Kalian para penggiat alam pasti sudah tidak asing dengan salah satu
karya Donny Dirgantoro, ya "5cm". Tahun lalu saya membaca karyanya dan
membuat saya penasaran tentang kegiatan pendakian. Apa iya kita bisa
mengenali diri kita sendiri disana? Apa iya kita bisa belajar makna
kehidupan disana? Apa iya kita bisa lebih baik disana? Hati saya
tergerak untuk membuktikannya. Dan tak lama setelah saya membaca
karyanya, novel itu difilmkan. Filmnya cukup bagus, tidak ada unsur
kekerasan, pembodohan, dan vulgar dalam film itu. Walaupun banyak cerita
penting di novel yg tidak diangkat ke filmnya. Tapi film ini lebih baik
dari film indonesia lain yg sedang gencar memproduksi film
horror-vulgar waktu itu.
Tidak sengaja saya menemukan acara pendakian masal ke Gunung Guntur. Guntur sekarang menjadi nomer satu gunung paling aktif di Indonesia, Merapi ada diurutan nomer 3 berdasarkan aktivitasnya. Tapi waktu saya kesana di bulan Februari, Guntur masih "tertidur" dari tidur panjangnya selama puluhan tahun. Baca tentang catper saya di Guntur ya -> http://gustyaindracahyadi.blogspot.com/2013/12/selalu-ada-yang-pertama-untuk-segalanya.html
Saya belajar banyak dari perjalanan saya di Guntur, gunung yang katanya mirip dengan Semeru dari segi trek pasirnya. Disana saya bertemu anak kecil yg ikut pendakian. Dia shalat ashar di pinggir trek waktu hujan lebat bersama ibu dan peserta penmas yg menjadi imamnya. Saya yg memang waktu itu sering melalaikan kewajiban saya sebagai muslim merasa tertampar hatinya. Seorang anak kecil, disaat hujan lebat, dipinggir jalur yg curam, beralaskan bebatuan, dia khusuk mendirikan shalatnya. Mulai dari situ saya berjanji tidak akan lalai mendirikan shalat saya. Dan sampai sekarang Alhamdulillah saya bisa menjaga shalat saya. Benar, sekarang saya percaya kita bisa mendapat pembelajaran banyak dari alam. Sejak saat itu, saya terus meneruskan perjalanan saya bersama sahabat saya. Saya melanjutkan perjalanan saya ke Gunung Gede, Sawarna, Gunung Munara, Gunung Salak, dan banyak dapat pelajaran dari setiap perjalanan-perjalanan saya. Saya bertemu teman-teman dari Trashbag Community, komunitas nonformal yg condong membagikan pesan moril untuk menjaga daerah konservasi, khususnya gunung.
Dan akhirnya bersama sahabat saya, saya berangkat ke Semeru. Destinasi yg sudah lama saya impikan. Juni 2013. Saya berangkat dengan beberapa pengalaman saya yg mungkin belum mencukupi ini. Dengan peralatan sederhana tapi buat kami semuanya sudah cukup lengkap dan safety. Saya tidak membuang sampah sedikitpun walau cuma seujung kuku, saya mengumpulkan botol dan kaleng bekas di kalimati, saya rangkai dan saya lilitkan ditubuh saya. Tidak peduli banyak orang yg melihat saya dengan tatapan-tatapan berbeda arti. Dengan coverbag saya yg bertuliskan "GUNUNG BUKAN TEMPAT SAMPAH", saya hanya mencoba memberikan pesan moril kepada pendaki lain. Memang saya tidak membawa semua sampah yg tertumpuk di kalimati waktu itu, karna saya memang tidak mampu untuk membawa semua sampahnya bersama sahabat saya. Saya hanya berdoa semoga pesan saya tersampaikan pada pendaki lain. Ya, Alam ini akan terjaga kelestariannya oleh kita semua. Jangan andalkan "mereka", andalkan "kita" disini.
Tidak saya pungkiri saya termasuk pendaki yg diilhami oleh 5cm. "Selalu ada yg pertama untuk segalanya" kan? Setiap pendaki pasti punya alasan mengapa ingin mencoba mendaki. Entah tergerak hatinya karna ajakan teman, ajakan orangtua, pengaruh media, atau apapun. 5cm-lah yg mengantarkan saya dalam memulai perjalanan-perjalanan saya sampai saat ini. Diantara mereka (pendaki korban 5cm) yg "belum" mengerti, ada kami disini yg tetap menghormati ciptaan-Nya. Karna setiap pendaki dipengalaman pertamanya pasti juga belum tahu banyak. Saling mengingatkan lebih baik daripada saling menyalahkan. Dan melakukan satu tindakan lebih berharga daripada memberikan seribu ucapan. Jangan salahkan 5cm lagi.
Mas coverbag nya beli dimana?
ReplyDeleteTolong info ke saya 081381066548