Friday, January 3, 2014

Pangrango: Sahabat Dalam Diam

Senin, 23 Desember 2013. 07.30.
"Baru jam setengah lapan nih Dan!"
"Wih cepet, tadi jalan dari Tebet jam setengah tujuh ye? Jam sembilan juga nyampe Cibodas ini mah Nday."
"Bismillah, lanjuut!"
Nday tancap gas saat lampu telah hijau. Kali ini Nday melakukan perjalanan dengan menggunakan motor satrianya bersama rekan kerjanya, Ramdan. Jalan Raya Bogor terlihat sedikit lengang pagi itu. Nday mengemudi dengan menggemblok daypack di depannya, sedangkan Ramdan dibonceng dan menggemblok carrier kesayangan Nday.
"Weets depan rajia Daan! Melipir dulu kita.", Nday menghentikan motornya di pinggir jalan putaran tol Ciawi. Diseberangnya banyak petugas kepolisian yg sibuk menghentikan dan memeriksa surat-surat pengemudi motor dan mobil.
"Kita makan soto dulu Nday, laper kan? Sekalian ngerokok dulu gue."
"Iye deh, belom ampe Cibodas udah laper gue."
"Mang, sotonya satu, nasinya dua ya mang.", Ramdan memesan soto pikul dekat dengan titik mereka berhenti.
"Nunguin rajia A?", tukang soto bertanya sambil menuang kuah sotonya.
"Enggak mang, emang lagi laper aja. Sekalian tukeran, saya kan gak punya SIM, temen saya punya.", Jawab Nday sekenanya.
Nday emang bandel, padahal udah disuruh berkali-kali sama bapaknya cepet-cepet bikin SIM. Tapi Nday bilang dia mau bikin SIM kalau sistem pembuatan SIM di Indonesia udah gak pake sistem "nembak" lagi.
"Iye Nday, gue aje abis setengah juta lebih buat bikin SIM di Jakarta. Gak nembak yaa gak bakal lulus."
Lorenzo, Rossi, Hayden juga gak bakal bisa dapet SIM disini kalo bikinnya gak nembak.
"A.. a.. a.. bisa aje lo Nday!"
Jangan tawa luh Dan, jelek.
"Berapa mang? Tadi soto satu, nasi empat.", Nday mengeluarkan dompet dari bodypacknya. Mereka nambah nasi, ternyata mereka kelaperan.
"Duapuluh ribu A."
"Pas Dan, ceban-ceban yak."
"Gampang Nday."
"Lanjut Dan? Gantian yak lo yang bawa motor? Sesuai perjanjian dari Ciawi ampe Cibodas lo yg bawa motornya. Pas banget depan ada rajia."
"Yoyooy! Gak ada sejam lagi juga nyampe lah.", Ramdan tarik gas. Kali ini dia yang pakai daypack didepan, Nday dibelakang menggemblok carriernya.
Mereka melewati barikade kepolisian, mereka dibiarkan lewat. Entah para polisi itu takut dengan tampang Ramdan atau kasian dengan tampangnya yang melas. Mereka sampai di kawasan puncak sekitar pukul sembilan pagi. Puncak tidak seperti biasanya pagi itu, kabut tebal menyelimuti perjalanan mereka. Nday melihat termometer kecilnya, 18ºC. Ramdan mulai menggigil, Nday menyuruhnya berhenti dan memberikan sarung tangan polar dari dalam carriernya. Mereka melanjutkan perjalanannya, Ramdan tetap mengemudi. Setelah lewat Puncak Pass kabut mulai menghilang perlahan. Nday menarik nafas dalam-dalam, hawa pegunungan merasuk ke dalam paru-parunya. Sejuk, dingin, suasana yang seolah sudah lama tidak ia rasakan, padahal tanggal 5 Desember kemarin dia baru pulang dari Merbabu. Tapi Nday selalu merindukan suasana seperti ini. Kabut melintas di tengah perbukitan kebun teh yang menjadi pemandangan faforitnya.
"Huaaa udah lama banget gue gak ngerasain hawa kayak gini Nday!", Ramdan berteriak setelah menarik nafas panjang, menarik oksigen segar pegunungan.
"Tuhkan, gak salah lo ikut gue."
"Lo mah racun Nday, gara-gara lo nih gue naek lagi!"
Ramdan emang udah lama gak naek gunung lagi, terakhir naek tahun 2007 katanya, selepas lulus SMA. Dia ngaku udah pensiun dan gak mau mendaki lagi. Tapi semua berubah sejak negara api menyerang.. Maksudnya, semua berubah ketika Nday memperlihatkan video perjalanan solo tripnya ke Merbabu waktu itu. Ramdan terbius lagi, jiwa mudanya kembali setelah Nday racunin tentang betapa indah dan berharganya sebuah perjalanan.
"Tapi lo mah gila Nday, naek gunung sendiri. Gue mah ogah dah!"
Ah gangguin aje lo Dan! Gue mao nerusin cerita nih! *keplak pake nesting*
"Aih maneh mah meuni ngocol." -_____-
Mereka sampai di pertigaan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Ramdan membelokkan stangnya ke kanan dan menghentikan motornya di depan counter pulsa.
"Bentar Nday, gue beli perdana dulu. Katanya Simpati dapet sinyal ya diatas?"
"Kaga tau dah, emang lo mao ngapain?"
"Gue mao nelpon outlet besok pagi. Besok pagi kan kita di mandalawangi, kartu tri gue mah kaga bakal dapet sinyal di gunung."
"Enak yeh bolos!"
"Eh kalo gue gak bolos lo gak bakal dibolehin nanjak sendirian di Gede mah."
"Oke-oke, lo emang sahabat gue meen! Hahaha!"
Ramdan ke counter pulsa dan membeli perdana baru yang katanya sinyalnya lebih kuat. Tapi hukum "Semua pasti punya kelemahan" tetap berlaku. Ya, sinyal kuat pasti tarifnya mahal. Mereka kaum kelas menengah kebawah, kebawahnya lagi, lebih menyukai tarif murah yang penting mereka bisa berkomunikasi. Buat mereka komunikasi seluler di gunung tidak terlalu penting, karena tujuan mereka trip ke gunung memang untuk menjauh dari kehidupan metropol, lagipula paparan radiasi ponsel bisa merusak keseimbangan ekosistem, itu yang Nday baca dari sebuah artikel. Tapi yang dialami Ramdan mungkin terlalu darurat, jika tidak mengabarkan izin absent bisa panjang urusannya dengan manager mereka.

Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, 09.30.
"Sudah booking sebelumnya mas?"
"Udah mbak, buat 3 orang."
"Sudah divalidasi datanya mas?"
"Udah mbak via email, udah ditransfer juga uangnya."
"Isi datanya disini mas sama tanda tangan diatas materai.", Receptionist di BBTNGGP menyodorkan dua lembar berkas ke Nday. Nday lupa, dia gak bawa materai 6000 buat registrasi pendakian.
"Disini ada yg jual materai mbak?"
"Disitu mas di kantin, tapi yg jagain lagi keluar tungguin aja.", Embak itu menunjuk kantin kecil di belakang Nday yg masih di dalam satu ruangan. Ramdan terlihat duduk di kursi dekat etalase kantin, ada tiga orang yang kelihatannya sudah siap mendaki.
Nday lanjut mengisi data registrasi atas namanya Gustya Indra Cahyadi, Ramdhan Muhammad Fadzri, dan Fita Apriyani. Tapi Fita gak bisa ikut karna fisiknya belum pulih, dua hari sebelumnya dia baru pulang dari sana juga, dari Gunung Gede. Jalannya pencot karna kakinya sakit. Ya, jalur cibodas memang dikenal dengan bebatuannya dan treknya yang tidak bervariasi membuat bagian paha dan betis terasa nyeri setelah turun gunung.

10.30.
"Buseeeng lama amat ini yang jagain kantinnya kemana yak!? Beliii!!! Beliii!!!", Nday tereak-tereak di dalem kantor BBTNGGP.
"Yeee setress lo! A.. a.. a.. a..", Ramdan ketawanya patah-patah kayak goyang Anisa Bahar. Itu emang ketawa endemiknya, alias cuma dia yang punya.
Ramdan meminta Nday mengaktivasi nomer barunya di hape Nday, SIM card Nday disimpan Ramdan dan dimasukkan ke dalam bungkus rokok Umild-nya. Setelah beberapa menit menunggu akhirnya yang punya kantin datang juga. Ramdan membelikan materai, Nday menjilatnya, menjilat materainya yaa bukan menjilat si Ramdan! menempelkannya pada salah satu lembaran dan menandatanganinya. Nday membuka jaketnya, memasukkan ke dalam carriernya, dan memakai baju abu-abu lengan panjangnya. Sepatu boot cokelatnya juga dikeluarkan dan dia pakai, mendaki Gunung Gede Pangrango memang wajib memakai sepatu. Terakhir Nday melilitkan slayer biru Baduy kesayangannya di lengan kiri dan mengelap kacamatannya. Ramdan meminjam lap kacamata Nday dan membersihkan kacamatanya, memakai jaket kulitnya dan mengencangkan tali sepatu trekingnya. Mereka keluar BBTNGGP dan membeli nasi bungkus, gerimis menghiasi perjalanan mereka ke Pos 1, pos pendaftaran dan pemeriksaan.
"Misi kang, mao naek nih."
"Udah daftar kan?"
"Udah kang, nih.", Nday menyodorkan simaksinya ke petugas.
"Bertiga yaa? Satu lagi mana?"
"Yang satu lagi sakit kang, gak bisa ikut. Tapi karna kita udah siap banget jadinya berangkat aja. Gak apa-apa kan kang? Udah sering kesini kook."
"Mmm.. yauda isi dulu apa aja yg dibawa. Makanan, cemilan, biar sampahnya pas turun ketauan. Bawa piso lipet gak?"
"Cuma bawa multi tool doang kang satu, kita gak niat masak yang ribet-ribet soalnya."
Nday menulis apa aja yg dia bawa. Bihun instant 3, sosis, smoked beef,  kopi 2 bungkus, susu 2 bungkus, nasi bungkus 2, beras 200 gram, margarin, kacang, pilus, madu, permen karet. Nday sengaja gak bawa logistik yang ribet kali ini, makanya dia nyuruh Ramdan beli nasi bungkus buat makan siang di Kandang Badak biar gak bongkar kompor dan nesting. Bisa lama kalo bongkar nesting, entar masak yang laen lah, masak aer lah, bikin kopi lah.
"Baik, sampahnya dibawa turun ya mas, hati-hati."
"Siap kang! Makasih yak!"
Pukul 11.00 mereka mulai melangkah, meniti trek bebatuan yang menanjak. Gerimis masih menyertai perjalanan mereka tapi tetesan airnya terhalang oleh rimbun pepohonan.
"Gimana Dan? Ngangenin kan naek gunung lagi?"
"Yoyoy Nday.. udeh lama banget ini, masih kuat gak ye gue?"
"Pelan-pelan aje Dan, gue bawa carrier nih, lo sih enak bawa daypack doang."
"Lo kan sering Nday, gue kan udeh lama pensiun a.. a.. a.. a..", Ketawa patah-patahnya keluar lagi.
"A.. a.. a.. a..", Nday ngikutin ketawanya Ramdan.
"Udeeeh ah bedua doang rame banget a.. a.. a.."
"Ketawa lo putus-nyambung Dan kayak pacaran gue dulu waktu masih congean!"
"Yeee curhat a.. a.. a.. a.."
Sumpah gue jijik ama ketawanya Ramdan yang putus-putus *muntah depan laptop*
"Ah bawel lo Nday! Udeh lanjutin aje ceritanye!"
-______-
Mereka terus berjalan, tanpa berhenti, melewati beberapa kelompok dan permisi, kelompok yang tadi sudah berangkat duluan dari BBTNGGP juga mereka lewati. Ramdan mulai melepas jaketnya, tubuh mereka mulai panas. Nafas Nday sudah mulai terengah. Begini nih kalo nanjak sambil bercanda, nafas cepet abisnya. Mereka terus mengikuti trek bebatuan yang membelah hutan, suara rintik hujan yang beradu dengan dedaunan terdengar syahdu ditelinga mereka. Mereka mulai menemui jembatan, jembatan dengan fondasi beton yang panjang dan cukup kokoh untuk dilewati puluhan bahkan ratusan orang. Pemandangan mulai terbuka, namun kabut masih menyelimut. Seharusnya puncak Pangrango terlihat dari sini. Ramdan berkisah saat dulu pertama kali mendaki Gunung Gede, saat jembatan itu belum ada. Dia teringat saat dulu dia dan teman-temannya berjuang melewati rawa berlumpur di trek itu. "Sekarang Cibodas mah udah rapih, udah jadi tempat wisata.", kata Ramdan.

11.40.
Mereka sampai di Pos Panyangcangan. Di pos ini ada persimpangan jalan menuju puncak Gede Pangrango dan Curug Cibeureum. Pos itu kelihatan ramai, ada satu tenda berdiri di dalamnya. Tadi mereka terus berjalan dengan langkah yg perlahan namun stabil. Nday memutuskan untuk berhenti sejenak disitu sekedar mengatur nafas, Ramdan duduk dan meluruskan kakinya. Nday menyedot selang water blader dicarriernya, Ramdan terlihat meneguk botol air berlogo Chelsea, botol punya Nday. Nday sengaja gak bawa botol aqua, meminimalis pencemaran katanya.
"Masih kuat ternyata gue Nday."
"Lanjut Dan udah hampir jam duabelas, jangan lebih dari lima menit istirahatnya. Kita telat nih gara-gara materai. Poto-potonya juga pas pulangnya aja, to the point dulu."
"Yoyooy, ayo Ndaay!"
Mereka melanjutkan langkahnya. Dipetunjuk jalur terlihat tulisan "Puncak Gede 8,5 KM" dan "Puncak Pangrango 10,5 KM". Mereka berpapasan dengan 3 orang pendaki yang sedang naik, satu diantaranya anak kecil berumur belasan tahun. Nday memang sedang mencari teman buat tidur ditendanya supaya lebih hangat sekaligus untuk meramaikan suasana. Mereka berdua, tapi Nday bawa tenda berukuran 6-8 orang, dia gak dapet pinjaman tenda yang lebih kecil.
"Ke Gede apa Pangrango bang?"
"Gede Bang, Pangrango kejauhan ah sepuluh kilo lagi hehe."
"Yaaah bedua lagi deh, padahal lagi nyari barengan ini bang. Yauda duluan ya bang kalo gitu, semangat bang!"
"Sip, ati-ati bang!"
Tak lama berjalan mereka bertemu kelompok yang turun, carrier dan pakaian-pakaiannya banyak yang kotor.
"Gede apa Pangrango bang?", salah satu pendaki bertanya ke Nday.
"Pangrango bang."
"Wits mantaap! Ati-ati bang becek, licin treknya."
"Abis dari sono bang?"
"Iya bang. Yauda bang turun dulu ya, semangat bang masih jauh haha."
"Haha iya ati-ati bang!"
Ramdan selalu berjalan di depan, langkahnya terlihat semangat. Nday hanya bisa mengikuti dari belakang, carriernya terasa semakin berat. Sesekali Nday berhenti beberapa detik untuk sekedar mengatur nafas. Nday dan Ramdan menyedot madu dari bungkusnya, segar, mereka dapat sedikit tambahan energi. Bulir air gerimis yang turun makin bertambah banyak, Ramdan mengeluh kepalanya sakit. Nday menyuruh Ramdan memakai raincoat ponco kuningnya, sedangkan dia sendiri memakai jaket waterproof yang diambil dari dalam carriernya.
"Ayo Nday lanjut, ngantuk gue kalo udah berenti lama gini. Paha gue juga berasa sakit nih kalo dingin gini."
"Bentar, gue beresin isi carrier dulu."
"Makin deres Nday ujannya."
"Pala sama paha lo gimana?"
"Pala udah mendingan lah, kalo paha mah ini karna gue kedinginan, entar dibawa jalan juga sembuh."
"Beneran? Yauda yuk jalan, bentar lagi juga nyampe aer panas."
"Jam berapa sekarang Nday?"
"Jam satu lewat Dan. Kalo jalan terus kayak gini jam 3 juga nyampe Badak."
Mereka meneruskan perjalanan di tengah hujan, Nday mulai melepas kacamatanya sedangkan Ramdan sudah melepas kacamatanya daritadi. Sekitar setengah jam mendaki akhirnya mereka sampai di air panas. Mereka harus meniti bebatuan yg licin untuk sampai ke shelter diseberangnya, di bagian kanan ada pembatas dari tambang yang membatasi dengan jurang menganga di sebelah kanannya. Ya, Air Terjun Cipanas. Hujan yg bercampur dengan air panas membuat uap semakin tebal, jarak pandang semakin pendek.
"Siap Dan? Fokus yak, ati-ati licin."
"Yoyooy, lo di depan Nday."
Hangat, itu yang mereka rasakan. Mereka menerobos kepulan uap air panas, kaki mereka meraba-raba bebatuan yang akan mereka pijak, menjaga pijakan sekuat mungkin, berpegangan pada tali pembatas agar tidak terpeleset dan terjatuh. Kalo kepeleset dan jatuh di sungainya masih untung, kalo kepelesetnya ke jurang? Wallahualam.
"Nday, laper nih! Makan nasi bungkusnya di pos aer panas aja yok!"
"Ide bagus Dan. Sama, perut gue juga udah minta nih.", mereka berteriak diantara suara air terjun yang bising.
Setelah melewati air panas, mereka naik ke shelter, tapi ternyata ramai dan mereka tidak dapat tempat berteduh. Akhirnya mereka memutuskan untuk makan siang di Pos Kandang Batu yang tidak terlalu jauh dari situ.
"Disini aja Dan, lumayan kealingan pohon ujannya."
"Yoyooy, buka deh nasinya."
Mereka berdua duduk di tempat peristirahatan yang memang sengaja dibuat oleh TNGGP, tempat duduknya panjang membentuk setengah lingkaran dan ada meja bulat kecil di tengahnya, semuanya terbuat dari semen. Mereka berdua melahap nasi bungkus dengan lauk telor dadar dan tempe orek yang mereka beli di Cibodas tadi dibawah rintik hujan yang sudah agak mulai mereda menjadi gerimis. Porsinya lumayan banyak dan Ramdan bilang murah banget karna harganya cuma 6000 per porsi. Nday makan agak menunduk agar nasinya tertutup oleh  kupluk jaketnya, Ramdan makan dengan melindungi nasi bungkusnya di bawah daypacknya. Beberapa kali orang hilir-mudik di depan mereka, ada yang perjalanan naik, perjalanan turun, ada yang menenteng trashbag, ada yang menenteng carrier, bahkan ada yang menandu carrier dan barang-barangnya. Ya, mungkin hujan lebat sudah membanjiri tenda mereka ketika tenda dan barang-barangnya mereka tinggal summit ke puncak. Kandang Badak memang menjadi camp point sebelum puncak Gede atau Pangrango, pendaki meninggalkan barang bawaannya disana dan hanya membawa barang yang diperlukan untuk ke puncak. "Mampir dulu baang, makan dulu sini kita join!", Nday dan Ramdan selalu menyapa setiap orang yang lewat di depannya. Setelah menghabiskan makan siangnya, mereka melanjutkan perjalanan, Nday melihat beberapa orang sedang membilas carriernya di sungai seperti membilas pakaian. "Perjalanan turun mereka nanti pasti bakalan berat", batin Nday.
"Huft! Baru juga makan udah lemes lagi gue Dan!"
"Dari mulai nanjak ampe sini dihajar ujan sih Nday."
"Badan udah lemes gini, gak yakin gue kalo langsung summit ke Pangrango, ujan begini treknya bisa jadi jalur aer. Kalo ngecamp di badak terus summit-nya besok pagi lo setuju gak?"
"Yaa gue sih terserah lo aja Nday. Gue sih bawa daypack, lo tuh yang bawa carrier menurut lo sanggup gak? Kata lo trek ke Pangrango lebih susah ama lebih jauh dari Gede?"
"Nah itu dia, bisa ngerayap gue kalo pake carrier, banyak pohon tumbang soalnya ngalingin jalan. Treknya becek, bisa mandi lumpur. Udah hampir sore juga, ntar pasti ketemu gelap bakalan tambah susah."
"Yaudalah Nday kita ngecamp di badak aja, mudah-mudahan dapet lapak."
"Iya bismillah aja deh."
"Eh Nday, bungkus rokok gue mane ye?", Ramdan meraba-raba kantong celana dan jaketnya.
"Yaudalah rokok doang, ikhlasin aja."
"Bukan masalah rokoknye, di dalem bungkus rokoknye ada SIM card elo!"
"Jiaah! Yaudalah biarin, PR banget kalo turun lagi. Besok aje pas turun sekalian nyari."
"Gak enak gue Nday ama lo, orang kan mending keilangan hapenye daripada kartunye."
"Yaudah mudah-mudahan besok ketemu."
Mereka terus mendaki trek bebatuan, kali ini treknya lebih menguras stamina mereka karna memang lebih menanjak, sesekali menemui trek tanah yg licin dan becek. Setelah hampir satu jam berjalan, akhirnya mereka sampai di Pos Kandang Badak. Nday melirik jam tangannya, 15.10. Keadaan sudah cukup ramai sore itu, ada puluhan tenda sudah terpasang. Mereka akhirnya mendapat sedikit lapak kosong untuk tenda mereka yang cukup besar dekat sumber air. Nday berwudhu dan mengambil sebotol air untuk keperluan masak. Sedangkan Ramdan sudah ganti baju dan siap untuk tidur.
"Geser dikit Dan, gue solat dulu. Di luar ujan, gue di dalem aja deh solatnya. Lo tidur aja, tuh SB-nya udah gue keluarin di pojok, resletingnya buka semua, kita berdua make SB-nya."
"Err.. err.. masih.. menggigil.. gue Nday.. susah.. tidurnya.."
"Yauda selimutan sono makanya!"
Nday menyelesaikan solatnya dan lanjut tidur di samping Ramdan, Nday hanya membawa satu sleeping bag yang dibuka dan dijadikan selimut untuk mereka berdua.

18.10.
Nday bangun karna kakinya mulai merasa dingin dan melihat Ramdan sedang duduk meringkuk di dekatnya.
"Dan? Sehat Dan?"
"Sshh.. sshh.. dingin.. banget.. Nday.."
"Tenda gede banget gini, yang tidur cuman dua biji sih."
"Lo lagian.. bawa tenda segede gaban.. gak sekalian.. bawa tenda kondangan.."
"Iye gak apa-apa, asal lo yang bawa framenya Dan."
"Yee stress maneh Nday!"
Tiba-tiba samar terdengar suara laki-laki dari samping tenda mereka.
"Ta bangun Ta! Hei melek Ta melek!"
"Sstt Dan, dengerin..", Nday menghentikan candanya dengan Ramdan, mereka terdiam sejenak.
"Hey Ta! Melek Ta! Bangun Ta bangun!", suara pemuda itu terdengar lagi.
"Dan senterin carrier gue! Cepet!", seru Nday ke Ramdan.
"Mao ngapain Nday?", Ramdan menyalakan senternya ke arah carrier di pojok tenda, Nday dengan sigap membongkar carriernya.
"Ngeluarin kompor ama nesting, masak aer panas. Tenda sebelah gejala hypo Dan, kasian!"
"Yah elo aja deh Nday, gak ngerti gue masalah gituan."
Nday memakai headlamp yang diambil dari kepala carriernya, menyalakan kompor gas kecil, memasak air panas, dan menuang susu coklat sachet ke dalam gelas plastiknya. Sembari menunggu airnya panas, suara pemuda itu masih terdengar memanggil-manggil temannya.
"Dan, gue keluar dulu. Aernya tuang ke gelas kalo udah panas."
"Siap Nday."
Nday keluar dari tendanya disambut hujan gerimis dan tanah yang becek. Terlihat tenda berwarna kuning berdiri membelakangi tenda mereka.
"Bang temennya kenapa bang?", sedikit berteriak Nday bertanya dari luar tenda.
"Tidur dibangunin gak bangun-bangun nih bang."
"Punya aer panas gak?"
"Boleh bang kalo abang punya."
"Bentar, gue lagi masak aer. Sadarin dulu temennya, angetin badannya."
"Iya bang makasih bang."
Nday melongok ke dalam tenda miliknya dan mengambil segelas susu coklat panas yang telah disiapkan Ramdan. Nday bergegas memberikan susu panasnya ke tenda tetangganya.
"Temennya gimana bang?", Nday berdiri di depan tenda kuning itu sambil menutupi gelasnya supaya air hujan tidak jatuh ke dalamnya.
"Udah sadar nih bang, tapi masih lemes."
"Yauda kasih nih susu coklatnya, mumpung masih anget."
"Iya bang makasih bang.", resleting tenda itu terbuka sedikit disusul tangan yang keluar bersiap meraih gelas Nday. Nday menyodorkan gelasnya.
 Nday kembali ke tendanya, Ramdan terlihat sedang menghangatkan tubuhnya di dekat kompor.
"Kenape Dan? Dingin?"
"Gerah gue Nday. DINGIN WOY! Lo mah enak tidurnye pules!"
"Hahaha nah elo gimana!? Padahal tiap pagi lo udah aklimatisasi di chiller beresin sayur, masih aja kedinginan wahahah!" (Chiller, ruangan pendingin sayur dan daging dengan suhu 0-5ºC)
"Yee si bedon, kalo gue.. kedinginan di chiller mah.. gue masih bisa keluar.. sshhsshh"
"Nah yauda lo keluar aja sini biar gak kedinginan."
"Yee si kampret ngajak ribut sia daritadi! TAMBAH DINGIN WOY DI LUAR!"
"Wahahahah! Nyantai pak! Yauda masak yuk ah biar anget! Wahahah muke lu kocak Dan!", Aksen Ramdan dengan logat sunda-betawi dan matanya yang melotot bikin Nday ngakak.
"Masak apaan dulu nih Nday?"
"Bihun dulu aja pake beef sausage, oke cooy?"
"Cakep! Hajar atuh Nday!"
Mereka masak dua bungkus bihun dan ditambah potongan beef sausage. Mereka duduk di dekat kompor gas kecil milik Nday, sesekali kaki mereka didekatkan ke kompor. Mereka mendengar suara canda yang sedikit samar dari tenda disebelahnya. Nday kembali menanyakan keadaan tenda tetangganya itu.
"Bang temennya gimana bang?"
"Udah mendingan nih bang, makasih ya bang.", suara pemuda itu terdengar sudah agak tenang.
"Jagain terus tuh temennya."
"Iya sip bang! Makasih bang!"
"Mao bihun gak nih? sini kita makan bareng."
"Gak usah bang makasih, ini juga lagi masak bang."
"Yauda pada istirahat gih!"
"Iya bang makasih banyak ya bang!"
"Siip!"
"Nday sendok mana Nday?", Ramdan mengubek-ubek seisi tenda dengan senternya.
"Bentar bentar gue cariin.", Nday mencari-cari sendok dengan headlamp di dalam tenda dan carriernya.
"Aih si goblog, sendoknya mana yak!?"
"Yah elo gimane Nday.."
"Biasanya gue satuin ama gelas, ada gelasnya doang yang tadi kita kasih ke tenda sebelah. Yaudalah makan pake ini aja.", Nday mengacungkan gagang nesting di depan muka Ramdan."
"Ini muka gue disini! Deket amat ngasih liatnye! Kebiasaan lo!"
"Yaa gue kan takut lo gak liat Dan.."
"Aih ngajak ribut sia!", Ramdan siap mengkepret Nday. Ramdan punya kebiasaan ngeliat apapun dari dekat sampe bikin matanya jereng karna dia jarang memakai kacamatanya dengan alasan ribet.
"Yauda lo makan duluan, gue maghriban dulu."
Nday menyelesaikan solat maghribnya dan melanjutkan makan malamnya dengan Ramdan. Bihun beef sausage di dalam nesting tetap ditaruh di atas kompor dengan api kecil agar tetap hangat, uapnya terlihat mengepul. Tapi makan bihun kuah dengan gagang nesting bukan perkara mudah.
"Sruuupt.. ajiiib mantep euy ini bihun!"
"Sruupt.. emh.. gak salah dah nih bawa ginian Dan!"
"Aih susah euy ini nyendoknye jatoh mulu."
"Wahahah pake teknik cooy! Nih diputer dulu."
"Ah au ah elap, yang penting bisa masuk mulut gue!"
Mereka berdua makan makanan malamnya dengan susah payah. Saat Ramdan meniup bihun panas dan siap dilahap, bihunnya jatuh lagi ke nesting. Nday selalu mentertawai Ramdan. Mereka berdua makan diiringi canda keduanya. Hangat, bukan cuma hangat dari bihun kuah yang mereka rasakan. Ya, kebersamaan mereka membuat suatu kehangatan yang lain, kehangatan batin.

Selasa, 24 Desember 2013. 01.50.
"Dan? Sehat Dan?", Nday terbangun karna mulai menggigil dan menyalakan headlampnya. Ramdan terlihat dalam posisi duduk meringkuk. Nday selalu bertanya ke Ramdan, memastikan temannya itu selalu dalam kondisi yang baik.
"Sshh.. dingin Nday.."
"Selimutan dong sini makanya."
"Tadi gue kebocoran tuh tenda atas lo rembes dikit, makanya gue geser ke pinggir selimutan pake celana ganti gue. SB lo basah dikit tuh."
"Ah gue bawa trashbag gede nih, kita bedua selimutan pake itu aja, ntar didobel pake SB.", Nday mengambil trashbag hitam ukuran besar dari dalam carriernya, kaki mereka dimasukkan ke dalamnya dan diselimuti lagi dengan SB.
"Naaah, anget kan Daan?"
"Lumayan Nday, gini dong ah dari tadi."
Tiba-tiba terdengar suara wanita berteriak-teriak histeris, suaranya terdengar agak jauh. Nday dan Ramdan terpaku sejenak, di luar terlihat masih banyak cahaya dari senter pendaki lain dan suara-suara canda mereka.
"Wah ada cewe tereak tuh Nday, kesurupan kali ye?"
"Gak tau Dan, di luar banyak orang kok. Pasti ada yang nolongin."
"Aih jadi ngeri gue Nday.", dan tak lama teriakan histerisnya berhenti.
"Gapapa Dan, doa terus aja kita. Tuh kan udah berenti, lanjut tidur aja yuk ah, ntar pagi jam lima kita bangun, summit. Gak usah ngejar sunrise ye?", sambung Nday disusul anggukan dan jempol dari Ramdan.
Mereka melanjutkan tidurnya, ujung kaki mereka mulai merasa hangat berkat berselimut trashbag dan sleeping bag yang didobel. Langit tak berhenti meneteskan hujannya sejak kemarin pagi, suhu sekitar 15ºC, tidak serendah saat Nday camp di Mandalawangi dengan teman-temannya waktu itu, suhu mencapai 0-2ºC, tapi disini terasa lebih dingin walau suhunya lebih tinggi. Saat musim hujan suhu memang lebih tinggi dibanding musim kemarau, tapi terasa lebih dingin. Bingung? Begini penjelasannya: Pada musim hujan, permukaan bumi dipenuhi oleh air, baik dalam bentuk cairan maupun uap. Air dalam bentuk cairan sebagian besar meresap ke dalam tanah, sedangkan air dalam bentuk uap larut di udara. Sebaliknya, pada musim kemarau permukaan bumi lebih kering. Kandungan air dalam tanah dan kandungan uap air di udara sangat sedikit jumlahnya. Air adalah zat penghantar panas yang baik sehingga mudah menyimpan energi panas matahari. Pada saat musim hujan, disaat permukaan bumi mengandung banyak air (cairan dan uap air), panas matahari akan tersimpan di kandungan air tersebut. Sebaliknya, di saat musim kemarau, disaat permukaan bumi sedang kering, panas matahari akan banyak terbuang dan hilang ke angkasa. Itulah sebabnya suhu  musim kemarau lebih rendah daripada suhu musim hujan. Tapi kenapa saat cuaca hujan terasa lebih dingin? Jawabannya karena hujan yang jatuh dari langit ikut membawa suhu dingin dari awan. Awan sendiri bersuhu sangat dingin karena berada jauh di atas permukaan bumi. Ingat pelajaran geografi kan? Semakin jauh posisi suatu tempat dari permukaan bumi, tekanan udaranya akan semakin kecil sehingga suhunya pun semakin rendah.

04.20.
Nday bangun karna kakinya mulai terasa dingin lagi, ternyata trashbagnya basah karena uap dan embun. Tak lama Ramdan ikut bangun.
"Beuh dingin Nday! Jam berape sekarang?"
"Jam setengah lima Dan."
"Ah gue ngopi dulu deh."
"Yauda gih, gue subuhan dulu. Solat luh! Di kerjaan rajin banget solat lo Dan!"
"Ngopi dulu ah, dingin."
Selesai solat subuh, Nday menghampiri Ramdan di dekat kompor di teras tendanya. Hujan mulai berhenti, menyisakan sedikit kebekuan pagi itu. Ramdan terlihat menunggu air yang tak kunjung mendidih.
"Nday gelas mane Nday?"
"Yaah kemaren kan gue kasih ke tenda sebelah belom dipulangin."
"Yee, ambil gih!"
"Ah males gue, udeh ikhlasin aje ah."
"Lah ini terus gue ngopi pake apaan?"
"Udeh kokop aje langsung dari nesting, maknyus anget."
"Yee si goblok, jontor iye bibir gue. Melepuh!"
"Wahahah ya terus mao gimane? Gelas cuman atu!"
"Ah yaudalah bodo amat, yang penting gue bisa ngopi. Summit kapan nih Nday?"
"Selese sarapan langsung cabut Dan, santai aja dulu. Bihun semalem masih sisa kan? Angetin aja, kita masak nasi sekarang."
"Berarti bihun sisa atu buat entar makan siang di puncak yee?"
"Iye kan kita masih sisa bihun sebungkus ama smoked beef. Yaude kita masak nasi deh, abisin tuh kopi haha.", Nday mencari beras di bungkusan logistik.
"Beuh panas ini Nday nestingnye!", mulut Ramdan monyong-monyong menyeruput kopi dari nesting yang memang masih panas. Nday cuma bisa ketawa ngeliat tingkahnya.
"Eh lo gak nelpon outlet Dan?"
"Gak bisa Nday, gak dapet sinyal juga ternyata."
"Nah terus gimane?"
"Besok kan gue masuk pagi, ntar mudah-mudahan kita sampe rumah gak kemaleman biar gue bisa ke klinik bikin surat dokter, ntar adek gue yang nganter deh ke outlet."
"Eh beberes yuk ah. Lo cuci nesting sekalian ambil aer buat summit, gue beresin barang-barang di tenda."
"Iye gampaang!"
Ramdan membawa nesting kotor ke sumber air dan mengisi botol chelsea milik Nday. Nday membereskan semua barang-barang yang tidak dibawa, dimasukkan ke dalam carrier, dan membungkus carriernya rapat-rapat dengan trashbag besar. Nday mengantisipasi supaya barang-barangnya tidak basah ketika ditinggal summit. Ramdan kembali ke tenda, Nday memasukkan P3K, cemilan, bihun, smoked beef, nesting, kompor, gas, jaket miliknya, jaket Ramdan, raincoat, headlamp, dan waterbladernya. Sedangkan Ramdan membawa bodypack milik Nday yang hanya diisi air, raincoat, dan cemilan.
"Srrrkkkk!", Nday menutup resleting tendanya.
"Ayo Nday, siap?"
"Siap pak!", Nday mengencangkan tali daypacknya.
Mereka melewati tenda tetangganya, para remaja yang semalam temannya gejala hypo sedang membuat sarapan di depan tenda.
"Misi misi bro.", Nday menundukkan kepalanya.
"Eh iya bang silahkan bang.", pemuda yang berbadan agak kurus mempersilahkan mereka.
"Mao ikut ke puncak gak?"
"Udah bang kemaren, capek ah hahaha."
"Hahaha yauda gue berangkat dulu bro."
"Iya ati-ati bang."
Mereka meninggalkan Kandang Badak jam setengah tujuh tepat, keadaan disana ramai pagi itu. Seperti biasanya, para pendaki sedang melaksanakan ritual pagi harinya, "ngopi-ngopi lucu" kalo kata anak muda sekarang. Mereka masih menapaki trek bebatuan yang menanjak, tak lama mereka sampai di persimpangan Puncak Gede dan Puncak Pangrango. Mereka berhenti sejenak menatap petunjuk jalan ke arah kanan bertuliskan "Gunung Pangrango". Nday menoleh, menatap jalurnya dan terbayang saat beberapa bulan lalu kesana memimpin rombongan reuni SMP.
"Lanjut Dan, poto-potonya entar aja, to the point dulu."
"Yoyooy!"
Persimpangan itu langsung disambut dengan hutan yang rapat, sinar mentari seakan tak kuasa menerobos rimbunnya pepohonan disana, tanahnya lembab, trek didominasi oleh pepohonan dan tanaman paku-pakuan, banyak lumut tumbuh subur dibatang-batang pohon disana. Baru beberapa meter melangkah, ada batang-batang pohon tumbang menghalangi jalan mereka.
"Ini dia trek Pangrango Dan, selamat menikmati.", Nday senyum ke Ramdan, tingkahnya seperti pramusaji yang sedang menyajikan makanan kepada tamunya.
"Wah iya, repot iyeu mah euy kalo bawa carrier.", Ramdan mengeluarkan tampang innocent-nya.
Nday melangkahkan kakinya yang panjang lebar-lebar dan merundukkan badannya untuk melewati batang-batang pohon itu. Kaki Ramdan tidak sepanjang Nday, kakinya tidak sampai untuk melangkahi batang pohon itu, dia harus menaikinya terlebih dahulu kemudian merunduk.
"Kayak Benteng Takeshi ini mah Nday.", Ramdan nyeloteh sambil merundukkan badannya.
"Hahaha, masih banyak kejutan Dan di depan.", Nday tersenyum penh arti.
Trek mulai menanjak, beberapa batang pohon tumbang masih menghiasi perjalanan mereka. Ada trek yang menjadi jalur air seperti sungai kecil, mereka melewatinya tanpa ragu. Mereka melangkah dengan santai dengan tempo yang stabil agar mudah dalam mengatur nafas. Trek bervariasi dari jalur air, tanah becek, tanah yang licin, akar-akaran, dan dedaunan busuk yang basah yang membuat tanahnya seperti kasur busa, empuk. Sekarang ada pohon besar tumbang membelah jalur yang mereka lewati, tidak ada jalan memutar, sebelah kiri mereka tebing tinggi dengan batang-batang pohon kecil yang rapat, sebelah kanan mereka lembah yang cukup curam. Mereka harus menaiki batang pohon itu. Karna diameter pohon itu cukup besar, mereka harus menaikinya dengan bantuan tangan mereka. Nday mulai berjalan di atas pohon tumbang itu, kedua tangannya direntangkan, dia melangkahkan kakinya dengan hati-hati karna batang pohon itu basah dan licin. Ramdan menyusul dengan langkah yang perlahan, mereka seperti sedang melewati "jembatan neraka" di acara Benteng Takeshi.
"Blukh!", Nday melompat ke jalur yang terpotong oleh pohon itu.
"Hop!", Ramdan ikut melompat.
"Ati-ati Pak!"
"Gak kebayang deh Nday kalo kemaren sore kita tetep lanjut. Udah ujan, treknya kayak gini, lo bawa carrier, badan udah lemes, terus pasti ketemu malem. Aih minta turun lagi gue mah Nday!"
"Yaa makanya gue gak yakin kalo kemaren tetep lanjut. Waktu itu gue ampe empat jam lebih ke puncak bawa carrier. Lanjut Dan, gantian lo di depan."
"Yee gue kan gak tau jalurnya Nday."
"Gapapa, ikutin aja treknya. Kalo ada cabang ntar juga ketemu lagi kok treknya, ikutin tanda aja, tali rapia."
Sekarang Ramdan di depan, jalur terus menanjak, beberapa trek curam menghadang mereka. Mereka harus mengangkat kaki mereka tinggi-tinggi seperti ingin naik ke atas meja, berpegang pada akar, mencari pijakan yang kuat agar tidak terperosok dan terjatuh. Mereka terus mendaki tanpa break sama sekali, stamina mereka tidak terkuras terlalu banyak karna tidak membawa beban berat. Nday melihat trashbag hitam besar di pinggir jalur. "Hmm, kebiasaan.", batin Nday.
"Kiri apa kanan nih Nday?"
"Liat tali rapia yang diiket dibatang pohon aja Dan, yang ada rapianya berarti jalurnya lebih gampang."
"Okedeeh, kiri Nday!"
"Udeh setengah jalan nih Dan kayaknya."
"Udeh jauh gini masih setengah Nday? Udeh berape jam dari Kandang Badak?"
"Sekarang jam lapan. Emm, satu setengah jam lah."
"Sampe puncak jam berape kira-kira Nday?"
"Jam sembilanan sampe lah kalo jalannya stabil kayak gini. Waktu itu gue empat jam mah karna bawa carrier ama ngebackup temen gue yang cewek."
"Lebih jauh dari Kandang Badak ke Gede ye Nday?"
"Iye Dan, ke Pangrango dua kali lipatnya. Badak - Gede kan 1 kilo, Badak - Pangrango 2 kilo."
"Bayangan gue gak gini-gini amat treknya Nday, ternyata..", Ramdan geleng-geleng.
"Haha lebih mantep dari ke Gede kan?"
"Beuh jauh! Ke Gede mah alus pisan jalannye Nday."
"Nikmatin aje Dan, ntar pas nyampe Mandalawangi juga kebayar semuanya. Buat gue sih Mandalaawangi lebih keren dari Surya Kencana, soalnya gue ngerasa lebih gimana yak.. ngerasa lebih damai aja gitu disono. Pokoknya liat ntar aje deh kalo udeh sampe!"
Mereka terus mendaki setapak demi setapak, keringat mulai membasahi tubuh mereka. Otot tangan, paha, kaki, dan juga otak harus mereka kerahkan untuk melewati jalur yang terjal, curam, dan licin. Kabut mulai turun, buliran air yang sangat halus menerpa tubuh mereka. Dingin, sejuk, Ramdan sangat rindu suasana seperti ini. Nday berhenti sejenak, menarik nafas dalam-dalam, menghirup oksigen murni kedalam paru-parunya.
"Hmmpphh.. Bau gunung. Ini nih yang bikin kangen Dan."
"Iye Nday, udeh lama banget gue gak ngerasain suasana kayak gini."
Entah bau gunung itu seperti apa, mungkin hanya mereka dan para pendaki gunung lain yang tau baunya. Mungkin juga bau gunung yang dimaksud mereka adalah bau "kedamaian". Mereka kembali melangkahkan kaki mereka, Ramdan mulai terlihat lelah, langkahnya semakin melambat. Nday menengadahkan pandangannya ke atas, dia melihat pohon yang daunnya berwarna kemerahan.
"Dan.."
"Iye Nday?"
"Udah ada pohon cantigi tuh di depan?"
"Terus kenape Nday?"
"Puncak meen!"
"Udeh deket Nday?"
"Yoyoooy! Semangat Dan!"
Ramdan mempercepat langkahnya, suntikan semangat dari nday berupa kata "puncak" telah membangkitkan libidonya. Eh, maksudnya spiritnya. Nday tersenyum, dia sendiri lupa puncak berapa jauh lagi. Hampir setengah jam mereka mendaki, Ramdan mulai ngerasa kalo dia dibohongin. 
Udeh tua masih aje lo gampang dikibulin Dan.
"Gak usah bawa-bawa faktor U deh Nday!"
 Apaan tuh? Uzur?
"USIA WOI!"
"Masih jauh Nday?", Ramdan berhenti dan menoleh kebelakang.
"Sabar Daan, abis tikungan siku-siku di depan udah deket kok. Ntar trek kalo udah mao sampe puncak agak landai. Ayo, dikit lagi. Percaya sama Ndaaaaay!", ucap Nday sambil melewati Ramdan.
Nday sekarang melangkah di depan. Trek mulai landai, pohon cantigi yang daunnya kemerahan berbaris di pinggir jalur seperti sedang menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang di puncak Pangrango Dan!"
"Hah? ini puncaknya Nday? Pohon semua gini gak keliatan apa-apaan."
"Tuh di depan ntar ada tandanya."
"Panteees jarang ada yang kesini, puncaknya gini doang, naeknya mah susah euy makan ati!"
  
Puncak Pangrango 3019 MDPL, 08.25.
"Assalammu'alaikuum!", Nday mengucap salam ke arah satu tenda yang berdiri dibalik pepohonan. Ada lima orang pendaki yang sebaya dengannya, mereka terlihat sedang beres-beres. Nday berhenti dibawah pondokan kecil yang ada disana, atapnya terlihat sudah rusak dan tidak banyak melindungi pendaki kalau hujan sedang turun.
"Wa'alaikumsalaam!", lima pendaki itu menjawab salam Nday serentak. Mereka semua bersalaman, mengenalkan namanya masing-masing.
"Dari mana bang?", Ramdan membuka obrolan.
"Dari Bekasi bang, ada yang dari Bogor juga, gabungan. Ngecamp dimana bang? Kandang Badak?", pendaki yang berkacamata menyanggah Ramdan.
"Iye Kandang Badak, tadinya mao ngecamp di Mandalawangi kemaren sore, tapi ujan ama udah ngedrop badan juga."
"Dari Kandang Badak jam berapa bang? Subuh?", pendaki yang berbadan tambun melempar pertanyaan ke Ramdan dan Nday.
"Jam berape tadi Nday?"
"Jam setengah tujuh."
"Wih, cepet itu mah. Sekarang jam setengah sembilan, berarti cuman dua jam bang.", pendaki tambun itu melihat jam tangannya.
"Jalan terus bang kaga berenti, namanya juga naek ama pendaki senior.", Nday nunjuk-nunjuk Ramdan.
"A.. a.. a.. masih kuat gue ternyata! Udeh pensiun padahal, terakhir naek taun 2007, eeeh malah diracunin ama si kampret nih! Kepengen lagi deh gue!", Ramdan balik nunjuk-nunjuk Nday.
"Hahahahaha!", Mereka semua tertawa. Mungkin karna aksen sama tampang Ramdan yang ngeselin kalo lagi ketawa.
"Udah ke Mandalawangi belom? Kita mao langsung kesono nih.", ucap Nday.
"Belom bang, gak tau jalannya, kesono kan ya?", salah satu dari mereka menunjuk jalur di sebelah kiri dari arah jalur masuk ke puncak tadi.
"Iya kesono, hayuk bareng gak?"
"Jauh gak bang?"
"Deket koook!"
"Kayak dari puncak Gede ke Surya Kencana?"
"Kejauhan itumah, paling cuman sepuluh menit."
"Sepuluh menitnya siapa nih? Sepuluh menitnya abang apa sepuluh menitnya saya?"
"Beneran, gak ada sepuluh menit malah. Deket kok, deket banget."
"Ada aer gak bang disono?"
"Ada ada, sungai kecil sama kayak di Surken."
"Oh berarti sekalian ngambil aer lah. Yuk bang, tunggu bentar ya, kita masukkin barang-barang dulu ke dalem tenda."
Nday dan Ramdan menunggu mereka beres-beres, mereka semua memakai jaket dan salah satu dari mereka membawa kamera SLR. Nday berjalan di depan, disusul Ramdan dan lima pendaki itu dibelakangnya. Jalurnya menurun dan rapat, hanya bisa dilewati oleh satu orang. Pepohonan dan semak yang menghalangi membuat mereka berjalan agak menunduk. Satu per satu pohon edelweis mulai terlihat.
"Edelweis euy!", teriak Ramdan. Wajahnya memancarkan rona bahagia, seakan melihat pujaan hati yang sudah lama tidak bertemu.
Nday mempercepat langkahnya karna jalur sudah landai. Pohon-pohon, semak, dan edelweis sudah tidak menghalangi jalur, kini jalur mulai terbuka, mereka berjalan hanya sekitar lima menit.
"Sahabatku, selamat datang di Lembah Kasih!", Nday merentangkan kedua tangannya.

Lembah Mandalawangi, 08.45.
Tidak ada satu orangpun disana, tidak ada tenda berdiri, dan kabut tebal yang menyelimuti lembah itu menambah suasana "mistis" disana. Nday lebih suka menyebut lembah itu dengan sebutan "Lembah Kasih" seperti Soe Hok Gie yang memberikan sebutan untuk lembah itu. Nday tidak pernah bosan menikmati keindahannya, dan dia mengerti kenapa beliau sangat cinta dengan Mandalawangi, suasana disana bukan cuma menyejukkan raga, tapi juga menyejukkan jiwa. Nday mengucap syukur dalam hatinya, dia masih diberi kesempatan mengunjungi syurga dunia-Nya lagi.

Ramdan terlihat cengar-cengir, matanya tak henti menatap sekeliling. Pohon-pohon edelweis dari yang kecil sampai yang besar terlihat malu-malu menampakkan keelokannya dibalik kabut. Rerumputan hijau disana seperti karpet yang sangat lembut. Benar kata Nday, Mandalawangi terlihat lebih alami dan asri dibanding Surya Kencana Gunung Gede.

Kelima pendaki yang baru sampai ada yang berteriak, ada yang berlari, ada yang mengucap "Subhanallah", dan ada yang langsung mengambil gambar dengan kameranya.
"Nday, potoin gue atuhlah.", Ramdan sudah tak kuasa menahan keinginannya untuk mengabadikan keindahan disana. Sejak dari Pos I Cibodas memang mereka tidak mengambil gambar sama sekali.
"Siip! Ganti-gantian yee!", Nday mengambil smartphone yang disodorkan Ramdan.
"Bang, sumber aernya dimana bang?", pendaki berkacamata menghampiri Nday.
"Itu di tengah-tengah sono.", Nday menunjuk ke tengah lembah yang dihiasi hijau rerumputan, kabut masih sedikit menghalangi pandangan.
"Yuk bang kesana gak?"
"Ntar ntar, kita mao poto-poto dulu."
"Yauda kita duluan ya bang? Wei ke aer dulu yok!", lelaki itu mengajak teman-temannya.
Ramdan diajak Nday ke ujung lembah disebelah barat. Nday menyuruh Ramdan berjalan dengan hati-hati agar tidak menginjak bibit-bibit edelweis yang baru tumbuh. Nday tidak mau Lembah Kasih seperti Surya Kencana yang edelweisnya hanya ada di pinggiran lembah karna kebanyakan diinjak oleh para pendaki dan tertindih tenda-tenda.

Ujung lembah itu diakhiri oleh dua bukit yang ditumbuhi oleh edelweis-edelweis dan cantigi besar, ditengahnya dipotong oleh aliran sungai kecil. Dari tengah bukit itu seharusnya terlihat keangkuhan Gunung Salak dari kejauhan dengan lapisan awan menghampar luas seperti lautan, tapi mereka kurang beruntung karna kabut tebal masih menutupi lembah itu. Ramdan menghampiri pohon edelweis didekatnya, bunganya layu menghitam. Ini memang bukan musimnya bunga itu bersemi. Edelweis mengajarkan mereka, tidak ada yang abadi di dunia ini. Meskipun disebut "bunga abadi" tapi tetap Allah yang berkehendak atas segalanya. Ramdan menyalakan rokoknya, pandangannya menerawang ke atas.
"Fuuh.. masih sanggup ternyata gue bisa sampe sini."
"Keren kan Dan?"
"Pisan atuhlah Nday, gue pasti kesini lagi."
Mereka ganti-gantian berfoto disana lalu menghampiri lima pendaki di tengah lembah dan minta gambar mereka berdua diabadikan. Mereka semua berfoto, bercanda, meminum air pegunungan yang masih sangat alami. Tujuh orang pemuda sedang dibuai keindahan dari sebagian kecil ciptaan-Nya.


"Setiap orang punya cara masing-masing untuk mensyukuri ciptaan-Nya, dan ini adalah cara kami mensyukurinya. Ya, mendaki gunung."

Puncak Pangrango, 09.30.
Mereka kembali ke puncak, memasang kompor gas dan memasak air. Kali ini mereka memutuskan untuk "makan siang yang kepagian" dengan menu bihun kuah lagi. Kelima pendaki tadi masih belum puas menikmati keindahan lembah kasih.
"Nday, turun jam berape entar?"
"Jam sepuluhan deh, biar jam duabelas kita sampe Kandang Badak terus bongkar tenda."
"Sore nyampe Cibodas kali yee. Kalo malem ntar gue gak bisa bawa motor lo, nyerah deh gue kalo malem, mata gue kicer!"
"Mao terang mao gelap juga mata lo emang kicer Dan."
"Yee ngocol maneh teh! Tarung sia ku aing!"
Kelima pendaki yang mendirikan tenda disitu baru datang dari Mandalawangi, menghentikan gerakan Ramdan yang ingin mengkepret Nday. Mereka langsung menghampiri tendanya.
"Lagi ngapain bang?", salah satu dari mereka bertanya.
"Lagi masak aer nih.", ucap Ramdan sambil menyalakan rokoknya.
"Nih ada kopi nih bang masih banyak bgt, seduh aja nih. Ada roti tawar juga nih sisa, bantuin abisin lah bang.", pendaki berkacamata menyodorkan serenceng kopi sachet dan setengah bungkus roti tawar.
"Wadoooh kebeneran iyeu euy! Makasih yee!", Ramdan cengar-cengir mengambil pemberian pendaki itu.
"Wadoooh makasih banyak nih! Mabok kopi ini kalo diminum semua, sebungkus aje bro! Haha.", Nday merentangkan serenceng kopi itu.
"Hahaha abisin bang! Kita mao turun nih soalnya, biar gak berat-beratin bawaan."
Ramdan meminjam dua gelas plastik dari kelompok itu, menyeduh kopinya dan memberikan satu gelas untuk mereka. Nday menikmati beberapa lapis roti tawar yang dicelup-celupkannya ke segelas kopi, Ramdan mengikuti Nday. Mereka tidak jadi masak bihun, roti tawar pemberian pendaki-pendaki baik itu sudah cukup memenuhi lambung mereka. Nday menyuruh Ramdan membereskan nesting, sementara Nday membersihkan sampah-sampah disekitarnya, botol-botol plastik kecil dan besar juga Nday kumpulkan dan dia ikat dengan tali rafia. Beberapa kelompok pendaki datang bergiliran di puncak, Nday dan Ramdan sempat mengobrol sebentar dengan mereka.
"Yaudah yuk Dan cabut."
"Ayo Nday."
"Yoo semuanya, duluan yaa!", Nday dan Ramdan berpamitan ke mereka semua yang jumlahnya sekitar belasan orang. Tidak lupa mereka juga pamit ke lima pendaki yang sedang membongkar tendanya, mereka juga bersiap untuk turun.
Nday dan Ramdan meninggalkan puncak Pangrango sekitar jam setengah sebelas, Ramdan berjalan di depan. Mereka kembali melewati jalur yang tadi mereka lewati. Perjalanan turun tidak kalah sulit, kadang mereka harus lompat kebawah di trek yang mempunyai jalur curam, seperti lompat dari atas lemari. Mereka menyemangati beberapa pendaki yang terlihat kelelahan menuju puncak.
"Ayoo dikit lagi puncak! Setengah jam lagi nyampee!", Nday menyemangati dua pemuda belasan tahun yang berpapasan dengannya, mereka hanya membawa botol air kosong dan travelbag kecil yang kelihatannya hanya berisi cemilan-cemilan kecil.
"Capek banget bang, masih jauh gak bang?", salah satu dari mereka nafasnya terengah dengan keringat membasahi wajah mereka.
"Dikit lagi kook! Semangat semangat!"
"Aus bang, punya aer gak bang?"
"Nih sedot aja nih, gigit dulu karetnya.", Nday membuka tutup selang water blader yang dipasang dibagian kanan tali daypacknya dan mendekatkannya kepada kedua remaja itu, mereka menyedotnya bergantian.
"Haaah.. makasih bang."
"Udah cukup belom?"
"Udah bang, makasih ya bang."
"Berdua doang emang?"
"Ada yang udah nyampe atas kayaknya bang. Abang berdua doang?"
"Iya kita berdua doang nih."
"Yauda kita lanjut ya bang."
"Oh yauda diatas banyak orang kok. Ntar ke Mandalawangi aja, isi aer tuh buat ntar bekel turun."
"Oke bang, makasih bang!"
"Sip! Semangat! Dikit lagi!", Nday dan Ramdan menyemangati mereka.
Ramdan kembali berjalan di depan. Nday mengambil setiap botol plastik yang ditemuinya di jalur dan mengikatnya menjadi satu dengan kumpulan botol yang dikumpulkannya di puncak tadi. Nday juga membawa sampah di trashbag hitam besar yang dillihatnya bersandar di pohon ketika perjalanan naik tadi pagi.
"Itu mao lo bawa Nday?"
"Kalo bukan kita siapa lagi Dan? Bentar gue iket dulu sampahnya di daypack.", Nday melepaskan daypacknya dan mengikat trashbag itu dengan tali rafia yang dililitkan di daypacknya. Daypack Nday ada framenya, sehingga mudah untuk mengikatnya.
"Berat Nday?"
"Mayaan kayak bawa carrier lagi. Yuk lanjut!"
Mereka melanjutkan perjalanan turun, kali ini Nday sering tertinggal oleh Ramdan. Bebannya terasa semakin berat dan trashbag itu menyulitkannya ketika melewati batang-batang pohon yang tumbang. Ikatan trashbag itu terkadang kendor, Nday beberapa kali menyuruh Ramdan berhenti dan membetulkan posisi trashbagnya.
"Lagian lo pake dibawa sih Nday."
"Biarin lah Dan, itung-itung amal."
"Pantesan ditinggal ditengah jalur, orang berat."
"Positive thinking aje Dan, siape tau mereka ngedrop atau gimana, mungkin juga lupa."
Mereka terus mengikuti jalur yang membelah hutan. Suasana hutan itu masih basah, mereka harus ekstra hati-hati supaya tidak terpeleset. Hampir 90 menit mereka melangkah akhirnya sampai di persimpangan Puncak Gede dan Pangrango, mereka mengambil beberapa foto secara bergantian di penunjuk jalur itu kemudian melanjutkan turun ke Kandang Badak.

Kandang Badak, 12.20.
Nday dan Ramdan membongkar tenda berkapasitas 6 orang itu, terpal bagian bawahnya kotor oleh lumpur. Tidak lupa mereka membersihkan sekitar tempat mereka camp dari sampah-sampah kecil. Kandang Badak makin ramai siang itu. Akhir tahun seperti ini jumlah pendaki Gede-Pangrango memang sedang full-fullnya, selain karna musim liburan memang karna tanggal 31 Desember TNGGP akan tutup sampai April 2014.
"Beuh tugas berat nih gue nyucinye!"
"A.. a.. a.. semangat Nday! Mao gue bantuin? Bantuin doa! A.. a.. a.. a.."
"Sikampret!"
Lo mendingan diem deh Dan.
"Masalah Nday? A.. a.. a.."
Lo diem aje ngeselin, apalagi ngomong Dan.
"Yee ngajak ribut sia!"
Mereka sudah siap dengan packingannya masing-masing. Nday membawa trashbag yang dibawanya di jalur Pangrango tadi dan mengikat trashbag itu dicarriernya, sedangkan botol-botol air mineralnya dibawa Ramdan dan diikat didaypack yang dia bawa. Lapak bekas mereka mendirikan tenda langsung dipakai pendaki yang baru datang untuk mendirikan tenda juga. Nday dan Ramdan permisi ke pendaki-pendaki yang ada disekitarnya.
"Nday, jangan lupa liat kiri-kanan, cariin bungkus rokok gue siape tau aje ketemu."
"Nyantai aje Pak, kalo gak ketemu juga gak apa-apa."
Mereka kembali bertemu dengan trek bebatuan. Tidak jauh di depan terlihat lima anak laki-laki yang sedang menandu seseorang, kelihatannya mereka masih SMA. Mereka tidak membawa carrier atau daypack dan terlihat kesulitan untuk menuruni jalur bebatuan yang memang agak curam. Nday dan Ramdan akhirnya mendekat. Nday melihat anak perempuan yang sedang ditandu, tandu itu dibuat dari dua buah bambu dan dua helai kain sarung. Tubuh anak itu diselimuti dua flysheet tenda dan memakai jaket putih, rambutnya keluar dari kupluknya dan terlihat acak-acakan menutupi wajahnya yang pucat, wajahnya tidak menunjukkan kalau dia sedang bernafas, mulutnya sedikit menganga dan digiginya terlihat sedikit noda hitam, entah noda apa. Ada sebotol air mineral ukuran satu liter disamping tubuh cewek itu, mungkin untuk bekal minum mereka. "Dia pasti hypo nih, tapi kok ditandu keluar gini?", batin Nday.
"Dan bantuin dulu Dan!"
"Oke Nday.", Ramdan langsung sigap membantu membawa tandu darurat itu.
"Temennya hypo nih bang?", Nday bertanya ke mereka.
"Iya bang.", anak berjaket hijau yang berjalan dibelakang teman-temannya menjawab Nday.
"Mao dibawa kemana?"
"Ke bawah bang."
"Kandang Batu?"
"Basecamp bang."
"Hah? Kalo ujan gimana? Bawa ke kandang batu aja, minjem tenda yang kosong ama yang ngecamp disono."
"Cuman berenem nih?", tanya Ramdan yang masih membantu membawa tandunya.
"Duatujuh orang bang."
"Organisasi sekolah? Seniornye mane?" , tampang Ramdan mulai serius.
"Di Kandang Batu bang, ada lima orang, lagi packing barang-barang ama tenda."
"Terus temen-temen yang laen mana?", kata Nday sambil membetulkan posisi carrier dipunggungnya.
"Udah pada turun bang ke pos satu."
"Udah lapor ke basecamp belom? Minta tolong ama ranger?"
"Senior saya udah turun tadi pagi bang, tapi cuma dikasih dua bambu ini doang bang.", anak itu menjelaskan. Nday dan Ramdan cuma bisa geleng-geleng.
"Sini sini gantian ama gue.", Nday mengambil posisi anak bertahi lalat diatas bibirnya  yang terlihat sudah kelelahan.
"Temen-temen yang laen pada ngebackup cewe-cewenya bang, cewenya ada sepuluhan orang, banyak yang ngedrop juga cewenya, yang cowo pada bawain tasnya.", anak berjaket hijau itu melanjutkan kata-katanya.
"Hypo dari kapan nih?", Nday terlihat berusaha keras membawa tandu itu bersama Ramdan dan empat anak lainnya.
"Dari kemaren sore bang."
"Hah!? Gak dikasih pertolongan pertama?"
"Udah bang, tapi dia sempet kesurupan bang."
"Oh ini yang semalem tereak-tereak ye?"
"Iya bang, itu lagi kesurupan."
"Dikasih makan ama minuman anget gak nih?"
"Udah tapi gak mao bang, dimuntahin terus ama dia. Dia sempet minta kopi, kita kasih bang, pas dikasih kopi baru mao dia."
Nday geleng-geleng. Kopi sebenarnya mempercepat produksi asam lambung, apalagi lambung dia belum sempat masuk makanan. Dan dia teriak-teriak pasti karna halusinasi, bukan kesurupan. Karena kebanyakan korban hypothermia mengalami halusinasi dipikirannya. Tapi Wallahu'alam.
"Lan, Alan! Gantian Lan! Tangan gue udah sakit Lan!", salah satu dari mereka mengeluh tangannya sakit karna sudah pegal, anak yang berjaket hijau itu langsung sigap menukar posisi temannya itu.
"Namanya siapa?", Nday menunjuk anak perempuan yang menjadi bahan pembicaraan dengan pandangannya karna kedua tangannya sedang memegang gagang bambu tandu itu.
"Shizuko bang..", jawab anak berjaket hijau itu yang ternyata bernama Alan.
"Hah? Siapa?", nama itu terdengar asing bagi Nday.
"Shi.. zu.. ko.. bang.", Alan mengeja nama temannya itu.
"Shi.. zu.. ko?", Nday memastikan.
"Iya bang."
Nama yang sedikit tidak biasa untuk orang asli Indonesia, itu nama orang Jepang. Mungkin dia memang mempunyai keturunan Jepang, terlihat dari wajahnya yang terlihat sedikit Asian. Nday, Ramdan, dan lima anak itu bergantian membawa tandu. Ramdan sampai lupa kalau dia harus mencari bungkus rokoknya yang hilang, SIM card Nday lebih tepatnya.Tidak mudah menandu seseorang di tengah trek yang lumayan curam seperti itu. Mereka harus berhati-hati agar kepala Shizuko tidak terbentur batu dan tidak merosot ketika tandu dalam keadaan miring. Beberapa pendaki yang berpapasan dengan mereka ada yang menyingkir dan menatap ngeri, ada yang penasaran, ada yang menolong membawakan tandu beberapa anak tangga lalu meneruskan perjalanannya, dan ada juga yang mengambil gambar dari kameranya, mungkin untuk dokumentasi perjalanannya.
"Bro, gantian dulu deh, gue mao ke bawah. Ada yang lagi istirahat tuh, gue mao minjem matrasnya. Ntar Shizuko ditaro dulu disitu, treknya udah landai. Orang hypo itu harus cepet disadarin.", Nday menyerahkan pegangannya ke salah satu teman Shizuko dan menunjuk trek landai yang lumayan terbuka dibawahnya dekat dengan air terjun, sinar matahari terlihat menerangi tempat itu. Cukup untuk membaringkan Shizuko.
"Oke bang sini bang.", anak itu sigap mengganti posisi Nday. Nday langsung melesat kebawah menuju para pendaki yang sedang beristirahat disana.
"Bang boleh minjem matrasnya gak bang? Ada temen kena hypo bang.", Nday mendekati kelompok pendaki yang sedang beristirahat itu sambil menunjuk ke arah Ramdan dan teman-teman Shizuko yang sudah tidak jauh dari posisi Nday.
"Oh boleh boleh bang! Nih Bang ambil!", beberapa pendaki yang sedang duduk diatas matras hijau itu langsung cekatan berdiri. Nday mengambil matras itu dan menggelarnya dibawah sinar matahari yang sedang terik menyinari sebagian tempat yang terbuka itu.
"Sini sini rebahin disini!", Nday melambaikan tangan ke Ramdan, Alan dan teman-temannya. Mereka langsung meletakkan Shizuko bersama tandunya diatas matras itu, Nday melepas carriernya.
"Dan, keluarin nesting ama kompor, masak aer panas!", lanjut Nday. Ramdan langsung membongkar daypacknya dan mengeluarkan alat masak yang dimaksud Nday.
"Bro, pangku Shizuko. Sambil dipeluk, gak apa-apa.", Nday menyuruh anak yang berambut belah tengah untuk memangku tubuh Shizuko.
"Iya bang!"
"Bajunya gak basah kan?"
"Udah diganti semua bang ama yang kering."
Nday memegang pipi, tangan, dan kaki Shizuko. Dingin, sangat dingin. Kemudian Nday merapikan rambut Shizuko yang berantakan dan Nday langsung mengeluarkan plastik kiloan dari bodypacknya kemudian membungkus tangan dan kaki Shizuko dengan maksud agar suhu tubuhnya tidak mudah hilang. Nday membetulkan flysheet yang menyelimuti tubuh Shizuko. Ramdan sedang memasak air panas didekat mereka.
"Shizuko, denger gak?", dengan tenang Nday memanggil Shizuko sambil memegang pipi Shizuko. "Kalo denger jawab!", lanjut Nday.
"Panggil Zuko aja bang.", kata Alan.
"Eee..", terdengar erangan kecil dari mulut Shizuko, ternyata dia masih sadar.
"Bangun! Lawan! Jangan diturutin ngantuknya!", seru Nday dihadapan Shizuko.
"Ayo Ko bangun Koo!", teman-temannya menyemangati Shizuko.
"Dan, aernya udah panas belom?", tanya Nday ke Ramdan.
"Udeh nih Nday!", Ramdan menuang air yang dimasak ke gelas pinjaman dari pendaki yang beristirahat disana.
"Ama sendoknya Dan!"
"Nih.", Ramdan menyodorkan gelas plastik yang berisi air panas itu, Nday langsung meraihnya.
Nday mencicipi air panas itu dengan sendok, memastikan airnya tidak terlalu panas agar tidak menyakiti Shizuko. Nday meniupnya sedikit dan menyuapinya ke mulut Shizuko.
"Ati-ati bang dimuntahin. Semalem disuapin susu anget ama bubur dimuntahin.", anak yang bertahi lalat menadahkan plastik dibawah mulut shizuko. Nday hanya diam.
"Zuko, ini mao disuapin aer anget ditelen ya..", Nday berkata dengan lembut dengan suara yang sedikit dikeraskan. Nday menyuapi sesendok air hangat itu ke mulut Shizuko, semua orang yang ada disitu terdiam sesaat. "Nah ini mao ditelen!", lanjut Nday.
"Semalem dimuntahin bang.."
"Dan, bihun masih ada satu kan? Masak aja, kuahnya agak banyakin!", Nday langsung berseru ke Ramdan. Ramdan langsung melaksanakan apa yang diperintahkan Nday.
Ramdan memang tidak mengerti soal penanganan hypothermia, makanya dia hanya bisa melakukan apa yang diinstruksikan Nday. Sebelumnya Nday dan teman-temannya pernah punya pengalaman di Gunung Salak, dimana salah satu temannya diserang hypothermia ketika badai ditengah trek. Beruntung temannya itu tertolong dan bisa kembali pulih. Nday belajar banyak dari teman-temannya yang lebih pengalaman disana, dan yang dilakukan Nday sekarang tidak jauh berbeda dari apa yang dia dan teman-temannya lakukan ketika menangani temannya yang hypothermia di Gunung Salak waktu itu. Nday dan teman-teman Shizuko terus memanggil dan menyemangati Shizuko sembari menunggu bihun yang dimasak Ramdan matang.
"Bang badannya udah mulai anget nih bang!", temannya yang memangku Shizuko menempelkan punggung tangannya ke pipi Shizuko. Wajah Shizuko memang tidak sepucat tadi.
"Alhamdulillaah.", Nday memastikannya dengan menempelkan punggung tangannya ke pipi Shizuko juga. "Dan, bihunnya Dan! Perutnya harus diisi!", seru Nday ke Ramdan. Ramdan segera menyodorkan nesting berisi bihun kuah itu ke Nday.
"Ati-ati Nday masih panas!", Ramdan mengingatkan. Nday meraih nesting yang masih panas itu dengan memegang gagangnya.
"Zuko.. ini mao disuapin kuah bihun. Enak kok! Ditelen yaa!", Nday berseru lagi ke Shizuko yang masih belum bisa membuka matanya. Nday mulai menyuapinya dengan kuah bihun.
"Eee..", Shizuko hanya bisa mengerang kecil, dia terlihat sangat lemah.
"Nih ditelen lagi yaa.. sambil dilawan ngantuknya!", Nday mensugesti Shizuko supaya bangun.
"Zuko.. ayo Ko ditelen yaa Ko..", "Bangun Ko bangun! Lawan!", "Ayo Zuko lo bisa Ko!", teman-temannya menyemangati Shizuko.
"Eee..", Shizuko mengerang lagi, kali ini tangannya mulai bergerak.
"Ayo terus Ko lawan! Jangan diturutin!", "Ayo Zuko ayoo!", Nday dan teman-temannya terus menyemangatinya.
Teman Nday yang hypothermia di Gunung Salak pernah bercerita kalau dia bisa mendengar suara Nday dan teman-temannya, tapi dia tidak kuasa menggerakkan tubuhnya. Tiba-tiba sinar mentari yang menerangi tempat itu memudar perlahan. Langit yang tadinya terik sekarang tertutup awan kelabu. Nday menengadahkan kepalanya ke langit.
"Mendung nih! Bro! Cepetan ke Kandang Batu! Cari tenda yang udah berdiri! Bilang sama orangnya pinjem dulu!", Nday berseru ke Alan, Alan langsung berlari menuju Pos Kandang Batu yang sudah tidak jauh dari situ.
Nday dan teman-teman Shizuko terus menyemangati Shizuko disaat menunggu Alan kembali. Nday berdoa semoga langit tidak segera menurunkan hujannya. Tapi semesta tidak mendukungnya, gerimis turun tidak lama setelah mendung tadi datang.
"Gerimis! Bawa Shizuko ke Kandang Batu!", seru Nday ke teman-teman Shizuko. "Dan, beresin nestingnya Dan!", lanjut Nday menyuruh Ramdan sambil memakai carriernya. Mereka semua segera melaksanakan apa yang diinstruksikan Nday.
"Bang makasih ya bang matrasnya!", Nday berterimakasih ke kelompok pendaki yang telah meminjamkan matras dan gelas tadi.
"Iya ati-ati ya bang!", "Cepet sembuh temennya bang!", para pendaki itu mendoakan mereka.
Nday berlari duluan menuju Kandang Batu, Alan terlihat baru datang lalu mengarahkan Nday dan teman-temannya.
"Ada tenda yang bisa dipake?", tanya Nday ke Alan.
"Ada bang ada!"
"Bantuin bawa Shizuko dulu tuh!", Nday menyuruh Alan membantu teman-temannya, Alan langsung membantu membawa tandunya.
Nday sampai duluan di Kandang Batu, ada sekitar empat tenda berdiri disana. Nday menjelaskan tentang keadaan Shizuko dan bertanya ke kelompok itu tenda mana yang bisa dipakai. Kelompok itu mempersilahkan Nday memakai tenda ukuran dua orang yang sudah berdiri. Nday membuka resleting tenda itu dan mengarahkan teman-teman Shizuko, gerimis berubah menjadi hujan. Mereka memasukkan Shizuko bersama tandunya ke tenda itu dengan hati-hati. Nday, Ramdan, dan Alan mengawasi dari luar lalu berteduh di depan salah satu tenda disana yang berukuran cukup besar, berjarak sekitar sepuluh meter dari tenda yang di dalamnya ditempati Shizuko. Satu temannya menyusul keluar tenda.
"Sadarin Shizuko kayak gue tadi ya, disuapin sambil disugesti biar bangun. Gue ama Ramdan mao turun.", ucap Nday ke Alan dan temannya. Nday dan Ramdan besok harus masuk kerja, apalagi Ramdan harus shift pagi.
"Yah kita semua pada gak bisa bang..", Iya bang tolongin kita bang..", mereka meminta tolong ke Nday dan Ramdan.
Nday melihat jam tangannya, pukul 14.45. Nday dan Ramdan sebelumnya sudah membuat rundown sampai di Pos I sekitar pukul 16.00 dan lanjut pulang agar tidak kemalaman sampai di rumah dan beristirahat untuk mulai kerja besok. Tapi Nday khawatir dengan mereka, Nday merasa mereka semua adalah temannya juga.
"Oke oke gue bantuin.", Nday menyetujui mereka. "Dan, gak apa-apa kan turunnya entar dulu?", tanya Nday ke Ramdan.
"Gue mah terserah elo Nday."
Nday melepas sepatu trekingnya dan langsung masuk ke tenda yang ditempati Shizuko, tiga temannya yang mendampingi Shizuko bersiap keluar.
"Jangan keluar semua, bantuin gue dua orang disini.", Nday meminta dua orang teman Shizuko untuk menemaninya. Anak berambut belah tengah dan yang bertahi lalat di atas bibirnya menemani Nday di dalam tenda. Ramdan dan tiga orang lainnya menumpang berteduh di teras tenda yang cukup besar tadi yang posisinya paling dekat dengan tenda yang dipakai Shuzuko.
Nday menyuruh Ramdan memasak air lagi dan meminta minuman manis kepada kelompok yang ada disana. Mereka memberikan susu jahes hangat ke Ramdan. Ramdan menyuruh Alan untuk memberikannya ke Nday. Anak yang berambut belah tengah meraih gelas yang disodorkan Alan.
"Nih bang."
"Lo pangku shizuko lagi sambil dipeluk kayak tadi.", Nday menerima gelas plastik berisi susu jahe yang disodorkan oleh anak itu, uapnya terlihat keluar dari dalam gelas.
"Oke bang."
"Gak ada yang bawa SB ya?"
"Basah semua bang, kita juga gak bawa apa-apa, semuanya dibawain ama senior kita yang lagi di Kandang Badak."
"Duh, SB gue juga agak basah lagi. Yauda lo pangku, ntar gue yang suapin."
Anak itu langsung menopang tubuh Shizuko. Nday memegang tangan Shizuko yang terbungkus plastik, tangannya dingin lagi. Nday menggenggamkan tangan Shizuko ke gelas yang berisi susu haje hangat itu dan merapihkan flysheet yang menyelimuti tubuh Shizuko sejak awal. Sebenarnya flysheet tidak terlalu banyak membantu untuk menghangatkan tubuh Shizuko, tapi tidak ada sleeping bag yang bisa dipakai. Temannya yang satu lagi menutup resleting tenda karna hujan sudah mulai deras.
"Zuko, bangun! Dilawan ngantuknya! Jangan diturutin!", Nday kembali mensugesti Shizuko agar bangun.
"Eee..", lagi-lagi Shizuko hanya bisa mengerang kecil.
"Lawan! Lawan! Ayo Zuko bisa!", "Ayo Ko lo bisa Koo!", Nday dan teman-temannya terus menyemangati Shizuko.
"Ini mao disuapin susu jahe ditelen yaa!", Nday mencicipi susu jahe itu dengan sendok dan meniupnya, memastikannya lagi supaya tidak terlalu panas untuk Shizuko.
"Eeeehh..", kali ini erangannya agak sedikit panjang. Nday mulai menyuapinya dengan penuh perhatian.
Nday terus menyuapinya dengan perlahan sambil menyemangatinya supaya bangun. Shizuko sudah mulai mengeluarkan suara disetiap hembusan nafasnya. Shizuko sudah bisa menarik nafas panjang, wajahnya sudah mulai memerah. Segelas susu jahe itu sedikit lagi habis.
"Bang tangannya udah anget nih bang! Ayo bang terus bang!", anak yang bertahi lalat menggenggam tangan Shizuko.
"Bilangin Ramdan suruh masak aer anget lagi!", seru Nday ke anak itu.
"Yo! Aryo! Suruh Bang Ramdan masak aer lagi!", anak itu memanggil temannya yang bersama Ramdan di luar tenda.
Ramdan, Alan, dan Aryo memasak air lagi. Sementara Nday dan dua orang teman Shizuko masih berusaha untuk mengembalikan kesadaran Shizuko di dalam tenda, mereka semua baru sempat berkenalan. Ramdan sempat mengobrol sedikit dengan kelompok pendaki yang tendanya mereka tumpangi, kelompok itu juga anak-anak SMA, dari Cigombong.
"Tadi senior lo turun beneran cuma dikasih bambu doang? SAR-nye gak ikut naek?", tanya Ramdan ke Alan.
"Beneran bang, tadi pagi turunnya."
"Jaman sekarang mah orang pada egois, pada mentingin dirinye sendiri. Gue juga tadinye mao langsung turun pas ketemu lo-lo pade, mao ngapain gue? Orang besok gue kerja ama Nday. Tapi Nday noh, die masih punya rasa kasian. gue sih ngikut die aje.", tampang Ramdan mulai serius sambil menunjuk tenda yang didalamnya terdengar suara Nday yang masih berusaha memulihkan kondisi Shizuko. Suara Nday terdengar samar oleh hujan.
"Iya bang, makasih ya bang..", Alan memelas.
"Untung tadi lo semua gak nerus jalan. Coba kalo lo jalan terus ke pos satu, ujan begini, lo semua gak bawa apa-apaan, nandu Shizuko lagi, yang ada nambah parah ntar Shizuko, abis lo semua. Orang biasa aje tiga jam empat jam baru ampe bawah, nah elo bawa Shizuko, bisa seharian lo, bisa ampe malem. Gak bawa senter kan lo pade? Belom lewat aer terjunnye, gue aje yang gak bawa apa-apaan susah, licin, mesti jaga keseimbangan, gue mah gak ngebayangin dah kalo lo semua lewat situ sambil bawa Shizuko. Untung Nday tadi nahan Shizuko ama nyuruh kesini minjem tenda.", Ramdan menceramahi mereka, mereka hanya bisa diam mendengar kata-kata Ramdan.
"Abang kerja dimana bang?", Alan membuka topik baru.
"Di restoran bareng si Nday. Lo semua dari SMA mane?"
"SMA 6 Bekasi bang."
"Nih Yo, kasih aer panasnya ke Nday.", Ramdan menuang air yang dimasak ke gelas plastik milik pendaki Cigombong dan memberikannya kepada Aryo. Aryo berlari ke tenda yang ditempati Shizuko sambil menutup gelas itu dengan tangannya agar tidak terkena air hujan.
"Ndo buka Ndo! Nih aernya nih!", Aryo berteriak ke anak yang bertahi lalat di dalam tenda, namanya Ando. Ando membuka resleting tenda dan meraih gelas pemberian Aryo. "Shizuko gimana bang?", lanjut Aryo.
"Masih belom bangun, tapi badannya udah anget kok."
"Alhamdulillaah.. terusin ya bang, tolongin Shizuko.", wajah Aryo sedikit cerah. Nday hanya tersenyum dan mengangguk.
"Bilangin Ramdan, bihun yang tadi suruh diangetin terus kuahnya ditambahin lagi.", ucap Nday ke Aryo.
"Iya bang!", Aryo langsung menuju tempat Ramdan.
Ando menutup resleting tendanya lagi, hujan masih turun dan terus membasahi Kandang Batu, membuat Kandang Batu terasa makin membeku.
"Bang gantian bang, tendanya rembes, biar gue yang jagain aernya.", Jampang menyerahkan Shizuko dari pangkuannya ke Nday. Nday langsung menopang tubuh Shizuko dan merangkulnya, Jampang menahan dome tenda itu dengan tubuhnya agar airnya tidak masuk ke dalam tenda.
"Ando, lo yang suapin Shizuko, pelan-pelan.", Nday menyuruh Ando yang sedang memegang gelas. Ando langsung merapat ke samping tubuh Shizuko.
Shizuko kembali mengeluarkan suara setelah disuapi beberapa sendok air hangat, seperti suara orang mengigau. Nday, Jampang, dan Ando terus berusaha untuk memulihkan kondisi Shizuko. Nday melirik jam tangannya, pukul 16.40. Hampir tiga jam mereka berusaha. Ini lebih sulit dibanding waktu Nday menolong temannya di Gunung Salak. Shizuko mulai drop dari kemarin sore dan perutnya kosong, dan yang Nday tau jika korban hypothermia tidak segera ditolong maka kemungkinan selamatnya sangat kecil. Tapi Nday tidak mau menyerah, Nday percaya tidak ada usaha yang sia-sia.
"Ayo Ko dilawan ngantuknya! Jangan diturutin Ko! Zuko! Denger kan!?", Nday masih memangku dan merangkul Shizuko, suara Nday seperti sedang memarahi Shizuko.
"Hhh.. hhh.. hhh..", Shizuko hanya bisa mengeluarkan suara seperti orang mengigau.
"Ko ayo Ko.. bangun Ko..", suara Ando pelan, Ando mulai lelah menyemangati Shizuko.
"Zuko bangun! Mau pulang gak!? Temen-temennya nungguin Shizuko nih!", seru Nday didekat telinga Shizuko.
"Hhhhh!", Shizuko menggerakkan tangan kirinya ke atas.
"Ayo! Terus! Lawan! Lawan!", "Ayo Ko lawan Ko!", "Ayo Zuko lo bisa Koo!", Nday, Jampang, dan Ando mulai bersemangat lagi melihat Shizuko menggerakkan tangannya.
Ramdan dan tiga teman Shizuko masih duduk berteduh di teras tenda rombongan Cigombong itu. Mereka terus mendengarkan suara Nday yang terus berusaha membangunkan Shizuko.
"Lo mendingan turun gih, Shizuko belom sadar juga noh. Bilang ke ranger, mereka yang lebih ngerti urusan beginian. Kalo mereka gak bisa naek juga lo kasih duit aje ntar, lo kan berame-rame, patungan!", Ramdan menyuruh Alan turun ke Pos I dan melapor ke tim rescue yang ada disana. Ramdan tidak mau menerima alasan tim rescue tidak bisa naik lagi untuk membantu mereka. Ramdan berfikir ini adalah urusan nyawa seseorang.
"Oke bang gue turun deh.", ucap Alan.
"Jangan sendirian, ajak temen lo satu."
"Yauda Bang ama gue aja.", satu temannya menawarkan diri.
"Nah yaude cepetan gih! Mumpung belom gelap, pada gak bawa headlamp kan?"
Alan dan temannya langsung berlari menuju Pos I Cibodas. Hujan masih turun, Alan dan temannya hanya dilindungi oleh jaket waterproof. Ramdan dan Aryo masih stay di Kandang Batu, mereka berdua menghangatkan bihun yang tadi siang dimasak untuk Shizuko. Ramdan menghampiri tenda Shizuko dan memberitahukan Nday kalau kedua temannya dia suruh turun ke Pos I untuk minta bantuan tim rescue. Nday, Jampang, dan Ando terus berusaha agar Shizuko bisa membuka matanya. Nday berkisah tentang pengalamannya di Gunung Salak waktu itu kepada Jampang dan Ando. Jampang dan Ando bercerita tentang Shizuko, dia adalah wanita yang sopan santun dalam perkataan dan perbuatan, mempunyai keturunan Jepang dari kakeknya, dan baru pertama kali mendaki. Shizuko sempat menggerakkan kepala, tangan, dan kakinya. Shizuko seperti orang yang sedang mengigau, suaranya seperti orang yang sedang menangis. Suhu tubuhnya juga sempat menghangat.
"Shizuko! Temen-temen nungguin Shizuko nih! Udah mau malem! Shizuko mau pulang ke rumah gak!?", Nday kembali mengeraskan suaranya di dekat telinga Shizuko.
"Eeeeee!", Shizuko mengangkat sedikit tubuhnya dari pangkuan Nday. Jampang dan Ando gembira melihat pergerakan Shizuko yang ingin bangun. "Iya ayo Ko terus Ko!", Ayo Ko dikit lagi Ko! Bangun Ko!", Jampang dan Ando bersemangat. Tapi Shizuko roboh lagi ke pangkuan Nday.
"Ayo Ko lawan kayak tadi! Zuko bisa Zukooo!", Nday menyemangati Shizuko lagi.
Aryo memberikan bihun yang sudah hangat ke Ando dan menanyakan keadaan Shizuko. Ando menjawab Shizuko sempat ingin bangun tapi dia roboh lagi. Nday menyuruh Aryo supaya masak air lagi, Aryo langsung bilang ke Ramdan apa yang diperintahkan Nday. Nday menyuapkan kuah bihun ke mulut Shizuko dengan perlahan di pangkuannya dan dia menyuruh Ando melilitkan dua sarung yang digunakan untuk menandu Shizuko tadi di kedua kaki Shizuko karna kakinya mulai dingin lagi.
"Ndo, pegang tangan Shizuko, gosok-gosok pake tangan lo.", Nday langsung menyuruh Ando setelah Ando selesai melilitkan sarung di kedua kaki Shizuko. Tubuh Shizuko mulai dingin lagi.
"Zuko! Hei! Bangun! Ayo dilawan ngantuknya kayak tadi! Temen-temen Shizuko nungguin Shizuko! Temen-temen Shizuko mau pulang sama Shizuko!", Nday kembali mengeraskan suaranya di dekat telinga Shizuko dan memberikan nesting yang dipegangnya ke Jampang yang masih menghalangi tetesan air yg bocor di pojok tenda, celana Nday mulai sedikit basah. Shizuko hanya bisa mengerang lagi.
"Ayo Koo, lo bisa Koo..", Ando masih menggenggam dan menggosok-gosokkan tangan Shizuko.
"Sini tangannya Shizuko biar gue yang angetin, lo sama jampang makan aja tuh bihunnya, mumpung masih anget. Lo pada laper kan?"
"Abang aja yang makan bang."
"Enggak, gue masih kenyang. Makan aja gak apa-apa.", Nday merangkul Shizuko sambil menggosok-gosokkan tangannya dengan tangan Shizuko. Padahal Nday juga lapar, tapi Nday melihat raut kelelahan di wajah Jampang dan Ando, Nday bisa makan di bawah nanti.
Jampang dan Ando bergantian memakan bihun itu lalu menyisakan untuk temannya di luar. Ando memberikannya ke Aryo, Aryo menawarkan agar Ramdan ikut memakannya. Tapi Ramdan menolak, dia membiarkan Aryo menghabiskan sisa bihun yang tidak terlalu banyak itu. Ramdan juga tahu kalau Aryo juga lebih kelaparan darinya.
"Udeh lo makan aje, gampang gue mah. Masih kenyang.", kata Ramdan sambil menghangatkan tangannya di dekat kompor, dia mulai menggigil.
Jam lima sore, Kandang Batu masih hujan. Tidak ada suara lagi selain suara Nday, Jampang, dan Ando yang tanpa menyerah terus menyemangati Shizuko.
"Zuko dilawan ngantuknya Zuko! Lawan kayak tadi! Ayo Zuko kuat! Temen-temen disini nungguin Shizuko!", Nday sedikit berteriak lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Nday hampir saja menyerah, Shizuko belum bisa bangun juga.
"Zuko ayo Ko..", suara Ando mulai malas.
"Zuko! Bangun! Kalo Zuko lemah kayak gini ntar gak dibolehin naek gunung lagi loh ama Papa Mamanya!"
"Eee..", Shizuko hanya bisa menjawab perkataan Nday dengan erangan yang lemah.
"Iya Koo.. katanya mao triple S? Ntar kita kesana Koo..", suara Ando lirih.
"Eeehh..", Shizuko hanya mengerang lagi mendengar perkataan Ando. Shizuko pernah bilang ke Ando kalau dia punya keinginan mendaki Slamet, Sumbing, dan Sindoro di Jawa Tengah.
"Tuh kata Ando mao ke triple S? Kalo Shizuko lemah gini gak bakal bisa kesana! Ayo tunjukkin kalo Shizuko kuat!"
 "Haah.. haah.. haah..", Shizuko mengeluarkan nafas dari mulut seperti sedang kelelahan, dia seperti sangat berusaha untuk melawan keadaannya.
"Ayo Zukoo! Mama Shizuko nungguin di rumaah! Mamanya khawatir sama Shizukooo!", Nday berteriak dan menepuk-nepuk pipi Shizuko yang masih dalam pelukannya.
"Eeeeeeehhh!", Shizuko bangkit. Dia sempat terduduk sesaat. Mata Jampang dan Ando terbuka lebar, wajah mereka terlihat gembira dan kembali memberikan suntikan semangat untuk Shizuko. Nday hanya terdiam melihat Shizuko yang membangunkan tubuhnya dari pangkuan Nday, berharap Shizuko benar-benar bisa melawan keadaannya. Tapi Shizuko roboh lagi, Nday segera merangkul tubuhnya.
"Zuko ayo lagi! Lawan kayak tadi! Yang kuat lawannyaa!", Nday menyemangati Shizuko lagi.
"Zukoo! Ayo lo bisa Ko!", "Lawan Ko lawaan!", Jampang dan Ando berteriak sambil menepuk-nepuk pipi Shizuko.
Mereka bertiga terus berusaha menghangatkan dan membangunkan Shizuko, Shizuko hanya bisa mengerang kecil lagi. Empat jam sudah Nday berusaha, ini lebih sulit dari yang Nday bayangkan. Semua yang Nday lakukan ternyata tidak semudah tulisan-tulisan di artikel tentang penanganan korban hypothermia.
"Zuko! Ayo Zuko bisa! Kita percaya Zuko kuat! Bayangin tampang Mama Shizuko yang khawatir di rumah lagi nungguin Shizuko pulang! Ayo lawan Zuko!"
"Errgh..", lagi-lagi Shizuko hanya mengerang mendengar perkataan Nday. Tapi kali ini seperti ada sesuatu tertahan ditenggorokannya.
"Zuko!? Ayo bangun! Lawan yang kuat kayak tadi!"
"Errgh.. errgh.. errgh..", seperti ada dahak ditenggorokan Shizuko.
"Ayo Zuko lawan!", "Zuko ayo Ko..", Nday, Jampang, dan Ando terus berusaha agar Shizuko bisa bangkit seperti tadi dan membuka matanya.
"Uhuk! Uhuk!", Shizuko batuk dan mengeluarkan cairan hitam dari mulutnya, Nday mencium bau kopi dari mulut Shizuko dan langsung mengelapnya dengan tissue.
"Ini kopi ya!?", tanya Nday ke Ando dan Jampang.
"Iya bang.. semalem kan dia minta kopi. Abis lima bang.. tapi gak diseduh bang.. digerus sama dia bang..", jawab Ando lirih.
"Hah!?", Nday kaget mendengar jawaban Ando. Shizuko benar-benar salah di penanganan pertamanya.
"Uhuk!", mulut Shizuko mengeluarkan kopi lagi, kali ini lebih banyak. Nday menahan muntahan itu dengan plastik.
"Zukoo!? Ayo Zuko bangun Koo!", Nday berteriak sambil mengelap muntahan yang membasahi leher dan baju Shizuko.
"Zuko ayo Koo! Bangun Koo!", "Zuko please bangun Koo!", Ando dan Jampang mulai khawatir.
"Heeeegh!", Shizuko terbangun dari pangkuan Nday, dia terduduk, matanya terbuka lebar tapi tatapannya kosong.
"Zuko!?", Ando menyentuh pipi Shizuko, memastikan kalau Shizuko sudah sadar. Zuko langsung roboh lagi, matanya kembali terpejam. Nday segera merangkulnya kembali dan menidurkan Shizuko. Shizuko terlihat tidak bernafas lagi. Dengan tenang Nday menempelkan telunjuknya di kedua lubang hidung Shizuko, tidak ada tanda karbondioksida yang dia keluarkan.
"Bang!?", Ando menatap Nday dengan mata yang berkaca-kaca.
Nday segera membuka resleting jaket Shizuko dan menekan dada Shizuko dengan kedua tangannya. Shizuko memuntahkan kopi lagi, Jampang mulai terisak. Ando terus memanggil-manggil Shizuko supaya bangun. Nday terus menekan-nekan dada Shizuko sambil mengecek detak jantung Shizuko.
"Bang.. tolongin Shizuko bang!!!", teriak Jampang sambil terisak.
"Bang ini nadinya masih ada bang..", kata Ando lirih sambil memegang pergelangan tangan Shizuko. Nday memegang pergelangan tangan Shizuko sesaat, nihil. Tidak ada denyut nadi yang Nday rasakan.
"Maaf ya, Gue mao ngasih nafas buatan.", Nday berkata ke Ando dan Jampang lalu langsung membuka mulut Shizuko dengan kedua tangannya dan memberikan nafas buatan kepada Shizuko.
Nday terus memberikan nafas buatan sambil menekan dada Shizuko dan mengecek nafasnya, Nday melakukannya berulang-ulang. Mulut Nday juga berlumuran ampas kopi. Raut wajah khawatir terlihat di wajah Ando, sedangkan Jampang hanya bisa terisak memanggil-manggil Shizuko. Terakhir Nday menempelkan telinganya ke dada Shizuko, Jampang dan Ando terpaku sesaat. Nday mengangkat kepalanya lalu terdiam, wajahnya muram menunduk.
"Bang!?", Ando memanggil Nday, Nday hanya terdiam. Ando dan Jampang menunggu jawaban Nday.
"Bang!? Zuko gak-apa-apa kan bang!?, Ando menunggu Nday memberikan jawabannya.
 Nday mengangkat kepalanya perlahan. Pandangannya yang sendu mengarah ke Ando dan Jampang.
"Kalo Shizuko pergi.. kalian ikhlas yaa?", suara Nday lirih.
"HUAAAA!!!", tangisan Jampang meledak. Nday hanya bisa menunduk.
"BENERAN GAK BISA DIAPA-APAIN LAGI BANG!?", Ando berteriak ke Nday dengan air mata yang tertahan di pelupuk matanya. Nday menggeleng perlahan.
"YAA ALLAH ZUKOO!!! BANGUN KOO!!!", Ando menampar-nampar pipi Shizuko dengan keras. Nday menahannya, menyuruh Ando untuk menahan emosinya.
Aryo langsung berlari menghampiri tenda Shizuko dan membuka resletingnya. Ramdan hanya terdiam, dia tahu kalau Shizuko sudah tidak bisa diselamatkan.
"Ando! Zuko kenapa Ndo!? Jampang!?", Aryo membungkuk melihat keadaan di dalam tenda itu.
"Zuko udah gak ada yooo..", ucap Ando yang sudah tidak bisa menahan tangisnya. Aryo langsung berdiri, menjambak rambutnya sendiri dengan kedua jemari tangannya. "Bang! Zuko gak bisa diselametin lagi bang!?", Aryo berteriak ke Nday dengan mata yang berkaca-kaca. Nday hanya bisa menggeleng sambil tersenyum getir.
"ZUKOOO!!! BANGUN KOO!!! JANGAN TINGGALIN GUEE!!!", Jampang berteriak keras, dia menjatuhkan kepalanya dia atas tubuh Shizuko "BUGH! BUGH! BUGH!", Jampang memukul-mukul tubuh Shizuko dengan keras, tangannya mengepal dan gemetar di atas tubuh Shizuko. "JANGAN TINGGALIN KITA KOOO!!!", teriakan Jampang terdengar sangat pilu. Nday segera menahan Jampang dan menyuruhnya Istighfar. Para pendaki yang camp di Kandang Batu mendekati tenda mereka, melihat apa yang sedang terjadi.
"Jampang nyebut Pang! Istighfar! Hei!", Nday mengangkat tubuh Jampang dan menampar-nampar pipi jampang.
"Astaghfirullahal'adziim.. Astaghfirullahal'adziim..", Jampang beristighfar dalam isakannnya sambil meringkukkan tubuhnya di pojok tenda. Nday tidak kuat melihatnya.
"Ando! Aryo! Bawa Jampang keluar tenda! Abis itu turun ke basecamp, kasih tau tim SAR kalo keadaan Shizuko udah gak ada! Jampang biarin aja disini sama gue! Cepetan lari!", Nday menyuruh Ando dan Aryo membawa Jampang keluar dari tenda itu. Jampang merasa sangat kehilangan atas kepergian sahabatnya itu. Ando dan Aryo memapah tubuh Jampang yang sudah lemas ke tenda yang ditumpangi Ramdan. Mereka berdua pamit ke Ramdan untuk turun ke Pos I, mereka langsung berlari di tengah gerimis dengan air mata yang masih membasahi wajah mereka.
Seorang pendaki seumuran Ramdan masuk ke tenda yang terbaring Shizuko disana, Nday masih duduk disampingnya membersihkan mulut dan leher Shizuko dengan tissue. Nday menjelaskan keadaan Shizuko dan apa yang mereka lakukan untuk Shizuko sejak siang. Orang itu membantu Nday membersihkan hidung dan mulut Shizuko dari bekas muntahannya, menutup mata dan rahangnya, dan menutup tubuh Shizuko dengan flysheet yang menyelimutinya. "Resiko terbesar mendaki gunung.", kata mas-mas itu.

Nday dan pendaki itu keluar dari tenda. Nday menghampiri Ramdan, tampangnya muram. Ramdan menatap Nday penuh arti.
"Gue gak berhasil Dan..", tatapan Nday kosong. Dia menyaksikan sendiri sakaratul maut Shizuko di depan matanya, sesuatu yang sangat berat buat Nday.
"Aryo sama Ando udah turun Nday ke pos satu, kita tunggu mereka aje dulu disini.", Ramdan menepuk pundak Nday. "Baru kali ini gue naek gunung ngalamin kayak beginian.", lanjut Ramdan.
"Pelajaran Dan buat kita..", Nday tersenyum getir ke Ramdan. Ramdan bisa menangkap apa yang dirasakan oleh Nday. Ramdan hanya bisa terdiam ketika Kandang Batu penuh haru oleh tangisan teman-teman Shizuko tadi.
"Mas, mas seniornya mas?", kata pendaki yang membantu Nday di tenda tadi.
"Bukan bang, saya tadi nemuin dia di Kandang Badak lagi ditandu turun.", sanggah Nday.
"Loh seniornya dimana?"
"Katanya sih di Kandang Badak, lagi beresin tenda ama barang-barang."
"Lah kok malah dikasih ke juniornya sih?"
"Gak tau bang, mungkin mereka bawain semua barang-barang kelompok, yang berat-berat.", Nday gak mau ambil pusing, sudah banyak beban difikirannya.
"Yauda kejadian ini biar cuma kita aja yang tau, jangan digembar-gembor omongannya, keep silent aja. Bukannya gimana-gimana, biar orang-orang pada gak panik aja.", orang itu berbicara kepada Nday, Ramdan, dan beberapa pendaki disana. Semua orang disana meng-iya-kan ucapan orang itu.
"Eh Dan, Jampang mana?", Nday teringat oleh Jampang yang tadi sangat shock ketika tau Shizuko telah meninggalkan mereka.
"Di dalem tuh Nday.", Ramdan menunjuk ke dalam tenda dengan pandangannya.
"Yauda gue solat dulu.", Nday meminta sedikit air dari orang-orang di tenda itu untuk berwudhu, Ramdan membantu menuangkan air dari botol itu.
Nday masuk ke dalam tenda, meminta izin dari beberapa pendaki yang ada di dalam tenda untuk mendirikan shalat disana. Nday dipersilahkan solat oleh mereka. Nday menyuruh Jampang yang sedang duduk terpaku untuk mengambil wudhu dan mengajaknya shalat berjamaah. Nday menunggu Jampang mengambil wudhu, Nday mengimami Jampang shalat ashar dan meng-qada shalat dzuhur mereka.
"Maaf saya gak bisa nolong Shizuko.", kata Nday diakhir shalatnya sambil bersalaman dengan Jampang. Jampang menyambut salam dari Nday.
"Iya bang gak apa-apa bang. Makasih banyak ya bang.", suara Jampang masih getir.
"Sabar, doain terus Shizukonya.", Nday menepuk pundak Jampang, menguatkan Jampang agar ikhlas melepas kepergian Shizuko.
Nday dan Ramdan memasak sisa logistik mereka, mereka tinggal punya sebungkus smoked beef. Nday menumis smoked beef itu dan menawarkan kepada pendaki-pendaki dari Cigombong yang ada disana. Pendaki-pendaki Cigombong itu memberikan nasi liweut yang baru matang ke mereka, Nday dan Ramdan menerimanya dengan tangan terbuka, mereka memang merasa sangat lapar. Jampang tertidur di dalam tenda.
"Dan, udeh gelap nih, jam enem lewat. Turun yuk.", kata Nday setelah menyelesaikan makannya berdua Ramdan.
"Ntar aje Nday, tunggu temen-temen Shizuko ama ranger kesini."
"Lo kan besok gawe masuk pagi Dan?"
"Gue bolos lagi aje deh, pake surat dokter."
"Turun aja kali Dan, ntar kan juga pasti ketemu di trek. Ntar kita jelasin kronologisnya.", Nday meyakinkan Ramdan, Ramdan terdiam sejenak dan menyetujui saran Nday.
Mereka berpamitan kepada kelompok yang mendirikan tenda disana. Nday menitipkan Jampang yang sedang tertidur kepada mereka.
"Kita turun dulu ya semuanya! Besok harus kerja soalnya.", kata Nday seraya mengeluarkan headlamp dari bodypacknya. "Titip Jampang sama Shizuko yaa, tunggu tim rescue naek kesini.", lanjut Nday.
"Iya iya bang."
"Hati-hati bang."
"Yauda kita jalan yaa.. Assalammu'alaikuum!", Nday memakai carriernya yang masih diikat menjadi satu dengan trashbag.
"Wa'alaikumsalaam!", jawab mereka.
Ramdan menyalakan senternya. Mereka berdua menerobos gerimis. Senja hampir habis ditelan oleh gelap. Mereka melewati air terjun Cipanas lagi dengan berhati-hati. Mereka terus melangkah tanpa henti. Kepergian Shizuko masih berkecamuk difikiran Nday, begitu juga Ramdan. Mereka ingin cepat-cepat sampai bawah. Mereka berdua menerobos kegelapan hutan di trek bebatuan, Nday berjalan di depan supaya Ramdan bisa mengikuti langkah Nday karna penglihatan Ramdan agak buruk di malam hari. Mereka hanya berpapasan dengan dua kelompok pendaki dan saling menyapa seperti biasanya. Mereka berdua belum bertemu dengan tim rescue dan teman-teman Shizuko. Nday terus membimbing langkah Ramdan di depan. Berdua di hutan yang gelap dengan suara-suara binatang malam membuat perasaan mereka semakin down.

Setelah dua jam meninggalkan Kandang Batu, mereka sampai di Pos Panyangcangan. Disana ada belasan pendaki yang sedang beristirahat, Nday dan Ramdan mencari teman-teman Shizuko, tapi mereka tidak melihatnya. Nday dan Ramdan melanjutkan langkahnya setelah beristirahat beberapa menit.

Mereka mulai melewati jembatan. "Dikit lagi sampe.", batin Nday. Setelah berjalan beberapa menit jembatan itu belum sampai ujungnya juga. Nday terus berjalan, langkahnya agak dipercepat. Jantung Nday berdegup, "DEG!". Mereka belum sampai juga di ujung jembatan, jembatan ini terasa lebih panjang dibanding waktu mereka berjalan naik. Nday memanggil Ramdan, memastikan Ramdan ada dibelakangnya. Ramdan menjawab Nday. Nday terus mengajak Ramdan bicara.
"Awas lobang Dan."
"Oke Ndaay."
"Depan ada tangga Dan, ati-ati."
"Yoyoooy!"
"Dikit lagi abis Daan jembatannya."
"Yoyoy Ndaaay!"
"Belom ternyata Dan, masih ada tangga lagi di depan."
"Okee."
Nday terus berjalan di depan Ramdan. Akhirnya mereka melewati ujung jembatan dan menemukan trek bebatuan lagi. Nday menghela nafas panjang. Nday sudah empat kali melewati jembatan itu, tapi kali ini jembatan itu terasa lebih panjang dari biasanya. Entah, mungkin cuma perasaan Nday saja.

Pos I Cibodas, 20.45.
Nday melapor ke dua orang petugas disana, satu laki-laki dan satu perempuan. Nday menyerahkan simaksi dan beristirahat sejenak bersama Ramdan.
"Iiih ya ampun makasih yaa mas udah dibawain sampahnya.", kata petugas perempuan yang berhijab itu.
"Iya tadi nemu di trek mbak.", kata Nday.
"Iya makasih banyak yaa."
"Sampah kita mah cuma segini teh.", Ramdan mengacungkan bungkusan di kantong kresek kecil berwarna hitam.
"Masa cuma segitu sampahnya?"
"Yee si teteh teu percaya euy."
"Ayo Dan kita buang dulu sampahnya.", Nday mengajak Ramdan membuang sampah-sampahnya di pembuangan sampah dekat toilet disana.
Nday dan Ramdan setuju kalau mereka harus langsung pulang dan tidak menceritakan kejadian tentang Shizuko ke petugas disana. Besok mereka harus kerja. Nday yang maksudnya harus kerja, Ramdan bolos. Jika diceritakan pasti akan panjang urusannya dan mereka tidak bisa pulang. Mereka berharap teman-teman Shizuko bisa menjelaskan kronologisnya. Nday dan Ramdan berpamitan ke petugas itu dan melangkah turun ke tempat dimana motor Nday diparkir dekat BBTNGGP. Mereka mau mampir ke warung Mang Idi untuk makan sebentar dan pulang.
"Nday..", Ramdan memanggil Nday.
"Apaan Dan?"
"Lo tadi ngerasa aneh gak pas ngelewatin jembatan?"
"DEG!", Nday tercekat. Ternyata Ramdan juga merasakan apa yang Nday rasakan ketika melewati jembatan tadi.
"Kayaknye kok panjang banget yee?", lanjut Ramdan.
"Mungkin pikiran kita capek kali Dan, dari Kandang Batu pikiran udah beban.", Nday mencoba berfikir positif.
Mereka melanjutkan langkah mereka dan makan di warung Mang Idi yang memang buka 24 jam di Cibodas. Mereka masih memikirkan kejadian di Kandang Batu tadi. Nday dan Ramdan mendapat pelajaran yang sangat berharga dari perjalanannya kali ini.

***

Kematian adalah rahasia Yang Di Atas, manusia tidak punya kuasa untuk melawan kehendak-Nya. Nday, Ramdan, dan sahabat-sahabat Shizuko sudah berusaha semampu mereka, tapi takdir berkata lain, Allah lebih mencintai Shizuko. Nday teringat pepatah Yunani yang dipopulerkan oleh Soe Hok Gie. "Nasib terbaik adalah mereka yang tidak pernah dilahirkan, yang kedua adalah mereka yang dilahirkan lalu mati muda, dan yang tersial adalah mereka yang mati tua. Berbahagialah mereka yang mati muda."

"Berhadapan dengan kematian bukanlah hal yang bisa dibanggakan, syukuri nafasmu saat ini. Allah Maha Kuasa atas segalanya."

Mereka banyak belajar dari kejadian yang baru mereka alami. Mereka belajar bahwa manusia hanyalah makhluk kecil dihadapan-Nya. Mereka tidak berhak untuk sombong, mereka tidak berhak untuk meremehkan alam, mereka sadar kalau manusia itu saling membutuhkan. Dan mereka belajar apa itu arti persahabatan. Sahabat adalah mereka yang tidak meninggalkan sahabatnya sampai saat terakhirnya. Nday merasa Shizuko sangat beruntung, Shizuko bisa menghembuskan nafas terakhir ditempat yang ia cintai, di alam semesta-Nya. Didekat sahabat-sahabat yang mencintainya dan setia menemaninya sampai akhir. Nday ingin kematiannya juga indah seperti itu, ditemani oleh orang-orang yang mencintainya. Nday seperti mendapat sahabat baru yang mengajarkannya tentang arti kehidupan. Sahabat dalam diam, Shizuko.

"Jika sebuah pertemuan adalah awal dari perpisahan, maka sebuah perpisahan adalah awal yang lebih indah untuk pertemuan selanjutnya. Selamat jalan Shizuko Rizmadhani."