawakan pizza untuk
Amoy. Sebelumnya Enday memang sudah janji akan membawa bingkisan ke
basecamp Kemang Adventure sekaligus rumah Amoy, itu juga karna Amoy
bercanda “jangan lupa bawa oleh-oleh bro”. Candaan yang sekaligus
mempunyai niat dapet bingkisan gratisan. Amoy emang licik…
“Waduuuuh, makasih yeee! Berkah deh ente bro!”, ucap pria bermata sendu berambut poni lurus itu.
“Haha sama-sama bang! Yauda ya bang, gue pulang dulu udah maghrib nih. Ketemu hari minggu ya!”
“Sip, ati-ati bro.”
Enday menyalakan starter tangan satrianya dan langsung menarik gas
bergegas pulang. Enday melewatkan kewajibannya di waktu maghrib.
***
Jumat, 1 Februari 2013. 15.30
Sore itu di sebuah restoran pizza, Enday berdiri di parkiran, bersiap pulang. Dia shift pagi hari ini.
“Endaaaaaay!”,
seorang cewek berjilbab dengan seragam hitam khas restaurant tersebut
berteriak memanggilnya. Badannya kurus, tingginya sekitar 165-170 cm,
parasnya tidak terlalu cantik tapi terlihat manis. Kalau dilihat dari
jauh mungkin mirip Zaskia Adya Mecca. Zaskia KW 10 ke atas.
“Gimana? Vita bisa ikut kan?”
“Bisa, tapi biaya lo jadi naek, lo masuk kuota tambahan soalnya, jadi dua ratus ribu.”
“Oh yauda gak apa-apa, nih Vita gantiin sekarang”, Vita menyerahkan dua lembar seratus ribuan ke Enday.
“Sip deh.. entar hari Minggu ada technical meeting di Monas, jam dua, lo libur kan?”
“Iya Vita libur.”
“Nah berarti paginya kita bisa lari dulu, gimana?”
“Oh
yauda kita lari ngelilingin Taman Mini yaa, kita ngelilingin Indonesia
biar kuat pas entar di Guntur!”, ucap Vita sambil mengangkat kedua
tangannya bak binaragawan, gak cocok sama badannya yang panjang tipis
kayak sale pisang.
“Yauda ya gue pulang dulu, besok gue libur lagi. Hari Minggu pagi jam enam gue jemput yaa.”
“Sip ati-ati nday!”
Enday yang hanya mengenakan seragam, tanpa helm, langsung berlalu
dengan satria-nya dari tempat tersebut. Rumahnya memang tidak jauh dari
tempat dia bekerja.
***
Monas, 3 Februari 2013. 13.50
Matahari menyengat kulit, membuat mata terpicing untuk menatap ke
depan. Siang itu di Monas memang sangat cerah, teramat cerah. Sang
Surya dengan gagahnya memamerkan kekuatan cahaya dan panasnya.
Dua orang manusia duduk diatas motor satria biru-putih yg diam membisu
di trotoar jalan Monas. Enday yg duduk di depan menyanggah motor
dengan kedua kakinya, memakai helm biru-hitam, kacamata biru sporty,
jaket hitam, jeans abu-abu gelap, dan sepatu Levi’s abu-abu. Enday
terlihat keren siang itu. Sedangkan di belakangnya, Vita, memakai
jilbab putih dengan kaos merah panjang dan jeans pensil berwarna biru,
sepatunya merah bermotif wajah kucing di ujungnya. Vita terlihat manis
dan mencolok dengan warna merah kesukaannya.
“Pas nih vit, kita belom telat!”
“Terus meetingnya dimana? Di dalem?”
“Katanya sih di dalem, kita parkir aja dulu”
Mereka masuk ke parkiran Monas, memarkir satria-nya si Enday. Mereka
masuk melewati gerbang dan berjalan sambil menerawang seisi taman
Monas.
Mereka berjalan menyisir Monas. Mereka
berjalan beriringan, tubuh mereka berdua seperti sumpit mie ayam, yang
satu kurus kering dan yang satunya lagi kurus kerontang. Melewati
patung Kartini, lapangan futsall, taman, mengelilingi monas, masuk ke
lorong, keluar lagi, rombongan dengan spanduk Guntur Smart Race belum
ketemu juga. Enday melirik jam tangan Nike hitamnya, jarumnya menunjuk
pukul 14.40.
“Ah gila padahal kebuka gini tempatnya, tapi
dimana ya rombongan kita? Monas di dunia cuma ada satu kan disini
doang?”, keluh Enday ke Vita.
“Yee si oncom! Iyalah disini doang! Lo inget kata Bang Amoy gak acaranya di sebelah mananya?”
“Katanya
di dalem Monas, di sebelah kiri pintu gerbang Gambir, tapi gue gak tau
gerbangnya itu yang manaaa!?”, Enday frustasi karna kepanasan.
“Noh
ono stasiun apaan? Ada gerbang tuh di depan stasiunnya, disitu kalih”,
Vita menunjuk gerbang yg lumayan jauh dari tempatnya berdiri dengan
dagunya.
Mereka berjalan mendekati gerbang
itu sambil menengok kanan-kiri, Enday tiba-tiba nyeletuk.. “Sahabatku,
kini usai sudah pencarian kita”, Enday menatap kosong ke arah rombongan
yg duduk lesehan di bawah pohon-pohon di pinggir taman, Enday sok
menjadi Kahlil Gibran. Ada spanduk Guntur Smart Race dan Kemang
Adventure yg terbentang diantara pohon-pohon tersebut.
Mereka berdua menghampiri rombongan yg jumlahnya sekitar 30-an orang
itu, sebenarnya peserta yang ikut di atas 60 orang, mungkin diantaranya
ada yg berhalangan hadir. Amoy berdiri menghampiri mereka berdua.
“Bang sorry ya telat”, mereka berdua bersalaman lagi bak komentator bola di akhir acara.
“Sip
sip gak pa pa bro, ini juga baru mau mulai”, ucap Amoy si empunya
acara itu. Enday melirik jam tangannya, 14.50. “Dasar Indonesia”, batin
Enday.
“Oh iya bang, kenalin ini Vita”, Enday menunjuk badan “sale pisang”-nya si Vita.
“Vita…”,
Vita menjulurkan tangan kanannya sambil tersenyum manis ke Amoy. Amoy
balas senyum ke Vita. Enday senyum manis ke Amoy, Amoy balas tampang
kecut ke Enday. “Gue bukan gay, gue bukan gay”, Amoy mensugesti
dirinya.
Enday menatap rombongan perlahan.
Dilihatnya sekelompok ibu-ibu berjilbab, sekelompok cewek yang
terlihat seperti mahasiswi, mas-mas, mbak-mbak, anak kecil yang dekil.
Eh bukan, itu pengamen ternyata. Siang itu acara diisi dengan
perkenalan peserta, estimasi waktu acara, apa saja acara yang akan
diselenggarakan, kelompok, tukar kado, doorprize, sponsor, banyak.
Semua peserta sangat bersaudara, saling melempar canda, saling melempar
tawa. Ketika meeting hampir berakhir datang seorang cewek berjilbab yg
memakai kacamata. Wajahnya bulat dihiasi tahi lalat di pipi kanannya.
“Eh udah mulai ya?”, bisik cewek itu kepada Vita.
“Iyaa, udah mau selesai acaranya”, Vita menjawab dengan lembut. Cewek ini memang ramah.
“Tadi udah nyari muter-muter tapi gak ketemu.”
“Haha,
sama kak. Tadi kita juga nyari ampe muter hampir dua kali”. Vita
selalu memanggil orang yang baru dikenal dan terlihat lebih dewasa
darinya memakai “kakak”.
“Oh iya, kenalin. Tika..”, Cewek itu menyodorkan tangan kanannya.
“Vita..”, Vita menyambut tangan Tika sambil tersenyum manis.
“Hei
kenalin, Tika..”, Tika mencolek Enday yang duduk bersila tepat di
depan Vita. Enday nengok perlahan dengan wajah sok ganteng bak Taylor
Lautner.
“Enday..”, Enday menyalami tangan Tika sambil tersenyum, meskipun senyumnya gak semanis Vita.
Adzan ashar terdengar samar di telinga, sang pembawa acara, cewek
setengah tua setengah muda, berjilbab, yang diketahui bernama Heni
menyetop meeting sementara. Setelah adzan berhenti mengumandangkan
lafadznya, Heni kembali memberitahukan inti pembicaraan kepada peserta
yang baru datang sebelum acara dibubarkan.
“Oke, sebelum
acara dibubarkan kita berdoa dulu. Selesai doa kita baris disana buat
foto-foto sebelum pulang”, ucap Heni setengah berteriak sambil menunjuk
jalan aspal di depan mereka. Mereka berdoa lalu berfoto.
“YAP!
SAMPAI JUMPA TANGGAL LAPAN DI UKI YA! JAM SEMBILAN MALEM!”, Teriakkan
Heni terdengar samar karna suara gambang dari ondel-ondel yang lewat
didekat mereka.
Kini Sang Surya mengurangi
kadar panasnya, cahayanya berubah menjadi jingga. Monumen Nasional yang
berdiri tegak di pusat Jakarta selama 52 tahun seakan ikut terbawa
dengan keceriaan mereka sore itu. Langit jingga yang berbaur dengan
awan putih terpampang indah di belakang Monumen bersejarah itu.
***
“Gunung itu ajaib, bisa merubah keegoisan menjadi kepedulian.”
Cawang, 8 Februari 2013. 20.40
“Haaaah,
Jakartaaaa Jakartaaa… kapan ya Jakarta gak bakal macet lagi?”, desah
Enday di dalam remangnya sebuah taksi yang berjalan secara bertahap di
tengah kemacetan.
“Gak bakal, ini kan pusat kegiatan
negara ini, gak bakal bisa deeh!”, jawab Vita yang duduk di belakang
sopir. Carriel besar Enday memisahkan duduk mereka berdua.
“Lo
tau gak? Pemerintah pernah ngadain peraturan kalo orang yang
ngendarain mobil pribadi disuruh beralih ke KRL. Menurut gue itu
peraturan yang cacad abiiisss.”
“Loh bukannya bagus? Kan bisa ngurangin macet? Yaa walaupun gak banyak.”
“Sekarang lo bayangin deh kalo satu orang yang bermobil beralih ke kereta, satu orang satu kereta kan bakal jadi lebih macet!”
“BUAHAHAH!
ENDAY OON! ONCOM!”, Vita menoyor-noyor kepala Enday, cara ketawanya
yang kelewat lepas gak cocok sama perawakan dan badannya yang
melankolis. Sopir taksi melirik ngeri lewat spion dalam.
“Eh,
lo bilang rekan kerja kita pada egois ya? Ceritain dong”, Enday yang
masih keliyengan abis ditoyor-toyor sama Vita kembali bicara lagi.
“Iya,
Vita berasa kerja sendiri! Yang laen mentang-mentang anak baru jadi
sok pura-pura gak ngerti ini itu!”, kali ini Vita cemberut. Bibirnya
dimonyongkan, paras manisnya longsor.
“Yaa lo kan senior, ajarin dong junior-junior lo itu.”
“Udah Endaay! Tapi.. ah au ah bete gue! Semua orang tuh egois! Gue gak percaya ada orang yang tulus punya kepedulian!”
“Yauda jadi orang baik aja, maafin mereka. Lo harus bisa sabar ngadepinnya, entar juga mereka sadar sendiri.”
“Gak
mau! Biarpun gue baik ama mereka juga mereka gak bakal baik ke gue!
Liat aja entar juga gue bales!”, Vita terlihat benar-benar bertekad.
Enday menatap Vita kosong.
“Di gunung nanti, gak bakal ada yang egois Vit.”
“Gue
gak percaya!”, Vita agak melotot, kali ini manisnya bener-bener ilang,
mukanya lebih mirip Katemi di film Malam Satu Suro. Logatnya kini juga
memakai ”gue-elo”. Enday bergidik.
“Gunung itu ajaib,
bisa merubah keegoisan menjadi kepedulian”, Enday sok berfilosofi, gak
tau ilhamnya turun dari mana padahal Enday gak pernah naik gunung.
Mereka berdua benar-benar masih awam, tapi karna Enday suka baca, dia
jadi tau cara packing dan apa aja yang harus dibawa.
“Oke!
Kita liat nanti!”, wajah Katemi-nya Vita belum pergi, Enday ngeri
ngeliat Vita yang biasanya selalu terlihat ramah dan sopan dimatanya
kini terlihat angker.
Selama beberapa minggu
terakhir Vita memang terlihat murung, bukan Vita yang selalu ceria.
Bahkan kadang Enday melihat Vita menangis di tempat bekerjanya. Enday
bekerja di dapur, sedangkan vita di bagian pelayanan. Mungkin partner
kerja Vita di restorannya benar-benar membuat Vita berasumsi kalau
semua orang di dunia ini tidak ada yang bisa mengerti satu sama lain.
“Nah
pak, kita turun disini aja. Kita mau nyebrang jembatan aja biar gak
muter balik lagi. Vita, pake duit lo dulu ya?”, Sang Sopir menghentikan
kendaraan dinasnya. Enday turun dari taksi sambil memakai carriel
Eiger Avtech biru-nya yang ditutup oleh cover bag berwarna hitam. Dia
memakai kaos abu-abu lengan panjang, celana hitam pendek, sepatu hiking
abu-abu, dan tentu kacamata rabun berwarna biru sporty kesukaannya,
slayer biru Chelsea terlihat menghiasi lehernya. Vita membayar ongkos
taksi dan turun dengan daypack berwarna hitam yg terlihat belum terisi
full. Jilbabnya berwarna hitam dengan jaket ungu dan celana panjang
hitam, sepatu hiking abu-abunya terlihat sangat bersih, ketahuan kalau
baru dibeli dan baru dipakai.
“Gilak, berat bener nih
carriel gue! Tiga per empat barang lo gue yang bawa nih!”, keluh Enday
di tengah tangga naik jembatan penyeberangan.
“Yaah maap, gue kan gak kuaaat. Lo gak liat badan gue minim gini?”
“Haha
tapi woles, gue yakin gue kuat ampe puncak Guntur. Soalnya kalo kaki
kita udah salaman ama kaki gunung, semangat kita bakalan berkoar kaya
di medan perang”. Enday sok ngerti lagi tentang daki-mendaki.
Mereka menyisir jembatan penyeberangan yang membelah jalan
raya luas yang terhias cahaya merah dah putih. Lampu-lampu jalan
berbaris rapih mengikuti lengkungan-lengkungan jalan, Jakarta malam itu
sangat ramai oleh kendaraan. Vita menarik nafas panjang. “Sebentar lagi
vita bakal nemu suasana yang berbeda, suasana yang gak nge-bete-in
kaya gini”, batin Vita.
Universitas Kristen Indonesia, 22.45.
“Dasar ya Indonesia, ngareeeeeet!”, keluh Tika yang duduk di belakang warung rokok di pinggir jalan.
“Ngomong jam sembilan udah lepas landas dari Jakarta, ini delay hampir dua jam.”
“Haha kita naek bis bukan pesawat.”
“Katanya sih bisnya yang belom dateng-dateng.”
“Mao sampe Garut jam berapa yaa?”
“Bisa besok pagi nih.”
Enday hanya duduk terdiam mendengar pembicaraan mereka, rasa
kantuk menyerang seluruh organ di tubuhnya. Vita dan Tika bercakap
dengan orang-orang yang baru dikenalnya di tempat tersebut. Satu orang
cowo yang terlihat tidak muda lagi memakai topi putih, kemeja
kotak-kotak biru, celana rimba panjang dan sandal gunung, wajahnya
bulat, kulitnya agak hitam, tubuhnya sedikit lebih pendek dari Vita, dia
terdengar yang paling banyak bergurau diantara semuanya, namanya Toni
dan dia dipanggil Boim. Tiga orang cewek yang duduk berdekatan dengan
mereka terlihat sudah sangat akrab. Rina yang notabene adalah wanita,
tidak tau kenapa dipanggil Babe, mungkin karna dialah yang paling
“senior” diantara ketiganya. Titi, Ibu muda dengan wajah “santai” dan
rambut pirangnya, Babe memberikan sebutan Buceri (Bule Ngecat Sendiri)
kepadanya. Dan Erna dengan tubuh “Julia Perez lapis tiga”-nya terlihat
yang paling subur diantara ketiganya. Tiga orang Ibu ini mungkin lebih
tepat digambarkan sebagai Warkop DKI versi wanita, mereka lucu, kadang
polos, kadang juga nyablak.
“Eh daripada bosen mending
kita narsis-narsisan dulu laah”, wajah keibuan Babe yang bawaannya
terlihat selalu tenang terlihat menulusuri isi day pack-nya. Dia
mengeluarkan bungkusan dari bahan kain yang berisi kaus tangan, dia
membuka bungkusan dan mengambil sesuatu dari dalam kaus tangan,
ternyata itu adalah kamera digitalnya.
“Busedah, itu
kamera apa jenglot bungkusnya ribet amat?”, Enday yang sedari tadi diam
tiba-tiba nyeletuk. Semua tertawa, ada yang ngakak, ada yang
senyum-senyum simpul, Vita yang paling meledak tawanya. Cewek gak
waras…
“Jeeeh die bisa ngomong juga! Wahahah!”
“Kirain gak bisa ngomong mas! Hahaha!”
“Sekalinya ngomong bikin rusuh hahaha!”, Babe, Titi, dan Erna menyela Enday.
“Ngantuk gue, ngablu gini acaranya”, Enday berkata polos.
“Eeeeh
ini tuh biar hemat batrenya, biar entar bisa puas narsisnya, jadi
harus dibungkus rapet begini”, ucap Babe santai sambil mengacungkan
bungkusan jenglot-nya.
Mereka berfoto, hanya
Enday yang tidak ikut. Enday duduk menunduk karna kantuk. Enday
melirik Nike hitamnya, pukul 23.05.
“Temen-temen, bisnya
udah dateng! Yang dipanggil namanya langsung ke bis yaa!”, Heni si MC
teriak di depan gerbang kampus UKI. Seorang panitia cewek yang memakai
bandana ungu di kepalanya meng-absen peserta satu persatu. Cewek yang
logat bicaranya terdengar agak sok imut dan manja itu sebelumnya sudah
memperkenalkan dirinya kepada peserta waktu meeting point di Monas.
Namanya Yani.
“Eh eh kita duduknya deketan aja.”
“Iya ntar pas naek juga kita barengan aja.”
“Iya entar pas nge-camp juga kita setenda aja”, Warkop DKI versi wanita merajuk ke Enday, Vita, Tika, dan Boim.
“Gue bawa tenda ukuran dua orang doang, kalo elu bro?”, tanya Boim ke Enday.
“Gue bawa punya Vita, cukup buat berempat kok, kalo badannya imut-imut kaya kalian bisa berlima dempet-dempetan.”
“Badan gue imut yaa?”, Erna sok tersipu. Semua diam sambil melempar tatapan kasihan ke Erna.
“Yauda berarti pas deh. Gue bawa flysheet juga, entar tendanya kita gabung aja. Kita udah cocok nih!”, Boim membuat kepastian.
Semua peserta berdiri, bersiap memakai daypack dan carriel
masing-masing, hanya sedikit wanita yang membawa carriel, salah satunya
Tika. Badan imutnya menggendong carriel ukuran 75 liter. Vita terlihat
kagum, Enday tersenyum melihat Tika. Satu demi satu peserta
meninggalkan tempat berkumpul di depan gerbang dan berjalan menuju bis
ketika namanya dipanggil. Mereka bertujuh dipanggil dengan jarak yang
berjauhan. Enday yang dipanggil duluan menunggu teman-teman barunya.
Mereka naik ke dalam bis, mencari tempat duduk yang kosong, Enday duduk
dengan Vita dan seorang cowok yang duduk siap tertidur di dekat
jendela. Tika di depan Enday. Babe, Titi, Erna, dan Boim terpisah di
depannya. Panitia meng-absen ulang pesertanya, memimpin doa, dan bis
berwarna kuning itu pun siap berangkat meninggalkan Jakarta yang malam
itu masih terlihat ramai. Jakarta dengan segala hiruk-pikuk dan
kesibukannya.
***
SPBU Tarogong, 9 Februari 2013, 03.05.
Mereka sampai di Garut lumayan cepat. Vita masih tertidur di
bangkunya. Peserta yang lain ada yang tidur-tiduran di musolah areal
SPBU, ada yang solat tahajud, Enday membasuh wajahnya di toilet. Vita
terbangun dan turun menghampiri Tika dan kawan-kawan barunya di teras
musolah, Enday yang selesai membasuh wajahnya ikut duduk bergerombol.
“Temen-temen,
istirahat dulu ya. Nanti dari sini kita berangkat pake transformer
alias truk. Istirahat dulu, tidur-tiduran, solat, sarapan, abis itu
kita langsung berangkat. Oh iya, kaosnya bisa dipake sekarang”, Amoy
berbicara dengan toak-nya kepada kumpulan peserta. Ketua acara ini
terlihat sangat bersahabat dengan peserta-pesertanya. Setelannya khas
seorang pendaki. Topi rimba dibiarkan terkalung dibelakang lehernya,
kaosnya berwarna biru dengan lengan tiga per empat bertuliskan Guntur
Smart Race 2.249 mdpl, kaos yang memang diperuntukkan untuk semua
peserta GSR, tempat minum berwarna hitam menggantung di pinggangnya,
celana panjang rimba dan sepatu summit high menambah pencitraannya
sebagai pendaki yang sudah mafhum pengalaman.
05.35
Semua peserta selesai solat subuh berjamaah, meminta keselamatan agar
tidak terjadi hal yang tidak diinginkan kepada dirinya dan
teman-temannya. Babe, Titi, Erna, dan Boim sibuk memisahkan
barang-barang. Semua logistik mereka berempat dimasukkan ke dalam
carriel besar Boim, tenda, terpal, flysheet, alat masak. Carriel Boim
meminggi ke atas, melebar ke samping. Boim menepuk-nepuk carrielnya, dia
mengambil nafas panjang dan mengeluarkannya, berharap kuat
menggendongnya sampai atas. Selesai re-packing, carriel-carriel dan
semua daypack bawaan peserta dinaikkan ke atas truk, mereka pun naik ke
atas truk berwarna kuning itu. Bak mobil truk itu masih sedikit terisi
pasir. Tiga buah truk besar mengantar mereka, mobil angkot merah yang
berisi panitia mengekor dibelakangnya.
“Vit, tuh gunungnya tuh, yang botak.”
“Kok Nday tau?”
“Lo liat aja gambar gunung di kaos lo oneng.”
“Oh iyaa, Vita o’on iiihh”, Vita sadar diri.
Truk
membelah jalan perkampungan pagi itu, melewati pematang sawah, kebun
jagung, rumah-rumah khas pedesaan, Gunung Guntur terlihat yang paling
berbeda diantara gunung-gunung disekitarnya. Guntur terlihat tandus
dari jauh, dengan puncak yang terlihat agak lebar, terlihat mudah
didaki dan tidak akan menyesatkan.
Boim asik
berbicara dengan Tika, Vita terlihat menikmati susana pedesaan, susana
yang sangat berbeda dengan Jakarta. Pemandangannya, orang-orangnya,
udaranya. Memasuki lokasi penambangan pasir, jalanan mulai tidak
karuan, bergoyang ke kiri, ke kenan, tersentak ke depan, terjungkir ke
belakang. Guntur memang tempat menambang pasir sebagai penghasilan
penduduk setempat. Jalan selepas pedesaan meliputi tanah dan pasir yang
gembur, berkelok, menanjak, sempit, di pinggirnya dibatasi jurang
bekas galian yang rawan longsor. Mungkin rasanya naik truk seperti itu
tanpa memakai sit belt melebihi sensasi halilintar di Dufan. Semua
peserta berpegangan. Ada yang teriak, ada yang mencengkram erat teman
di dekatnya. Sedikit saja sopir truk salah mengambil sudut, truk bisa
terjerembab ke jurang-jurang bekas galian itu.
“Eh tu
liat! Ada Monas di Garut! Tapi kok Monasnya patah?”, Enday berteriak
kecil menunjuk sebuah bangunan seperti tugu lumayan besar yang telah
hilang di bagian tengah sampai atasnya, tapi runtuhannya tidak terlihat
di sekitarnya. Tugu itu terlihat gagah di tengah dataran yang cukup
luas dan berumput hijau, besarnya mungkin tiga per empatnya Monas.
“Yee ngaco! Siapa yang bisa mindahin Monas kemarih? Jokowi? Kalah ultramen!”, Vita nyeletuk.
Perjalanan masih berlanjut, hampir satu jam mereka “menikmati”
perjalanan tersebut. Seluruh peserta GSR yang naik truk itu terlihat
khawatir. Ada yang komat-kamit memanjatkan doa, ada yang duduk sambil
berpegangan kaki temannya, ada yang duduk di atas kap mobil truk sambil
berpegangan erat, tapi ada yang tertawa menikmati ketegangan
perjalanan tersebut. Perjalanan yang mengerikan.
Lokasi Penambangan, 06.50.
“Parrraaaahhh!!!
Rossi ama Stoner juga gak bakal mampu ngalahin kesaktian tu sopir
truk! Jalanannya extreme meen!”, seorang peserta laki-laki yang memakai
slayer oranye di kepalanya berkomentar setelah mereka semua
diturunkan.
Mereka semua menenangkan diri setelah
perjalanan “horror” tadi. Enday, Vita, Tika, Boim, Babe, Erna, dan Titi
berkumpul. Mereka berfoto, bercanda, menikmati roti tawar dengan
olesan selai coklat kacang buatan Babe. Mereka semakin akrab, mereka
tidak terlihat seperti kumpulan orang-orang yang baru dikenalkan,
mereka tidak terlihat canggung satu sama lain.
07.40
Panitia baru tiba di lokasi penambangan, lokasi dimana mereka akan
memulai perjalanan dengan kaki masing-masing. Lokasi tersebut
didominasi oleh tebing-tebing pasir cukup tinggi yang bersudut 90
derajat, sangat rawan longsor. Beberapa penggali pasir terlihat sedang
memasukkan pasir-pasir hasil tambangan ke atas bak truk yang dinaiki
oleh peserta-peserta GSR tadi. Di bawahnya terlihat sungai kecil yang
dihiasi oleh batuan-batuan, dipagari oleh pohon-pohon yang rindang,
airnya sangat jernih.
“Semua peserta harap berkumpul, kami
akan memberitahukan beberapa informasi!”, Heni si MC yang yang manis
dan ramah agak berteriak. Semua peserta bergerombol dengan jarak agak
jauh dari tempat Heni berdiri. Heni memberikan sambutan-sambutan,
ucapan terima kasih, membetulkan jadwal perjalanan dan acara karna dari
awal perjalanan memang waktunya selalu ”ngaret” dilanjutkan dengan
pembagian kelompok yang dipersiapkan untuk yel-yel dan lomba “How Smart
Are You”, acara lomba yang menjadi title utama event ini.
Heni memulai pembagian kelompok. Tika masuk ke dalam kelompok empat,
Tika terlihat murung karna terpisah dari orang-orang yang paling dekat
dengannya sejak di Monas dan UKI waktu itu. Heni melanjutkan pembagian
kelompoknya…
“Kelompok lima! Rina! Toni! Titi! Erna! Vita!...”
“Nahloh, gue kek gue!”, batin Enday.
“Hijarji!...”
“Yaaaah ngapa bukan guee!”, Enday membatin.
“dan Enday!”
“Yeeee Vita sama Endaaay!”, Vita mengangkat kedua tangannya ke atas seperti Cristiano Ronaldo yang habis mencetak gol ke gawang.
“Ini kelompoknya kok bisa cucok begini sih? Pas banget haha.”
“Si Amoy tau aja ya hahaha.”
“Iyalah
kan akyu yang requeeest hehe. Tapi Enday sama Vita sekelompok ama kita
tuh gue gak tau, emang udah jodohnya kalih”, Erna menjelaskan
semuanya.
“Oh empok yang request ke Bang Amoy? Emang bisa
ya?”, Enday memanggil Erna dengan memakai sebutan “Empok” karna masih
agak lupa sama namanya.
“Iyalah, kita bertiga mah emang udah kenal sama Amoy.”
“Yaaah tapi kak Tika kepisaaaah…”, Vita agak cemberut.
“Oh iya yaa. Barter aja nih ama si Jarjit”, Babe nyeletuk.
“Hijarji
beh! Jarjit mah yang di Upin-Ipin!”, Titi merespon omongan Babe sambil
membuat gerakan ingin menimpuk Babe. Hijarji yang bertubuh lebih kekar
dari Enday, lebih tinggi dari Boim, dan terlihat lebih dewasa dari
mereka berdua masih terdiam. Dirinya mungkin masih merasa tidak percaya
bisa satu kelompok dengan orang-orang primitif ini.
“Haha terus kita manggilnya siapa nih?”
“Jarji aja Jarji.”
Heni
selesai membacakan pembagian kelompok. Ada sembilan kelompok yang
ditentukan. “Yak dikasih waktu sepuluh menit yaa buat nyiapin yel-yel
kelompoknya! Yang dinilai kreatif sama kompaknya!”
“Ayo apa nih yel-yelnya?”
“Nama
team kita aja dulu. Namanya “Woles” aja, kita kan pake aturan
satu-lima nanti. Satu menit jalan, lima menit istirahat”, celetuk Babe
yang bawaannya selalu terlihat “selow”.
“Wahahah iya iya bener!”
“Hahaha yaudah itu aja.”
“WAHAHAHAH kak Babe ada-ada aja nih!”, Vita lagi-lagi ngakak. Udah Babe, dipanggil kakak pula.
“Yauda gini aja, ‘Tim Woleees! GeSeR teruuss!’ nama acara kita kan GSR.”
“Itu kan slogannya, yel-yelnya?”
“Pake
soundtrack snack susu realgood aja, nyot nyot dikenyot nyooot! Nyot
nyot dikenyot nyooot!”, Enday mendendangkan lagu khas iklan sebuah
produk susu.
“Wahahah boleh tuh!”
“Iya lucu hahaha Enday kepikiran aja!”
Mereka
berlatih intonasi, koreografi, penyatuan slogan dengan lagu, dan
hasilnya menjadi satu kesatuan yel-yel yang sangat aneh. Kelompok yang
benar-benar primitif.
Kelompok yang
beranggotakan anak-anak muda dipanggil pertama untuk mempersembahkan
yel-yelnya. Mendendangkan lagu soundtrack-nya Ninja Hatori. Ada yang
bernyanyi keras, ada yang pelan, ada juga yang hanya mengikuti gerakan
teman-temannya. Ada yang gerakannya selaras, ada juga yang gerakannya
telat. Ya wajar, latihan koreografinya hanya dibatasi 10 menit.
“Kelompok selanjutnya kelompooook… lima!”, Heni dan Yani memandu acara.
“Wets tim kita maju nih.”
“Inget yaa nyot nyot!”
“Hahaha iya tenang aja kak!”
“Yang semangat yaa!”
“Yuk!”
Mereka maju, membuat lingkaran. Babe berteriak “Tim woleees! Geser
teruuus!” sambil menunjuk Enday. Enday berteriak “KITA BUTUH
ENERNYOOOT! ENERGI NYOT NYOOT!”.
“Makin dikenyot, makin maknyoooot…”, ucap Jarji santai.
“NYOT
NYOT DIKENYOT NYOOOT! NYOT NYOT DIKENYOT NYOOOT!”, Enday, Vita, Boim,
Babe, Erna, Titi, dan Jarji mendendangkan soundtrack snack susu
realgood dengan semangat sambil meng-koreo-kan gerakan tangan yang
terlihat seperti meremas. Entah meremas apa. Vita, Titi, Erna terlihat
berdendang sambil menahan tawa, Babe dengan tampang “selow”-nya, Boim
terlihat sok cool, Jarji yang tanpa ekspresi, dan Enday memasang tampang
bego. Mereka ancur. Bergoyang ke kanan dan ke kiri. Mereka benar-benar
ancur. Jarji ikut-ikutan jadi ancur.
“WE ARE NEVER STOP
EXPLORIIIING!!!”, semuanya berteriak di akhir lagu aneh tersebut.
Mereka semangat dan kompak, meskipun yel-yelnya terlihat ancur. Sangat
ancur. Peserta lain ada yang tertawa, ada yang bertepuk tangan, ada
yang senyum sambil geleng-geleng melihat tingkah mereka, ada yang
nyeletuk “lo semua pada ngenyot apaan sih!?”. Mereka jadi kayak banci
yang lagi karokean pake dangdut gerobak, diliatin dengan berbagai macam
ekspresi.
Kelompok lain maju satu
persatu. Menunjukan kreatifitas dan kekompakannya masing-masing. Ada
yang menamai kelompoknya Keluarga Cemara, karna satu kelompok di
dominasi oleh satu keluarga. Ada yang namanya JP. JP yang ini bukan
Jejak Petualang tapi Jejak Pengajian, karna satu kelompok anggotanya
mbak-mbak dan ibu-ibu berjilbab semua, hanya ada satu orang laki-laki
yang terlihat konyol melengkapi kelompok tersebut. Tim woles sendiri
lebih dikenal dengan nama Tim Nyot-nyot, karna jargon andalan mereka
tadi.
“Eh itu anak kecil mao naek juga?”, bisik Vita ke Enday.
“Enggak, dia mao maen tamiya”, jawab Enday ketus.
“Kalo udah disini semua pesertanya pasti bakal naek ke atas lah! O’on deh”, Enday melanjutkan.
“Kuat
gak ya dia? Pokoknya Vita gak mao kalah!”, mata Vita berapi-api
melihat ke arah anak kecil yang berumur sekitar 9-10 tahunan. Anak
laki-laki itu terlihat lucu dengan badannya yg agak gemuk dengan wajah
polos khas anak-anak, memakai topi rimba, kaos GSR, celana panjang, dan
sepatu sandal yang sama seperti bapak dan ibunya.
Semua kelompok sudah tampil menunjukkan kreatifitas masing-masing.
Disini tidak ada rasa bersaing, semua merasa sesi ini memang hanya
untuk penyemangat dan kegembiraan. Enday melirik jam tangannya, pukul
08.20. Bang amoy memimpin doa, menunjuk jalan menurun bebatuan ke arah
sungai, “Pendakian kita mulai dari sana. Jaga diri masing-masing.
Berangkat!”.
“Kak Tika kita bareng-bareng ya.”
“Iya Tika, kelompoknya cuma buat games doang kok. Perjalanan sama tenda mah bebas.”
“Iya yuk jalan”, Tika tersenyum kepada teman-temannya.
Semua peserta mengikuti Amoy. Trek awal menyusuri sungai,
menyeberanginya melewati bebatuan yang bisa dipijak. Ada yang kakinya
terpeleset dan tercelup ke air, ada yang jatuh terduduk, ada yang
langsung menceburkan kakinya dan berjalan menikmati dingginnya air
pegunungan. Enday dan Boim terlihat membantu “Tim Nyot-nyot”
menyeberangi sungai, memberi pegangan kepada Vita, Tika, Erna, dan Titi.
“Disini
sumber air terakhir, sampe atas nanti gak ada air. Isi perbekalan air
minimal tiga liter buat naik sama turun”, Amoy berdiri di jalan setapak
pinggir sungai dan menunjukkan air terjun kecil disampingnya. Semua
peserta mengambil air secara bergilir. Ada yang mengisi di botol ukuran
1 liter sampai derigen ukuran 5 liter. Enday terlihat mengisi 1 botol
ukuran 1 liter, kemudian botol ukuran 2 liter, terakhir dia mengisi
botol tupperware oranye setengah liter-nya.
Tika dengan carriel besarnya menapaki jalan setapak menanjak selepas
sungai tadi di depan Vita, nafasnya memburu, sesekali ia menghentikan
langkahnya dan merunduk mengambil nafas. Perjalanan baru dimulai
beberapa langkah. Semua pendaki di belakangnya terhenti menunggu Tika
melanjutkan pendakiannya.
“Ayo Tika semangaat!”, Enday menyemangati Tika dari belakang.
“Ayo kak Tika semangat!”, Vita juga menyemangati Tika.
“Duluan deh vit, aku pelan-pelan aja”, nafas Tika memburu.
Vita
melewati Tika, Enday juga melewati Tika sambil menepuk pundaknya
“Semangat Tika!”. Enday harus mengejar Vita, Vita belum pengalaman sama
daki-mendaki, Enday takut sahabatnya kenapa-kenapa selama pendakian.
Enday sudah di ultimatum sama temen-temennya Vita kalau Vita lecet dia
bakal dihajar. Boim, Babe, Erna, dan Titi terlihat masih mengisi
persediaan air di sungai.
Di awal
pendakian, Gunung Guntur menyajikan jalan setapak yang menanjak tanpa
ada jalan datar sedikitpun kepada pendaki-pendakinya. Batuan besar dan
akar-akar pohon yang menjadi tangga alami harus ditapaki oleh semua
pendaki yang pada hari itu semuanya adalah rombongan besar dari Guntur
Smart Race. Nafas Enday memburu, carriel-nya makin terasa berat. Vita
dengan daypack eiger hitamnya terlihat makin jauh di atas, Enday
melanjutkan langkahnya satu persatu, mencoba mendekati langkahnya
dengan Vita. Vita menatap Enday di bawah kemudian melanjutkan mendaki
diantara pendaki-pendaki lain. “Enday pasti kuat”, batin Vita.
“Vita, break dulu!”, Enday teriak, nafasnya memburu. Vita berhenti menunggu Enday di bawah yang berusaha mendaki mendekati Vita.
“Minum
dulu, capek. Makin lama makin berat aja nih carriel gue”, enday
terduduk besandar di carriel besarnya kemudian menenggak air dari botol
oranye-nya.
“Carrielnya berat yah?”
“Iyalah! Barang-barang lo tiga per empatnya disini! Tukeran yuk ama tas lo!”
“Iiiih gak mau! Yang ada Vita kebawa ama Carrielnya hihihihi”, Vita menolak sambil cekikikan. Tau maksud Enday pasti bercanda.
“Eh
Vita, Enday. Nyot-nyot masih dibawah tuh, Tika sama Boim kasian
Carrielnya berat”, Titi yang berjalan sendiri dengan daypack ungunya
menghampiri mereka berdua. Beberapa pendaki dengan carriel besar
terlihat melewati mereka.
“Kita lanjut gak Nday?”
“Lanjuuuut!”
“Ayo kita kemon Ti!”, ajak Enday ke Titi.
Mereka melanjutkan perjalanan, perjalanan yang menanjak tiada henti.
Vita di depan, kemudian Titi, dan Enday di belakangnya. Vita terlihat
mengikuti pendaki dengan cover bag carriel yang berwarna kuning. Enday
berulang kali memberikan kode ke Vita dan Titi yang berada di depannya
agar berhenti sebentar untuk mengatur nafas. Lagi-lagi Enday tertinggal
dari Vita, entah apa yang membuat Vita sangat bersemangat saat itu.
Enday melihat sisi Vita yang berbeda. Biasanya Vita agak manja, bahkan
dia sering mimisan yang bakal kambuh kalau dia sedikit kecapean waktu
bekerja, sekarang Vita bak Doraemon yang baterainya tak pernah habis.
Mungkin semangat dan tekadnya mengalahkan pembuluh darah di dalam
hidungnya dan mensugesti pembuluh darah itu agar tidak mengeluarkan
darah. Vita pemula yang hebat.
Nafas Enday kembali
memburu, kali ini ditambah dadanya yang berdetak sangat cepat,
pundaknya terasa sakit, lututnya terasa sangat lelah. Enday menenggak
air di botol oranye-nya, tinggal sedikit. Jalan setapak dengan
tangga-tangga alaminya membuat beberapa pendaki membuat komentar “Gilak
nanjak terruuussss meen!”, “Huw! Gak ada bonus dari start!”, “Amoy
sialan! Nemu aja gunung kayak gini!”.
Vita dan
Titi masih mendaki di atas Enday. Enday lagi-lagi dibuat kagum oleh
seorang wanita. Kali ini Titi, Ibu muda ini mendaki menggunakan sepatu
Converse berwarna merah, bukan sepatu hiking. Enday masih takjub
melihat mereka berdua yang belum terlihat kelelahan seperti Enday. Titi
memang sudah puluhan kali naik gunung bersama Babe dan Erna, dan Vita
baru kali ini, tapi tetap saja mereka itu wanita. “Gue gak boleh
malu-maluin kaum gue, kaum Adam! Gue gak boleh nyerah! Laki-laki itu
seorang pemimpin!”, Enday menyemangati dirinya sendiri. Vita melirik ke
bawah, Vita melihat Enday yang langkahnya sudah tidak mantap lagi.
“Endaaay!
Disini yaa!”, Vita melambai dan menunjuk tanah rerumputan yang masih
terlihat menanjak di dekatnya. Disitu terlihat Amoy dan beberapa
pendaki sedang merebahkan tubuhnya. Lagi-lagi Enday melihat seorang
lagi wanita muda.
“Minum lo udah abis Vit?”
“Nih tinggal dikit.”
“Gue juga tinggal dikit, kita isi ulang pake aer gue aja.”
Enday membuka carriel-nya, mengeluarkan botol miniral ukuran 1
liternya, mengisi penuh botol oranye miliknya dan botol tupperware
putih milik Vita.
“Gimana Nday? Masih kuat?”, Amoy tersenyum ke Enday. Amoy ingin mendapatkan pendapat dari seorang pemula.
“Gas teruuusss baaang!”, Enday menjawab dengan jargon khas Amoy, kata-kata yang sering diucapkan Amoy di facebook.
“Ya
Allaah, mereka masih jauh banget di bawaaah”, Vita memandang ke bawah.
Jalan setapak yang sedari tadi dia lewati terlihat puluhan pendaki
dengan Carriel ber-cover warna-warni menghiasi jalan setapak.
Dibawahnya terlihat lokasi penambangan yang terlihat agak tandus dengan
tebing-tebing bekas galian, jauh ke bawah lagi terpampang pemandangan
kota Garut diantara gunung-gunung yang mengapitnya.
“Uuuuuh
indah banget Nday…”, Vita tersenyum, matanya mengeluarkan rona
kekaguman akan apa yang sekarang sedang ia lihat. Lukisan alam yang
dibuat oleh Sang Pencipta.
“Garut itu kota yang dikelilingin gunung, kayak dipagerin ama gunung.”
“Kak
Tika gimana ya? Kasian bgt tadi Vita ngeliatnya, carriel-nya keberatan
tuh. Vita aja yang tasnya enteng begini ampun-ampunan.”
“Bawa carriel segede gaban gini nyesek tau, mau cobain?”
“Iiiiiih gak mauuuu!”, Vita cekikikan lagi.
“Yuk jalan lagi”, suara Titi terdengar serak-serak basah, seperti suaranya Dewi Persik.
“Ayo temen-temen lanjut”, ajak Amoy.
“Vita, lo di belakang gue yaa, potoin gue lagi nge-daki.”
“Oke Nday!”, Vita mengacungkan jempolnya.
“Abis
hutan ini, di depan udah mulai savana. Savana terus sampe atas,
treknya udah mulai batuan kerikil campur pasir, pohonnya jarang banget.
Yang gak pake sun block pulangnya siap-siap item”, Amoy tersenyum
kepada Enday, Vita, Titi, dan sepasang pendaki yang seumuran mereka.
Mereka terus berjalan, menanjak, terkadang harus merangkak. Jauh di
sebelah kanan mereka terdengar suara air terjun, merdu sekali. Puncak 3
Guntur mulai terlihat jelas, sepertinya setelah itu perjalanan
terlihat lebih mudah, tidak ada tanjakan lagi.
“Sebentar lagi kita akan memasuki trek Semeru”, ucap Amoy dengan senyumnya yang selalu disajikan ke semua orang.
“Itu puncaknya moy?”, Titi menunjuk ke atas yang terlihat seperti puncak gunung.
“Bukan Ti, itu pucak tiganya, dibelakang masih ada puncak dua sama puncak satu. Masih jauh banget.”
Mereka mulai memasuki padang savana yang luas, padang savana yang
datarannya memiliki sudut 50-70º. Kali ini matahari langsung menerpa
kulit mereka, tidak ada lagi pohon-pohon yang melindungi. Sepanjang
perjalanan hanya ilalang setinggi pinggang sampai dada yang menemani
perjalanan mereka. Jalan setapak kali ini tidak ada tangga alami
seperti di bawah tadi. Jalan setapak kali ini batuan berpasir, licin,
seperti menaiki perosotan di Taman Kanak-kanak.
“Licin banget
jalannya, udah ngelangkah naek malah turun lagi”, terdengar suara yang
berasal dari pendaki wanita yang Enday lihat tadi.
Enday terlihat kesulitan karna carriel yang dibawanya terasa semakin
berat. “Nanjak terus daritadi, ampun deh”, batin Enday. Lagi-lagi Vita
mulai menjauh sedikit demi sedikit dari Enday. Langkahnya perlahan tapi
mantap. Mereka melewati sebuah dataran yang terlihat seperti sungai
tanpa air. Mereka turun ke bawah, tanahnya agak kehitaman, tidak ada
tumbuhan yang tumbuh disana, seperti Kalimati di Semeru. Enday
mengalihkan pandangannya ke kanan, dilihatnya padang savana yang
terlihat habis terbakar. Enday melihat sebuah batu besar di atasnya,
dia menghentikan langkahnya sebentar dan menenggak air dari botol
oranye-nya. Amoy terlihat sudah terlihat merebahkan tubuhnya di dekat
batu besar itu. Enday melanjutkan langkahnya.
“Kita break agak lama ya disini, peregangan dulu, pegel banget kaki gue.”
“Sama nih Vita juga.”
“Nyot-nyot
masih jauh ya? Gak keliatan”, Titi mengedarkan pandangannya ke bawah.
Terlihat pendaki mengisi jalan setapak di padang savana, bahkan ada
yang masih di areal hutan.
“Kasihan banget mereka masih dibawah situ, ya ampuuun…”
Mereka duduk bersandar di batu besar. Enday mengeluarkan cemilan
biskuit coklat dari tas pinggangnya, menawarkan kepada yang lain. Vita
mengeluarkan coklat chacha-nya, mereka saling berbagi.
“Vita tuh aer di botol lo mau abis, sini gue isi dulu”, Enday menunjuk botol yang menggantung di lengan Vita dengan dagunya.
“Tapi jangan penuh-penuh ya Nday, berat soalnya.”
Di atas mereka terlihat dua orang pendaki yang mendaki lumayan jauh
dari tempat mereka yang sedang beristirahat, caarrielnya ber-cover
kuning, yang satu ber-cover hitam.
“Itu peserta kita juga Moy?”, tanya Titi.
“Iya tuh, saingan yang berat”, Amoy senyum lagi.
Enday melirik Nike-nya, pukul 10.20.
“Bang kita jalan duluan ya, mumpung lagi semangat nih”, Enday berdiri sambil mengencangkan tali carriel-nya.
“Yauda
ikutin treknya aja ya, ikutin orang yang di atas kalian tuh”, Amoy
menunjuk dua orang pendaki di atas yang terlihat tidak pernah berhenti
melangkah.
“Ayo kita kemon”, Vita telah siap.
“Yuk, kita duluan yaa…”, Enday permisi kepada sepasang pendaki yang sedari tadi mendaki bersamanya.
“Iyaa
duluan aja…”, wanita muda itu tersenyum manis, ia masih asik
merebahkan badannya yang tidak beda jauh dari Vita di daypack-nya.
Kali ini mereka bertiga melanjutkan perjalanan, seperti biasa Enday
selalu tertinggal di belakang. Mereka sering berhenti untuk istirahat,
duduk diantara ilalang, Mereka harus pintar mengatur cara duduk agar
tidak merosot ke bawah. Mereka istirahat hanya sekedar untuk mengatur
nafas, menenggak air dan memakan cemilan untuk mengisi energi lalu
melanjutkan pendakian kembali.
Enday melihat lagi
jam tangannya, pukul 11.15. Puncak yang mereka lihat dari tadi seakan
hanyalah fatamorgana. Terlihat jelas tapi seakan perjalanan mereka
tiada arti untuk mencapainya. Sang Surya makin naik tepat berada di
atas mereka, panasnya terasa membakar kulit. Membuat kerongkongan
mereka cepat mengering.
“Tuh di atas ada pohon lumayan
gede, kita break yang cukup disitu”, Enday menunjuk pohon pinus yang
lumayan rindang, agak jauh dari tempat mereka berdiri.
“Capek ya Nday?”
“Makin lama makin kerasa berat Vit carrielnya. Lo bawa dong nih cobain, kaya Tika.”
“Yaaah
hahaha entar aja deeeh kalo udah satu meter pengen sampe atas situ”,
Vita cengengesan. Cewek ini emang paling gampang ngeluarin tawanya.
“Jeh satu meter! Apaan!”
“Hehehe yauda deeeh lima meter!”
“Jeh! Kaga ada! Seratus meter!”
“Iya oke kita ambil tengahnya aja… sepuluh meter! Vita lari entar ampe atas!”, semangat Vita berkobar.
11.35
Mereka bertiga sampai di pohon pinus besar, disana mereka bertemu
dengan dua orang pendaki yang mendaki paling depan dari semua peserta
GSR. Yang satu seorang laki-laki tinggi, tingginya sejajar dengan
Enday, hanya saja tentu badannya lebih berisi dari Enday. Entah
darimana Vita tau namanya, Imam. Yang satu lagi laki-laki yang mirip
dengan Peppy di acara Bukan Empat Mata. Cara berpakaiannya, wajahnya,
tubuhnya, kulitnya, cuma jenggotnya yang kurang. Vita, Enday, dan Titi
tidak sering melihatnya selama perjalanan dari UKI. Imam dan “Si Peppy”
berbagi lapak tempat duduk kepada mereka bertiga. Enday langsung
merebahkan tubuhnya, bersandar di carrielnya.
“Abang udah nyampe sini daritadi ya bang?”, Enday bertanya kepada “Si Peppy”.
“Gue
mah udah tidur bro daritadi, kebangun gara-gara dingin aja. Ada kali
setengah jam lebih. Tapi lumayan, bangun berasa segeeerr!”
“Istirahat yang lama aja disini, nunggu yang laen tuh pada masih jauh dibawah”, kata Imam sambil membuka bungkusan nasinya.
“Tuh
yang di depan paling sampe sini 20 menit lagi”, Peppy menunjuk dua
pendaki di bawah yang paling dekat dengan mereka. Vita melihat ke
bawah, itu pasangan yang tadi mendaki bersama mereka. Dibawahnya dengan
jarak yang hampir sama ada pendaki lain, dan terus ke bawah banyak
pendaki yang terlihat kecil. Ada yang baru ingin menyusuri
“Kalimati”-nya Guntur, ada yang sedang beristirahat di batu besar.
Tanjakan, trek batuan pasir, carriel, dan panaslah yang membuat
perjalanan mereka sering terhenti.
“Bro kita join nih bro, makan siang”, Imam menyodorkan nasi bungkusnya ke Enday.
“Sip Bang, gue udah makan tadi di bawah, masih kenyang daritadi ngemil.”
“Nih, makan dulu nih”, Imam menawarkannya ke Vita dan Titi.
“Iyaa
makasiiih”, Vita tersenyum manis. Vita terlihat biasa di mata cowok,
tapi kalau Vita udah ngeluarin senyum manisnya, mungkin David Beckham
sekalipun bakal menceraikan Victoria.
Kedua pendaki itu pun sampai di tempat mereka, mereka berbagi tempat
duduk dan berbagi cemilan. Enday melihat mereka seperti pasangan
kekasih, tapi mungkin juga sepasang sahabat sama seperti dirinya dan
Vita. Enday ternyata mengetahui bahwa yang wanita juga baru pertama
mendaki seperti Vita. Tak lama Amoy dan beberapa pendaki datang. Kabut
menyelimuti mereka, karbon dioksida yang keluar dari mulut mereka
sekarang terlihat menguap. Awan mendung tiba-tiba menyeruak di atas
mereka. Rintikan kecil hujan turun, terasa dingin di kulit.
“Kalian
mendapat ucapan selamat datang dari Guntur!”, Amoy yang sedang
bersandar di carriel-nya berbicara agak keras. “Siapin raincoat
kalian!”, seru Amoy lagi.
Mereka semua
memakai raincoat dari carriel dan daypack masing-masing, kecuali Amoy
yang baru sampai, dia sedikit menikmati rintikan kecil hujan yang
turun.
“Berangkat ah”, Imam dengan jaket waterproofnya terlihat siap mendaki lagi.
“Ayok jalan, bareng gak?”, Peppy yang memakai raincoat kuning mengajak Enday, Vita, dan Titi.
“Ayo vit”, Enday membetulkan raincoat ponco yang sudah menutupi tubuhnya.
“Iya ayo. Kak Titi, Ayo kita kemon!”, Vita dan Titi telah siap mendaki kembali setelah selesai memakai raincoat.
“Semuanya, duluan yaa”, Enday pamit ke semua pendaki yang masih terlihat kelelahan di bawah pohon pinus besar itu.
“Iya silahkan…”
“Duluan aja mas, mbak, kita baru sampe”
“Bang Amoy, jalan gak?”, Ajak Enday.
“Istirahat dulu, saya juga manusia biasa…”, ucap Amoy yang terlihat masih sedikit terengah-engah dibalik senyumnya.
Enday, Vita, Titi, Imam, dan “Peppy” melanjutkan pendakian, ada satu
pendaki wanita yang baru sampai ikut mendaki bersama mereka. Sepertinya
dia ingin puas beristirahat di atas sana, tidak ingin berlama-lama di
bawah pohon itu.
Rintikan hujan sekarang menjadi
deras, jarak pandang berkurang. Enday melepas kacamatanya, dia sulit
melihat karna kacanya tertutup percikan air hujan. Imam terlihat paling
depan, disusul Titi dan Vita, Enday agak sedikit jauh di belakang
mereka. “Peppy” membantu wanita yang ikut bersama mereka, menggunakan
trek di samping Enday. Gemuruh guntur membahana di telinga mereka.
Enday menghentikan langkahnya, jantungnya berdebar lebih cepat. “Cocok
banget dinamain Gunung Guntur...”, batin Enday.
12.45
Beberapa puluh meter lagi mereka sampai di puncak tiga Guntur, puncak
dari akhir perjalanan yang menanjak tiada henti dari awal pendakian,
perjalanan yang benar-benar menguji kekuatan fisik dan mental mereka.
Hujan sudah berhenti saat itu, awan mendung di atas Gunung Guntur
perlahan lenyap, cahaya matahari mulai menyinari lagi.
“Vita!
Berenti bentar! Katanya mao nyobain bawa carriel!”, Enday berbicara
agak keras ke arah Vita yang berada tak jauh di depannya. Titi terlihat
beberapa langkah lagi sampai di atas. Vita menunggu Enday.
“Nih bawa!”, Enday menurunkan carrielnya.
“Hep!”,
Vita terlihat agak sulit memakai carriel Enday. Matanya terpejam,
mulutnya tersenyum penuh arti. “Beraaaaat!”, teriak Vita.
Enday tersenyum melihat Vita yang berlari di depannya, treknya masih
menanjak. Enday beruntung mengajak Vita dalam acara pendakian ini.
Enday belajar banyak dari Vita. Tentang semangat, tentang kerja keras,
tentang usaha yang tanpa kenal lelah untuk mengejar sesuatu yang
diinginkan.
“Kamu Kartini muda yang luar biasa Vitaaa!”, teriak Enday.
“Kamu juga laki-laki yang luar biasa Endaaay!”, Vita membalas sambil melanjutkan larinya.
“Ayo Vitaa! Sampeee!”, Titi menyambut Vita.
“Yeeee
Vita kuat kan Ndaaay!”, Vita mengangkat tangannya ke atas, berteriak,
tertawa. Badan “sale pisang”-nya tidak sebanding dengan carriel Enday
yang terlihat lebih berisi darinya. Enday yang baru sampai tersenyum
kepada Vita. Enday bangga punya sahabat kayak Vita.
Imam terlihat duduk di dataran panjang yang cukup datar diantara dua
lembah. Enday, Vita, dan Titi melipat raincoat-nya. Vita dan Titi
wanita yang paling duluan sampai di atas sana dari pendaki wanita
lainnya. Mereka menikmati pemandangan di bawahnya, kota Garut terlihat
indah dari atas sana. Pematang sawah dan kebun-kebun luas milik
penduduk yang mereka lihat ketika menaiki truk tadi terlihat sangat
kecil dari atas sana. Tak jauh dari pandangan mereka terlihat “Peppy”
dengan teman wanita barunya sedang berusaha menapaki tanjakan yang sulit
didaki, sulit mencari pijakan yang tepat.
Mereka
bertiga berfoto, menikmati lukisan alam yang indah di sebelah kanan
dan kiri mereka. Di sebelah kiri ada lembah yang cukup dalam, terlihat
kabut menyelimuti lembah itu. Lembah di sebelah kanan terlihat sangat
luas, ada beberapa pohon di tengah lembah itu. Cahaya matahari yang
masuk ke lembah seakan membuat mata mereka enggan berkedip melihat
keindahannya. Mereka melanjutkan perjalanan, Imam terlihat sudah jauh
di depan. Di depan mereka terlihat sebuah puncak yang sepanjang
punggungnya mengeluarkan asap. Mungkin itu puncak keduanya, pikir
mereka.
13.45
Mereka duduk di dataran yang cukup luas di bawah puncak kedua, berbatu dan dibatasi semak-semak dipinggirnya.
“Kayaknya
kita diriin tenda disini deh, tempatnya luas”, ucap Imam kepada “Peppy”
yang sudah sampai hampir berbarengan dengan mereka bersama pendaki
wanita tadi. Titi terlihat sibuk melepas sepatu dan membersihkan kakinya
yang basah.
“Yauda ayo, kita ngopi, kita tidur”, ucap “Peppy”.
“Vita lo udah belajar diriin tenda kan di rumah? Jangan malu-maluin gue!” seru Enday.
“Tenang ajaaa, Vita udah nyoba di rumah! Waktu itu maen camping-campingan ama adek Vita!”
“Terus? Bisa bediri tendanya?”
“Bisa dooong!”
“Nah sip! Pasang nih tendanya!”, Enday mengeluarkan tas panjang merah berisi tenda dari carriel-nya.
“Tapi pas disuruh masuk pada gak mao, takut roboh katanya hihihihi!”, Vita cekikikan.
“Yeh si oneng”, Enday memasang tatapan malas ke Vita. “Yauda ayo kita pasang!”
Mereka menggelar tenda di dataran itu, di samping tenda Imam dan
“Peppy” yang sudah mantap berdiri. Mereka memasang kerangka-kerangka
tenda, memasukkannya ke jahitan secara menyilang lalu menekuk tenda itu.
Vita terlihat minta tolong kepada Imam, Imam langsung membantu. Dia
terlihat sangat mahir membentuk tenda, memasang pasaknya, dan memasang
flysheet-nya.
16.25
“Nday kita maen ke atas yuk, ke puncak dua. Kayaknya deket tuh”, ajak Titi yang sudah memakai jaket kuningnya.
“Ayo, lari yak biar cepet?”
“Ayo siapa takut.”
“Vita, minjem sendalnya ya?”, Enday melongok ke dalam tenda, berbicara kepada Vita yang sedang merebahkan tubuhnya.
“Enday mau kemana?”
“Ke atas, ikut gak?”
“Ke atas?”, Vita menggeleng.
“Yauda lo disini tungguin Babe ama yang laen yaa!”
Enday dan Titi berlari kecil ke arah puncak, tubuhnya terasa ringan
karna tidak memakai carriel. Tanah dan batuan yang mereka lihat dari
puncak tiga yang berasap terasa hangat di kaki mereka. Trek semakin
menanjak, Titi berhenti berlari, Enday menunggu Titi.
“Hhh… lumayan juga Nday”, Titi agak terengah.
“Stamina kita belom pulih kayaknya. Lanjut gak Ti?”
“Lanjut Nday, nanggung kita udah segini.”
Mereka melanjutkan jalan-jalan sore mereka ke puncak dua. Titi menoleh
ke belakang, sudah banyak tenda yang berdiri, mungkin peserta GSR sudah
sampai semua. Setelah sampai, mereka menyalami pendaki lain yang
mendirikan satu buah tenda disana. Puncaknya cukup datar, tapi tidak
seluas tempat mereka mendirikan tenda. Mereka melihat ke bawah, ke arah
tenda rombongan mereka yang terlihat sangat kecil. Mereka berbalik arah,
diseberang sana ada puncak yang bentuknya agak simetris, sudutnya tidak
jauh berbeda ketika mereka naik dari awal pendakian. Dipisahkan oleh
lembah yang terselimut kabut, lembah itu terlihat subur dan lembab,
tidak ada ilalang.
“Itu puncak satunya ya Nday?”
“Kayaknya sih. Ini kan tempat berdiri kita sekarang puncak duanya.
“Males banget deeh, kesininya aja udah capek banget!”, suara Dewi Persiknya Titi terdengar khas di telinga Enday.
“Yauda yuk ke camp, kabut udah mulai turun nih.”
“Aaaayok, kita meluncur ya?”
“Aaaaayok!”, Enday mengerti maksud Titi.
Mereka berlari kecil menuruni bukit puncak dua itu, kabut menyelimut
semakin tebal, jarak pandang hanya sekitar satu meter, tempat camp
mereka tidak terlihat lagi. Mereka berpegangan tangan agar tidak
terpisah dan mudah menuruni bukit itu. Tanah yang mereka injak sangat
gembur, berlumut, dan dibawahnya kadang ada batu cadas yang melukai
tumit mereka. Kaki mereka kotor dengan tanah. Kulit di tumit kiri Enday
mengelupas cukup lebar karna terpeleset di bebatuan, Titi juga terlihat
lecet tumitnya. Mereka melewati pepohonan yang cukup rapat dan masuk
kedalamnya, tanah untuk berpijak pun tertutup rapat ilalang-ilalang yang
cukup tinggi. Mereka menghentikan langkahnya.
“Kayaknya tadi kita gak lewat sini deh ti.”
“Iya Nday, tadi pas naek kan gak ada pohon-pohonnya kaya gini.”
“Gara-gara kabut nih kita jadi gak bisa ngeliat trek turun ama tempat camp.”
“Yaah Endaay, ngeri gue”, Titi menggenggam tangan Enday erat.
“Niat jalan-jalan sore malah begini hahaha”, Enday coba mencairkan suasana.
“AMOOOOOY! LO DIMANA MOOOY!?”, Titi tiba-tiba berteriak keras memanggil Amoy.
“DISINIIII! KE KIRI KE KIRI!”, suara Amoy terdengar dari kejauhan, dibalik hutan pohon pinus, menyuruh mereka bergerak ke kiri.
“Tadi
kan pas kita naek kita ada disebelah kanan pohon-pohon itu, sekarang
kita di sebelah kirinya. Berarti kita terlalu melenceng ke kanan pas
turun. Kita naek lagi aja, jangan nembus pohon-pohonnya, bahaya”, Enday
berkata dengan tenang dibalik tebalnya kabut, mencoba menenangkan Titi.
Mereka naik lagi ke atas, sampai batas vegetasi hutan pinus dan melipir
ke kanan. Mereka merasakan rasa hangat di kaki mereka. Enday melirik
jam tangannya, 17.15.
“Nah nih tanah ama batunya anget,
trek pas kita naek tadi. Kita ikutin jalanan yang berbatu anget ini aja,
pelan-pelan jangan lari”, Enday membiarkan Titi di depan, memberikan
pegangan tangan ke Titi agar tidak terpeleset. Mereka terus menuruni
bukit itu, dibalik kabut yang tebal mereka melihat warna biru, oranye,
merah, macam-macam, samar terhalang kabut. Mereka berdua terus mendekat,
tenda-tenda berwarna-warni terlihat jelas di depan mata mereka. Titi
berlari ke arah tenda mereka.
“Beeeeh! Tadi gue kesasar
beeeh!”, seru Titi yang berlari ke arah Babe di depan tenda. Di depan
tenda terlihat Babe yang sedang memasak air panas dan Tika yang sedang
menikmati udara gunung.
“Nah elu lagian ngapain ke atas? Kaga ada capeknya.”
“Jalan-jalan beh, mao ngeliat puncak Guntur.”
“Lah
itu puncaknya kan keliatan dari sini?”, Babe menunjuk puncak dua yang
sudah tidak tertutup kabut tebal lagi, tapi masih samar terlihat.
“Bukan beh, itu puncak duanya. Puncak satu ada dibelakangnya.”
“Lah jauh aja, kirain itu puncaknya!”
“Udah kumpul semua beh?”, Enday menghampiri mereka.
“Tinggal
si Boim, tadi gua telponin malah marah-marah. Nih minum teh anget
dulu”, Babe menyodorkan dua gelas yang mengepulkan uap panas kepada
Enday dan Titi.
“Tika, gimana? Baik-baik aja?”, Tanya Enday ke Tika yang duduk di batu dekat tenda.
“Alhamdulillaaah,
untung tadi ada orang baik banget ngajakin tukeran daypack-nya sama
carriel gue. Tapi orangnya belom sampe”, ucap Tika yang memakai jaket
merah berlogo kampus tempat dia kuliah di bagian dada kanannya.
“Ti, bersihin dulu kaki lo, terus kasih rivanol tuh ada di tas kecil gue.”
“Iya nih, perih.”
Mereka membersihkan kaki mereka dengan tisu basah, mengoleskan rivanol di luka mereka masing-masing.
“Beh, masak indomie yuk ah”, ajak Enday.
“kaga ada yang bisa dimasak, logistik sama nesting dibawa Boim semua. Ini gue masak aer pake parafin lu.”
“Gue juga kan carriel gue belom sampe”, Tika menyanggah omongan mereka.
“Gue ada indomie punya Vita empat bungkus.”
“Yauda kita minum teh ama jahe anget dulu.”
Mereka menikmati hangatnya teh manis dan air jahe. Keakraban mereka
menambah hangatnya suasana yang mereka rasakan. Vita dan Erna sedang
bercanda di dalam tenda, pembicaraan mereka terdengar sangat seru. Vita
selalu tertawa mendengar Erna bicara. Mereka semua seperti bukan
kumpulan orang-orang yang baru dipertemukan di acara GSR ini, mereka
seperti satu kesatuan dalam sebuah persahabatan yang terjalin sudah
sejak lama. Enday melirik Nike-nya, pukul 17.55. Enday melewatkan solat
Zuhur dan Ashar-nya.
“Boiiiiim! Lu gua telponin malah marah-marah!”
“Lagian lo ngapain sih Be nelponin gue, gue kan lagi ribet!”
“Aku
kan khawatir sama kamu Boiiiim!”, Babe ngomelin Boim yang baru datang,
Boim terlihat sangat lelah. Babe menyodorkan jahe hangatnya ke Boim.
22.15
Langit
malam di area mereka mendirikan basecamp terlihat cerah, tidak
terhalang awan. Bintang-bintang bertebaran di langit. Enday membersihkan
kacamata dengan kaos birunya lalu memakainya lagi. Enday menengadahkan
kepalanya, menikmati hamparan langit luas di atasnya dengan gugusan
bintang-bintang yang terasa dekat oleh penglihatannya. Bintang yang
paling besar terlihat jelas kerlipannya. Enday tidak pernah melihat
pemandangan seperti ini di Jakarta.
“Eh kalo mao tidur mah
di rumah aja! Kalian pada gak ngeliat bintang!?”, seru Boim ke tenda
yang didalamnya tertidur Vita, Babe, Titi, Erna, dan Tika.
“Udah pada tidur lo tereakin Bang!”
“Ini kan di gunung Nday, jarang-jarang bisa ngeliat pemandangan kayak gini.”
“Iya sih, bagus banget bang”, Enday masih terpana menyaksikan lukisan alam Sang Pencipta di atasnya.
“Gue tidur duluan ya Bang, ngantuk gue. Lo gak ngantuk apa?”, Enday berdiri dari tempat duduknya dan menepuk-nepuk pantatnya.
“Masuk aja duluan bro, gue entar aja.”
Enday masuk ke dalam tenda milik Boim, tenda yang hanya muat untuk dua
orang. Dia mengeluarkan sleeping bag dari dalam carriel-nya, membungkus
tubuhnya ke dalam sleeping bag. Enday memejamkan matanya, dia bernyanyi
dalam hatinya.
One night I stand, I remind of You our hope and dreams
Tears in my eyes when you gone so fast, when I realized
You know I can’t be perfect
I fall from You
You make me like I can’t stand with You
You make me like I can’t live with You
I can’t hold your hand
So please don’t let me down
I know I can’t be stronger when I know everythings over
Every time I feel, every day I think
I never see You once again
I try to be a stronger cause I can’t try to forget you
Oh no I missing You, I need is You
So please don’t make me feel like
I keep You in my heart
Enday mendendangkan Hate To Miss Someone-nya Still Virgin. Enday enggan
berpisah dengan sahabat-sahabat barunya. Enday merasa betah disini,
orang-orangnya baik semua. Tak ada yang egois, semua saling berbagi dan
saling menolong. “Gunung emang ajaib”, batin Enday.
***
“Bangun bangun! Semuanya bangun! Sarapan, solat, terus siapin yang
perlu dibawa! Kita summit attack abis solat subuh!”, Amoy berseru sambil
berkeliling area camp dengan headlamp dikepalanya.
“Eh lo udah bangun Nday”, Boim terlihat di depan tenda sedang membereskan sampah.
Enday menyalakan lampu jam tangannya, pukul 04.05, “kita summit pagi ini bang?”
“Iya,
bantuin gue masak yok. Biar entar cewek-cewek bangun udah siap”, Boim
menyalakan kompor gas nesting-nya. Vita, Tika, Erna, dan Titi masih
tertidur di dalam tenda. Babe terlihat baru bangun dan keluar dari dalam
tenda. Enday memasak spaghetti Bolognese sedangkan Boim menggoreng
chicken nugget. Disini malah cowok yang berperan menjadi ibu rumah
tangga.
05.10
Mereka
selesai menghabiskan sarapannya dan bersiap untuk summit attack. Enday,
Boim, dan Tika mengenakan headlamp dikepalanya.
“Coba keluarin persediaan aer masing-masing!”, seru Boim.
“Yah gue udah abis bang, tinggal setengah botol kecil. Kemaren pas naek stok aer gue buat bedua ama Vita”, jawab Enday.
“Vita?”, Tanya Boim.
“Vita udah abis buat masak aer sama masak indomie kemareeen”, Vita menjawab dengan intonasi yang terdengar manja.
“Babe, Erna, sama Titi mah gak bawa aer, gue yang bawa. Punya gue tinggal seliter. Haduh”, Boim kebingungan.
“Punya Tika masih dua botol kok, dua botol ukuran seliter”, Tika memberikan harapan ke semuanya.
“Oke
berarti gini. Punya gue yang satu liter buat naek ke atas, yang dua
liter punya Tika buat entar perjalanan kita turun. Harus cukup ya, minum
sekedar buat basahin tenggorokan aja. Aer gue dimasukkin ke daypack
Titi aja, bawa juga cemilan ama nata de coco. Enday yang bawa
daypacknya, entar kita gantian. Oke Nday? Gue jalan paling depan,
cewek-cewek ditengah, lo di belakang Nday”, Boim seolah menjadi leader
mereka. Mengkoordinir logistik dan formasi pendakian.
Mereka berjalan menapaki tanah dan batuan yang hangat menuju puncak
dua, treknya yang hampir vertikal cukup menguras tenaga. Lampu-lampu
dari senter dan headlamp pendaki terlihat menari-nari beriringan. Ada
yang sudah sampai di atas, tim “Nyot-nyot” masih di tengah. Nafas Enday
entah mengapa mulai terengah-engah, padahal kemarin sore dia kuat ke
puncak dua tanpa sedikitpun merasakan lelah. Enday merasakan dingin, dia
memang hanya mengenakan kaos yang dilapisi sweater hitam yang tidak
terlalu tebal, sarung terlilit di lehernya, dan sarung tangan hitam
sedikit menghangatkan ujung-ujung jarinya. Rona jingga kekuningan mulai
nampak dari ufuk timur di belakang mereka, gelap mulai menghilang
dikalahkan oleh sedikit sinar Sang Surya yang merembes keluar dari ufuk
timur. Enday melirik ke kiri, agak jauh disana terhampar hutan pinus
yang cukup rapat. Ternyata kemarin dia dan Titi tersesat cukup jauh
kesana.
Puncak Dua Guntur, 05.40
Mereka sampai di puncak dua. Mereka berfoto berlatarkan matahari terbit
di belakang mereka. Boim mengeluarkan bendera dari dalam daypack yang
dibawa Enday. Sang Saka Merah putih dibentangkan oleh Boim. “Woi! Potoin
gueeee!”, teriak Boim ke arah Babe yang memegang kamera digital.
Sedikit demi sedikit pendaki dari GSR menuruni lembah di depan mereka,
menuju puncak tertinggi Guntur. Banyak yang masih berfoto dan enggan
menyebrang kesana. Mungkin mereka sudah cukup puas sudah bisa sampai di
puncak dua. Atau mungkin mereka sudah terlanjur menyerah melihat puncak
Guntur yang treknya menanjak dan menanjak lagi jauh disana.
“Vita ayok!”, seru Enday.
“Hem?”,
Vita menatap Enday kemudian menggeleng. Babe, Erna dan Titi sebelumnya
memang sudah sepakat cukup sampai puncak dua, Vita sepertinya mengikuti
kesepakatan mereka.
“Ayok! Lo beneran gak mao ikut? Sayang banget loh udah jauh-jauh kesini!”, Enday meyakinkan Vita.
“Vita disini ajadeeeh”, Vita merajuk.
Enday menatap Vita sesaat, kemudian turun ke lembah bersama Boim dan
Tika. Enday mengikat kedua ujung Merah Putih di lehernya, bendera itu
dijadikan jubah. Enday berlagak kayak Superman.
“Tikaaa,
nengok sini dooong!”, Boim yang menyorotkan Canon mode videonya
memanggil Tika yang berada di depannya. Enday terlihat paling depan
dengan bendera Merah Putih-nya. “Kita lagi dimana niiih?”.
“Hay
saya Tika. Kita lagi berjalan menuju puncak satu Guntur, dua ribu dua
ratus empat puluh sembilan meter di atas permukaan laut. Disana
puncaknya!”, Tika tersenyum ke kamera dan menunjuk puncak utama Guntur
yang masih terlihat agak jauh di atas sana.
“Hay saya
Enday! Kita mau ngibarin bendera Merah Putih di atas sana! Di Puncak
Guntur!”, Enday menunjuk bendera yang ia jadikan jubah dengan jempol
kirinya, lalu menunjuk puncak Guntur yang diatasnya sudah terlihat
beberapa pendaki GSR yang berteriak kegirangan di atasnya.
Boim terus merekam Tika dan Enday. Tika direkam 5 menit, dan Enday
direkam 5 detik. Boim memang terlihat mempunyai tatapan yang beda kepada
Tika sejak di UKI.
“Beberapa langkah lagi kita sampe, itung mundur langkahnya dong!”, Boim berseru kepada kedua temannya itu.
“Sepuluh!”
“Sembilan!”
“Delapan!”
“Tujuh!”
“Enam!”
“Lima!”
“Empat!”
“Tiga!”
“Dua!”
“SATU!”
“KITA DI PUNCAK GUNTUUUUR!!!”
Puncak Guntur 2.249 mdpl, 07.05.
Teriakan mereka meledak. Mereka haru dalam bahagia. Mereka berkumpul
dengan pendaki GSR lain, membuat lingkaran dan memanjatkan doa syukur
kepada-Nya, kepada Zat yang menciptakan alam yang teramat indah di mata
mereka. Enday dan Tika bersujud mencium tanah yang hangat di puncak
Guntur. Mereka melepas semua lelah yang hinggap di dalam diri mereka.
Naik truk dengan jalanan yang ekstrim, lokasi penambangan pasir, mendaki
tanpa bonus dari awal pendakian, hujan di tengah pendakian, merangkak,
terjatuh, mereka melepaskan semuanya dengan berteriak. Mereka takjub
dengan pemandangan dari atas sana yang terhampar indah pemandangan kota
garut di bawahnya, dan menjulang dengan gagahnya Gunung Cikurai dan
Gunung Papandayan diseberangnya. Terlihat beberapa gunung dan banyak
bukit-bukit disekitar puncak Guntur. Garut mempunyai banyak gunung.
“Nday,
potoin gue lagi ngibarin bendera ya, ntar kita ganti-gantian ama Tika”,
Boim menyerahkan Canon-nya ke Enday. Enday mengabadikan gambar Boim
yang mengibarkan Sang Saka Merah Putih dengan latar jajaran pegunungan
dan langit yang biru cerah. Kemudian Enday mengambil gambar Tika. Boim
belum puas, dia meminta Enday mengabadikan gambar dirinya bersama Tika.
Bersama Tika lagi. Dan bersama Tika lagi. Enday jadi “obat nyamuk”.
“Gantian sekarang gue bang! Enak aje luh gue jadi potograper mulu!”, Enday ngomel ke Boim.
“Hahaha siap brooo!”
Mereka banyak berfoto, bercanda, menikmati nata de coco yang Boim sebut
“Minuman Kemenangan”, menghirup aroma belerang, dan tidak bosannya
menatap sekeliling puncak Guntur. Amoy terlihat menghampiri Enday.
“Si Vita mana Nday?”
“Gak ikut Bang, tadi gue ajak gak mao.”
“Yah sayang banget, padahal optimis banget tuh anaknya. Semangat terus dari awal ngedaki.”
“Capek kalih dia Bang.”
“Kalo capek bisa gue gendooong, tadi aja tuh anak-anak gue tarik pake webbing ampe atas.”
“Tau tuh anak, ngikutin tim Nyot-nyot kalih haha!”
Mereka semua berfoto dengan pendaki-pendaki GSR lain yang sudah
berkumpul, memang terlihat tidak semua peserta GSR yang berada di puncak
Guntur, hanya sekitar 40-an orang. Mereka berfoto dengan spanduk Kemang
Adventure, spanduk Guntur Smart Race, spanduk sponsor, bendera berbagai
komunitas grup pecinta alam, dan tentunya Sang Saka Merah Putih.
“Dibalik dinginnya udara gunung, ada kehangatan diantara pendaki-pendakinya.”
Area camp, 08.30.
Semua
pendaki GSR terlihat sibuk. Ada yang membongkar tenda, ada yang
memasak, bahkan ada yang carriel-nya telah siap digendong. Acara utama
dilaksanakan disini. Lomba peta buta dan “How Smart are You” yang
berisikan soal-soal yang mengetes sampai sejauh mana penglaman dan
pengetahuan seorang pendaki. Kedua games ini dilakukan secara
berkelompok dan diberikan waktu 10 menit untuk menyelesaikannya. Selesai
mengerjakan games, panitia mengumpulkan sobekan kartu doorprize dari
semua peserta lalu mengundinya. Ada yang mendapat cover bag, kaos, dan
sleeping bag. Enday, Titi, dan Babe mendapat Topi dari Makalu Outdoor,
salah satu sponsor GSR. Tim “Nyot-nyot” sejodoh mendapatkan doorprize
yang sama. Selanjutnya sesi tukar kado yang diatur oleh panitia waktu
meeting point di Monas kalau isi kadonya adalah barang dengan kisaran
harga 5.000-10.000 rupiah dan mencantumkan tulisan mengapa memberikan
barang tersebut. Vita mendapat dua pembatas buku yang terbuat dari kulit
dan bermotif wayang, Babe mendapat topi kupuk, dan Boim yang bertingkah
lucu karna medapatkan beberapa bungkus Indomie. Tika terlihat kaget
melihat Enday yang mendapat bungkusan kertas coklat yang sangat Tika
kenali bentuknya.
“Ih Nday, itu kayak punya gue deh”, Tika menunjuk kado yang Enday dapat dengan tatapan heran. “Kenapa elo yang bisa dapet ya?”
“Ini punya lo?”
“Iya, coba buka deh.”
Enday
merobek bungkusan kertas coklat itu perlahan. Didapatinya kain batik
berwarna biru hitam dan bercorak khas batik suku Baduy. Ada secarik
kertas di dalamnya, Enday membaca tulisannya.
Salam Lestari . . .
Slayer Badui ini aku persembahkan kepada yang beruntung dapatin kado
ini, coz satu pelajaran yang aku pengen kasih ke kamu, “Belajar
merelakan barang yang kita sukai, apabila ada orang lain yang lebih
menyukai benda kepunyaan kita” walaupun kamu gak minta ke aku, tp aku
yakin, kamu menyukai slayer ini . . . heee :)
Example: Ada orang laen ngasih Slayer badui ini ke aku, orang itu sama
kaya kita, anak pecinta alam, tp Alhamdulillah slayer ini belum pernah
aku pake, Maka’a aku pengen ngasih slayer kesayangan aku ini ke kamu . .
.
Salam kenal, Semoga kita bisa menjadi teman baik . . .
By :)
_27F63XXX_
Enday tersenyum simpul membacanya, Enday memang suka warna biru,
apalagi setelah membaca pesannya, Enday semakin suka dengan hadiahnya.
Ada pin Blackberry di akhir suratnya.
“Tikaaa! Makasih bangeeet! Berharga banget ini pastinya buat gueee!”, Enday berseru dan menyalami Tika.
“Hahaha sama-sama Nday!”
“Pake nyantumin pin BB segala lagi, gue kan gak pake BB Tikaaa! Hahaha!”
“Hahaha ntar pas sampe rumah langsung beli aja!”
“Wahahah duitnya abis buat kemarih!”
“Hahahah!”
Mereka bergembira dengan kadonya masing-masing. Enday terlihat yang paling bahagia.”Terima kasih banyak Tika”, batin Enday.
Panitia mengumumkan peserta yang akan mendapat hadiah utama berupa
carriel Eiger Avtech ukuran 50 liter. Panitia membaca kode undian
perlahan. Untuk beberapa detik belum ada tanda-tanda siapa peserta yang
beruntung mendapat hadiah itu. Kemudian suara sorakan terdengar dari
seorang anak kecil, anak kecil yang Enday dan Vita lihat di lokasi
penambangan. Anak itu berlari menghampiri panitia, raut wajahnya
terlihat bahagia.
“Yeeeh yang dapet anak kecil! Hahaha adil banget jadinya!”, seru Babe.
“Iya
jadi orang-orang gedenya gak ngiri, dia kan satu-satunya anak kecil
yang ikut kesini”, Erna tersenyum melihat anak kecil itu.
“Hebat ya dia bisa sampe sini.”
“Iya, jadi makin semangat mendaki deh tu anak.”
“Namanya siapa sih?”
“Kalo gak salah denger Bryan deh. Apa Rian, apa Rain gitu.”
Enday
memastikan pandangannya ke anak itu. Di leher anak itu terkalung slayer
bercorak bendera Inggris bertuliskan United Kingdom. “Itu kado punya
gue!”, Enday kaget sekaligus senang.
10.25
Sebagian
pendaki-pendaki GSR mulai meninggalkan area camp. Tim “Nyot-nyot”
terlihat tidak terburu-buru. Boim memimpin stretching dan doa yang tidak
dilakukan oleh kelompok lain. Mereka berfoto bersama lagi, merangkul
satu sama lain.
“Nday, aernya sebotol sama lo dan sebotol
lagi sama gue. Gue jalan paling depan, cewek di tengah, lo dibelakang
ya. Jangan mencar kayak waktu pas naek, soalnya kalo ada yang aus entar
repot”, Boim mengkoordinir mereka lagi.
Mereka
mulai berjalan menuruni bukit dan menyusuri jalan setapak diantara dua
lembah. Mereka sampai di titik awal turunan yang terjal, trek dimana
mereka melakukan pendakian yang berat. Boim, Tika, Vita, dan Babe
semakin jauh di bawah. Enday paling belakang menjaga Titi dan Erna yang
turunnya agak lambat karna Titi yang memakai sepatu Converse, sangat
tidak mendukung untuk perjalanan turun yang terjal seperti itu. Erna
lambat karna… ya, badan “Julia Perez lapis tiganya”. Mereka tidak
membayangkan kalau turunnya akan sesulit itu. Mereka mengambil pijakan
dengan hati-hati, terduduk, berseluncur menggunakan bokong, mereka
seperti anak-anak TK yang sedang bermain perosotan. Bedanya disini
adalah nyawa taruhannya. Sesekali mereka berhenti dan menenggak air dari
botol minuman Enday.
“Inget kata Boim, minumnya sekedar buat basahin tenggorokan aja, perjalanan kita masih jauh”, Titi mengingatkan.
“Ngomong
jangan mencar-mencar, tapi mereka udah pada jauh di depan”, Erna
ngedumel melihat Boim, Tika, Vita, dan Babe yang terlihat sudah lumayan
jauh menuruni gunung. “Untung masih ada Enday disini”, Erna cengengesan
ke arah Enday.
“Gue? Gue kan baru pertama naek gunung, gue bisa apaan?”, Enday membatin kebingungan.
Mereka lanjut menuruni gunung. Curam, sangat curam sudutnya. Mereka
kesulitan memakai kakinya untuk menuruni trek yang meliputi kerikil
berpasir, mereka lebih sering menggunakan bokongnya. “Baru kali ini gue
liat di gunung orang jalan pake pantat”, batin Enday.
Titi perlahan meninggalkan Enday dan Erna yang masih dibelakang, semakin jauh dan menjauh sampai tak terlihat.
“Nday, lo temenin gue ya, jangan ninggalin gue…”, tampang Erna agak memelas.
“Tenang aje Mpok, gak bakal gue tinggaaal! Kita pelan-pelan aja yang penting selamet sampe bawah”, Enday menenangkan Erna.
“Lo jalan di depan gue deh Nday, gue ngikutin lo dari belakang biar gue gak salah napak.”
Enday merosot dengan kakinya, terhenti untuk memilih pijakan yang
tepat, terpeleset, merosot dengan bokong, berdiri lagi, terpeleset lagi.
Kadang batuan sebesar bola tenis menggelinding ke arah pendaki di
bawahnya. Enday selalu berteriak “Awas batu!” sebelum batu itu
menghampiri pendaki di bawahnya. Itu yang ia baca di novel 5 cm.
Enday dan Erna berpapasan dengan pendaki laki-laki yang masih memakai
kaos GSR, tubuhnya gemuk dengan pipi tembamnya yang berewok kasar.
“Gilak bang, turunnya ekstrim begini!”, seru Enday.
“Iya nih, pas naek mah naek aja gak ngebayangin turunnya bakal kaya gimana”, kata Abang itu.
“Ayok bang kita bareng, sampe pohon situ istirahat sebentar aja”, Enday menunjuk pohon cemara yang tidak jauh di bawahnya.
Mereka melanjutkan ritual menuruni gunung. Terpeleset, merosot, tangan
mereka kotor dan lecet karna membantu tubuh masing-masing agar tidak
tergelincir saat terpeleset dan merosot. Enday sampai di pohon itu lalu
merebahkan carrielnya di pohon agar tidak menggelinding ke bawah. Dia
mengeluarkan botol minumannya yang isinya tinggal setengah. Erna dan
Abang yang bersamanya menghampiri Enday. Abang itu duduk bersandarkan
carrielnya, kakinya menyaggah rerumputan agar dia tidak terperosot ke
bawah. Erna menurunkan daypacknya yang terlihat sangat penuh dan
berbentuk agak bundar. Daypack Erna menggelinding ke bawah, Enday
berusaha menangkapnya tapi tidak berhasil. Daypack Erna terus
menggelinding ke bawah.
“Yah yaah yaaah yaaaah Endaaaaay… gimana nih Ndaaaay…”, Erna memelas.
“Tenang
Mpok, pasti berenti, kita liatin aja dimana berentinya”, Enday dengan
tampang sok tenang bak Mario Teguh yang sedang memberikan motivasi
menenangkan Erna yang memelas melihat daypacknya yang masih
menggelinding ke bawah, ke arah ilalang-ilalang. Abang berewok itu juga
ikut memperhatikan.
“Nah berenti disitu!”, Enday melihat letak daypack Erna berhenti menggelinding, cukup jauh dari tempat mereka berdiri.
“Lo
yang turun Nday ntar gue tarik, gue bawa webbing, mudah-mudahan cukup
sampe situ”, kata Abang bewok itu yang mengetahui namanya, mungkin dia
mendengar dari mulut Erna yang sering memanggil Enday.
Enday
turun dengan cekatan berkat bantuan webbing, dia berpegangan dengan
webbing yang ditahan oleh Abang bewok itu dari atas. Webbing itu sedikit
tidak mencapai daypack Erna, tapi berkat tangan Enday yang kurus
panjang, dia berhasil meraih daypack itu.
“Hap! Dapet Mpok!”, Enday berteriak ke arah Erna di atas. Erna tersenyum lega.
“Naek Nday!”, seru Abang bewok itu.
Enday menggemblok daypack itu di pundaknya dan naik ke atas dengan bantuan webbing.
“Shock
banget gue Nday, bisa gelinding gituuu… puluhan kali gue naek gunung
baru kali ini daypack gelinding!”, Erna terlihat melotot.
“Lagian daypack lu bisa bunder gitu Mpok! Untung bukan orangnya yang gelinding kan sama-sama bulet!”
“Hemm, rese lo Nday!”
“Hahaha
kita minum dulu dah Mpok.”, Enday menyodorkan botolnya kepada Erna,
Erna menenggak sedikit, Enday juga menenggak sedikit, air mereka tinggal
sedikit.
“Bang, punya aer gak?”, Tanya Enday.
“Abis aer gue”, tampang Abang itu terlihat lelah.
“Nih
minum dulu nih”, Enday menyodorkan botol airnya. Abang itu menenggak
sedikit, ia juga sepertinya tau kalau itu stok air terakhir Enday dan
Erna. Enday menuang air dari botol ukuran 1 liter itu ke dalam botol
oranye kecil di tas pinggangnya agar mudah mengambilnya. Mereka bersiap
melanjutkan perjalanan turun.
“Awas Mpok gelinding”, Enday meledek Erna. Mereka tertawa.
Mereka lanjut menuruni Gunung Guntur. Terpeleset, merosot, berpegangan
pada rerumputan, terpeleset lagi, merosot lagi. Trek pun terputus, Enday
berhenti.
“Treknya keliatan gak Nday!?”, Abang Bewok itu berteriak bertanya ke Enday.
“Treknya
putus disini, kayaknya kita mesti melipir ke kiri deh! Nih rumputnya
bekas keinjek-injek, pasti yang laen tadi juga lewat sini!”
Enday melipir punggung gunung ke arah kiri, Enday menemukan trek lagi,
trek kerikil berpasir. Erna dan Abang bewok di belakangnya terus
mengikuti Enday. Enday mengingat video di youtube yang pernah ia lihat
ketika ada pendaki yang menuruni Mahameru, pendaki itu terlihat asik
menuruni trek Mahameru-Khelik yg berpasir dengan berseluncur menggunakan
tumit kakinya. Enday ingin mencobanya.
Enday terus
turun ke bawah, meluncur menggunakan kakinya. Kedua tangannya
direntangkan ke samping. Enday merasa bisa terbang. Carriel besarnya
tidak menjadi hambatannya meluncur. Enday merasakan perasaan senang saat
meluncur. Enday turun dengan cepat meninggalkan Erna dan Abang bewok
yang lumayan jauh di belakangnya. Melewati beberapa pendaki wanita yang
merosot menggunakan bokongnya. Enday sampai di batu besar tempat dia
beristirahat waktu perjalanan naik dengan Vita dan Titi. Enday berhenti
disitu bersama Chandra, yang masih Enday ingat namanya waktu
memperkenalkan diri di Monas, nama panggilannya Encan. Rain si anak
kecil yang luar biasa. Beberapa wanita berjilbab, dan seorang lelaki
yang Enday fikir adalah Ayah si Rain. Mereka istirahat bersama di batu
itu. Enday mengacungkan botol oranye-nya dan menggoyang-goyangkannya.
“Mpok minum Mpoook! Ayo siniiiii!”, Enday berteriak menyemangati Erna
yang masih merosot menggunakan bokongnya di atas sana.
Erna dan si Abang bewok sampai di batu itu, Enday berbagi minuman lagi kepada Erna dan Abang bewok itu.
“Abisin
aja mpok, mudah-mudahan tenggorokan kita cukup kuat sampe aer terjun”,
Enday menyuruh Erna menghabiskan stok air terakhir mereka.
“Sendal gue putus Nday, tuuuh…”, Erna memelas lagi sambil mengacungkan sandal eiger yang talinya terputus.
“Yaaah sendal gue di daypack-nya Vita Mpok!”, seru Enday.
“Ada yang punya sendal gak?”, Erna bertanya kepada semua orang yang berada di batu itu.
Seorang wanita berjilbab mengeluarkan sandal jepit dari dalam daypacknya. “Nih pake aja Mbak”.
“Makasih ya Mbak, ntar di bawah saya balikkin”, Erna tersenyum. Perasaannya lega.
“Nih minum mas”, Ayah Rain menyodorkan botol air berwarna keunguan bergambar buah pome.
“Makasih
ya mas”, Enday tersenyum lalu menenggak sedikit jus itu dan mengopernya
ke Erna. Mereka beruntung karna mendapat sedikit energi tambahan.
“Ini anaknya mas?”, Tanya Enday.
“Iyaa.”
“Hebat banget mas anaknya, gak ngeluh sama sekali. Gak ngerengek minta digendong. Hebat!”, Enday kagum.
Awan mendung mulai menyeruak di atas punggung Gunung Guntur, terlihat
hanya menyeruak di atas gunung yang “botak” itu. Rombongan yang tadi
beristirahat bersama mereka sudah melanjutkan perjalanan duluan bersama
si Abang Bewok.
“Lanjut Mpok?”
“Lanjut Nday!”
“Lu gak pake raincoat Mpok?”
“Enggak ah, nanggung udah kotor begini.”
“Yauda yuk kita kemon!”, Enday sudah siap melanjutkan perjalanan setelah memakai raincoat ponco birunya.
13.40
Hujan turun dengan deras, Enday melepas kacamata dan mengantonginya.
Enday menampung air hujan dengan raincoat yang ia tengadahkan dengan
tangan dan meminumnya. Mereka sudah memasuki areal hutan. Datarannya
sudah mulai agak rata dan tidak menyusahkan seperti di atas tadi. Enday
dan Erna terus berjalan diselingi candaan-candaan agar lelah tidak
mereka rasakan. Mereka berdua sama-sama humoris. Mereka menemui jalan
setapak bercabang. Enday menghentikan langkahnya, mengingat jalan mana
yang benar. Enday terus meneruskan langkahnya, Enday melihat Chandra
yang kaos merahnya basah kuyup sedang mengimami Rain dan wanita-wanita
berjilbab yang mengenakan raincoat, mereka melaksanakan solat Zuhur di
tengah gunung, disaat turun hujan. Hati Enday tercekat, hatinya terasa
ditampar. “Gilak, di tengah gunung gini, ujan-ujanan, mereka solat. Gue
yang di rumah nyantai, nonton tivi, online, sering males solat!”, Enday
menengadahkan kepalanya ke atas, “Yaa Allaah, maafin Hamba yaaa…”
Enday dan Erna melanjutkan perjalanan, mereka berpapasan dengan Imam
bersama pendaki-pendaki GSR lain yang sedang berteduh di bawah flysheet
yang diikat di batang-batang pohon. Imam menyodorkan segelas kopi susu
yang masih mengepul karna panas.
“Nih minum dulu bro!”
“Makasih
Bang Imam!”, Enday menerima kopi dari Imam dan meminumnya, hangat.
Hangatnya kopi yang ia minum bercampur dengan hangatnya suasana disana.
Dibalik dinginnya udara gunung, ada kehangatan diantara
pendaki-pendakinya.
“Bro, gue boleh minta tolong bawain
daypack gue gak? Gue takut dalemnya basah soalnya bukan punya gue”,
Chandra yang tidak mengenakan raincoat meminta tolong kepada Enday.
“Sip
sini bang, gue gemblok di depan”, Enday meraih daypack dari tangan
Chandra lalu menggembloknya di depan dan ditutupi dengan raincoat
birunya.
“Gue gak mao kesini lagi…”, Chandra menggeleng dengan tatapan yang kosong.
Enday berjalan di depan, pundaknya mulai terasa sakit karna beban
carriel dan daypack yang ia gendong di depan dan belakang tubuhnya.
Sesekali terlintas Vita dipikirannya, “Vita baik-baik aja kan yaa? Ya
Allah, jagain Vita yaa…”, Enday mendoakan sahabatnya yang mulai dari
awal menuruni gunung sudah jauh meninggalkan mereka.
“Kuat Nday?”, Erna bertanya dibelakang.
“Alhamdulillah Mpok masih kuaaat!”
“Udah berapa kali naek gunung Nday?”
“Mmm… jangan kaget yaa.”
“Berapa kali emang Nday?”
“Ini yang pertama Mpok.”
“Hah!? Beneran!?”, Erna sedikit kaget.
“Iya, gue sama Vita baru pertama kali muncak.”
“Tapi lo hebat Nday, cocok lo jadi pendaki gunung. Badan lo tinggi lagi, cocok deh.”
“Haha si Empok bisa ajee!”
“Abis berapa buat belanja?”
“Satu setengah Mpok.”
“Wets lumayan. Beli carriel, sleeping bag, sepatu segala macem Nday?”
“Iya yang penting-penting pokoknya dibeli lah haha.”
“Nday, gue udah lama nikah tapi belom punya anak. Doain yaa supaya cepet dikasih momongan.”, Erna jadi curhat.
“Aamiin Mpok gue doain! Gue doain anaknya entar kembar!”
“Yeee jangan kembar juga kali! Eh tapi gak apa apa deh Nday hahaha! Doain yaa!”
Hujan mulai berhenti. Mereka mulai menuruni tangga alami bebatuan dan
akar pohon yang menjadi licin karna air hujan. Nafas Enday memburu,
pundaknya benar-benar terasa pegal dan sakit. Daypack didepannya
menutupi pandangannya untuk menuruni tangga-tangga besar alami itu.
Sesekali Enday meminta Erna dibelakangnya memegang tangannya supaya
Enday tidak tergelincir.
“Bro! Ujannya udah berenti, sini
daypacknya gue yang bawa!”, Chandra berseru dari arah belakang. Enday
menyerahkan daypack itu kepada Chandra, kini pundaknya agak sedikit
terasa ringan.
“Nih Bang.”
“Makasih banyak bro, lo gak apa apa kan?”
“Gak apa apa bang.”
“Ampun deh, gue gak mao kesini lagi! Enggak!”, keluh Chandra.
Mereka melanjutkan menuruni jalan setapak yang berbatu-batu besar itu.
Berhati-hati, berpegangan pada akar pohon, rumput, ilalang, apapun yang
bisa mereka pegang agar mereka tidak terpeleset. Mereka terus berjalan
turun dan turun menapaki jalan setapak yang mereka lalui waktu mendaki
ke atas.
“Eeeeh hehehe Endaaaay!!!”, Vita cekikikan
melihat Enday yang sedang menuruni jalan setapak. Enday tersenyum
melihat Vita yang kelihatan baik-baik saja. Disana terlihat Babe dan
Titi bersama pendaki-pendaki GSR lainnya sedang beristirahat. Ada yang
rebahan di batu besar dan ada yang memasak.
“Boim mana beh?”, Tanya Erna yang baru menghampiri mereka.
“Gak tau, gue betiga doang ama Vita ama Titi. Boim paling sama Tika.”
Mereka mengobrol, bercanda lagi. Erna menceritakan kejadian saat
daypacknya menggelinding, sendalnya yang putus, sempet nyeker pas turun,
dipinjemin sendal. Vita bercerita saat dia terpeleset lalu jari
tangannya terluka. Titi menceritakan perjalanan turun merosotnya sampai
celananya robek lumayan lebar, untung dia mengenakan celana pendek lagi
didalamnya.
“Dipajang tuh celananya, di pigura, jangan dicuci, biar entar bisa diceritain ke anaknya”, salah seorang pendaki nyeletuk.
“Hahaha iya juga yaa. Boleh tuh boleh, entar di rumah dipajang deh”, Titi setuju.
“Mendaki itu bukan sekedar kita berdiri di puncaknya lalu berbangga diri, tapi bagaimana kita melawan keegoisan hati.”
Lokasi penambangan pasir, 15.20.
Enday,
Vita, Erna, Babe, dan Titi telah sampai di lokasi penambangan, lokasi
dimana mereka akan memulai perjalanan turun dengan menggunakan truk
pasir. Perjalanan yang buat mereka lebih ekstrim dari Halilintar,
Hysteria, ataupun Tornado di Dufan. Raut wajah mereka terlihat lega.
“Senang mendaki dengan anda!”, Enday menyalami Erna. Erna tersenyum penuh arti.
“Senang mendaki dengan anda Bu!”, Enday menyalami Babe. Babe tersenyum santai dengan wajah “selow”-nya.
“Nyot-nyot kalian semua luar biasaaa!”, Babe berseru di lokasi penambangan.
16.35
Enday,
Vita, dan Titi berdiri di atas bak truk pasir kuning bersama 30-an
orang pendaki GSR. Babe dan Erna duduk dibangku depan samping sopir.
Mereka rombongan pertama yang meninggalkan lokasi penambangan. Kali ini
perjalanan turun terasa lebih “maut” dari perjalanan naik. Jalur
tanahnya yang basah menjadi licin dan rawan longsor. Vita berjongkok
memeluk kaki Enday, kepalanya tertunduk ke bawah menahan takut. Enday
duduk bersandar di bibir kiri bak truk itu. Truk itu terguncang,
bergoyang ke kiri, bergoyang ke kanan, tersentak ke depan, terjungkir ke
belakang. Melewati tugu yang yang patah, sawah, perkebunan, perumahan
penduduk.
“Gilak tuh gunung, kecil-kecil cabe rawit!”
“Turun gak bisa pake kaki, turunnya ngesoood!”
“Kaga ada bonusnya! Kaga dikasih ampun! Haha.”
“Gue gak mao ah kesini lagi!”
“Gue mao tapi nunggu amnesia dulu, nunggu lupa ama treknya haha!”
“Gue sih mau lagi kalo ada yang ngajak. Pemandangannya keren, treknya mantep! Kenangannya banyak!”
Para pendaki berkomentar di atas truk itu. Menceritakan pengalaman-pengalamannya selama mendaki dan perjalanan turun.
Puncak Guntur terlihat terselimut awan, puncaknya yang tandus tidak
terlihat dari bawah oleh mereka, langit sore menghiasi latar gunung itu.
Gunung yang memberikan banyak pelajaran kepada mereka semua. Tentang
arti hidup, tekad, semangat, impian, kerja keras, usaha tak kenal lelah,
kebersamaan, saling berbagi, saling menghargai. Mereka merasa kecil
dihadapan-Nya, mereka Mensyukuri nikmat Yang Maha Kuasa agar mereka
tidak menjadi manusia yang angkuh. Enday terdiam menatap Guntur,
terbayang saat ia melihat Chandra, Rain, dan wanita-wanita yang
mendirikan kewajibannya sebagai seorang muslim dan muslimah di tengah
gunung, tanpa ada yang melindungi mereka di tengah dingin dan derasnya
hujan. Enday berjanji kepada dirinya sendiri dan Zat Maha Sempurna di
atas sana bahwa ia tidak akan meninggalkan kewajibannya sebagai umat
muslim, kewajiban solat lima waktu. Mereka semua masih terpana melihat
keagungan Guntur.
Jakarta, 1 Maret 2013. 19.30.
Jalanan
di daerah Blok M malam itu sangat padat. Seorang pemuda bertubuh kurus
tinggi mengekan jaket hitam dan jeans abu-abu gelap dengan sepatu
Airwalk hitam mengendarai lambat satria-nya bersama seorang wanita kurus
yang memakai kaus merah lengan panjang, jeans biru gelap, sepatu
converse merah, dan kerudung putih yang terlihat dari dalam helm
membonceng di belakangnya. Mereka masuk ke Blok M Plaza, pemuda membawa
satria biru-putihnya ke lantai under ground. Mereka masuk ke dalam lift
dan menekan tombol berangka 6.
“Telat nih kita Vit, Nyot-nyot pasti udah nungguin dari jam tujuh.”
“Enday sih bawa motornya lambreta tralala!”
“Jakarta coooy Jakartaaaa!”
“TRING!”, pintu lift terbuka, Enday dan Vita bergegas menuju restoran seafood yang ada di lantai itu.
“Vitaaaa! Endaaaay!”, seorang wanita bertubuh gemuk berdiri memanggil mereka.
“Kak
Ernaaaa! Uhuhuhuhuuu kangeeen!”, Vita berlari menghampiri Erna, Babe,
Titi, Tika, dan Boim yang duduk sofa di dalam restoran. Vita memeluk
Erna.
“Kak Babeee! Kak Titiiii! Kak Tikaaa! Kak Boiiim!”,
Vita memeluk mereka satu persatu, kecuali Boim yang hanya mendapat
salaman tangan dari Vita. Enday menyalami mereka dengan senyuman penuh
arti.
“Bang Boim! Abang gue! Haha!”
“Wets apa kabar lu bro!?”, mereka bersalaman dan berpelukan.
“Nyot-nyot kumpul lagi niiih!”, Babe nyeletuk.
Enday dan Vita duduk, mereka bercanda lagi, bercerita setelah
pendakiannya dari Guntur. Enday yang selalu bekerja tak kenal lelah
untuk bisa membiayai dirinya sendiri agar bisa kuliah, Enday yang gak
pernah ninggalin solatnya lagi, Enday yang udah bukan Enday yang dulu
lagi. Vita juga bercerita. Vita yang udah gak murung lagi, Vita yang
selalu ceria, Vita yang selalu memaafkan kesalahan teman-temannya, Vita
yang selalu sabar menghadapi junior-juniornya, Vita yang udah gak punya
sifat mendendam lagi. Mereka semua larut dalam kebersamaan malam itu.
“Eh tau gak kenapa kalian gue suruh kumpul disini?”, Tanya Boim.
“Elu mau neraktir kita Im!”, Babe nyeletuk lagi.
“Iyaiya oke, tapi ada lagi.”
“Apaan?”
“Gue… sama Tika… Jadian.”
“HAH!?”
“SERIUS LO!?”
“BENERAN IM!?”
“BANG BOIM MODUS WAHAHAH!”
“Iiiih Bang Boim, Kak Tika, gak nyangka deh Vitaaa! Ihihihihi!”, Vita cekikikan lagi.
Boim
mau disambit tisu, disambit garpu, disambit sendok, disambit piring,
tapi gak jadi karna dipelototin sama karyawan-karyawan disana. Tika
hanya tersipu diam.
“Pantesan lu betah banget kesasar bedua pas turun!”
“Gue gak kesasar beh!”
“Lah buktinya lu sampe lama banget!”
“Berarti
di Guntur kemaren itu sekalian poto preweding yak!? Gue potograpernya!?
Haha kampret luh Bang!”, Enday melempar tisu ke Boim.
“CINTA KASIH DI GUNUNG GUNTUR!”
“GUNTUR IM IN LOVE!”
“PASANGAN GELEDEG!”
“CETARRR MEMBAHANA ULALAAA!”
“Hahaha! Kalian luar biasa Nyot-nyooooot!”
"Eh tau gak kalo Nyot-nyot dapet skor tertinggi pas lomba yel-yel?"
"Ah masa!?"
"Yel-yel ancur gitu hahaha!"
"Gak waras semuanya hahaha!"
"Berarti kita emang kompak abeeeesss!"
"Hahaha hidup Nyot-nyooooot!"
Mereka tertawa, keasikan bercanda sampai lupa memesan makanan.
Manusia-manusia ajaib dengan berbagai macam kejutannya. Enday dan Vita
bersyukur bisa mengenal mereka, mengenal orang-orang yang baik seperti
mereka. Sesekali mereka mengulang kisah perjalanan mereka di Gunung
Guntur, gunung dengan sejuta keindahannya, gunung dengan sejuta
kenangannya, gunung yang banyak memberikan pelajaran berharga ke mereka,
gunung Ciptaan Zat Yang Maha Sempurna.